Romo Keturunan India Diangkat Jadi Uskup di Jerman
Kehadirannya menampilkan keragaman di gereja Katolik yang didominasi uskup berlatar belakang Jerman. Joshy George Pottackal, adalah…
"Rencananya dibuat enam bulan sebelumnya, semuanya dicatat dan dilakukan dengan teliti.” Di India, perencanaan jangka panjang seperti itu tidak ada, di sana semuanya berjalan santai, "dengan ketenangan dan kepercayaan kepada Tuhan”.
Dalam hal ini, Pastor Joshi langsung teringat pada pesta paroki di paroki-paroki di tepi Sungai Neckar dekat Stuttgart, tempat ia bertugas sebagai romo selama beberapa tahun. "Di sana ada stan masakan Polandia, di stan lain ada masakan India."
Nuansa internasional gereja kini juga dirasakan di paroki-paroki pedesaan. Di sana integrasi dalam lingkup gereja tidak jadi masalah. Di lingkungan gereja di Jerman, ia tidak pernah mengalami diskriminasi. Namun, dalam beberapa pertemuan sehari-hari, misalnya di toko-toko, ia kadang-kadang merasa kurang nyaman.
Pottackal juga menceritakan pengalamannya saat melakukan misi di India. Di sana, orang sudah merasa bersyukur jika hanya memiliki tenda untuk beribadah. "Di sana tidak ada yang bertanya: Berapa banyak anak tangga yang harus dimiliki ruang altar? Apakah altar itu terbuat dari kayu atau batu? Apa yang benar, apa yang salah?"
Tapi pertanyaan-pertanyaan adalah hal yang umum di Jerman, kata Romo Joshy. Di India, masih banyak orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari jadi pertanyaan soal tampilan altar bukanlah hal yang penting. Iman bukanlah soal penampilan luar, melainkan soal "hidup bersama sebagai sebuah komunitas dan merayakan Tuhan." Cincin uskup dan tongkat uskup Pottackal bukan terbuat dari emas atau perak, melainkan dari kayu.
Uskup baru yang tetap tinggal di biara
Di pintu kantornya, masih terbungkus plastik pelindung, tergantung jubah uskup berwarna hitam dengan aksen ungu. Ungu adalah warna resmi para uskup Katolik. "Saya tidak harus selalu mengenakan jubah itu,” kata pria berusia 48 tahun itu, "hanya pada acara-acara khusus”.
Bahkan sebagai uskup pembantu, Pottackal akan tetap menjadi biarawan Karmelit dan terus tinggal di biara Karmelit di pusat kota Mainz. Ia telah berakar dalam ordo tersebut sejak berusia 15 tahun, katanya.
Biara itu baginya adalah "keluarga". Saat ini ada delapan biarawan yang tinggal di sana. "Saya sama sekali tidak bisa membayangkan tinggal sendirian di rumah uskup." Ia sangat bersyukur bahwa uskup dan keuskupan langsung memahami keinginannya untuk tetap tinggal di biara. "Di sana saya merasa kerasan."
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Yuniman Farid
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle76291377_403.jpg.jpg)