Konflik Palestina Vs Israel
Mantan Menlu Iran Kamal Kharrazi Gugur sebagai Martir Usai Serangan AS-Israel di Teheran
Iran menyatakan Kamal Kharrazi gugur sebagai martir usai serangan AS-Israel di Teheran, memicu duka dan sorotan eskalasi konflik.
Ringkasan Berita:
- Mantan Menteri Luar Negeri, Kamal Kharrazi wafat setelah dirawat akibat luka serangan di Teheran.
- Iran menyebutnya gugur sebagai martir di tengah konflik memanas.
- Ucapan duka dan sorotan internasional langsung bermunculan.
TRIBUNNEWS.COM - Iran mengumumkan mantan Menteri Luar Negeri, Kamal Kharrazi, gugur sebagai martir setelah meninggal dunia akibat luka yang dideritanya dalam serangan di Teheran.
Serangan yang menargetkan kediamannya terjadi pada 1 April 2026 di Ibu Kota Iran, Teheran.
Pada Jumat (10/4/2026), Al Mayadeen melaporkan, Kharrazi mengalami luka serius dalam serangan tersebut dan sempat menjalani perawatan intensif selama beberapa hari.
Namun, kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Dalam insiden yang sama, istrinya juga dilaporkan tewas di lokasi kejadian.
Serangan dan Kronologi Kejadian
Menurut sumber keluarga, rumah Kharrazi menjadi sasaran langsung dalam serangan yang dikaitkan dengan eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
ILKHA melaporkan, serangan tersebut dipandang sebagai bagian dari pola penargetan terhadap tokoh strategis Iran.
Baca juga: Serangan Iran Hantam Pangkalan AS di Teluk, Akankah Kekuatan Militer Amerika Mulai Runtuh ?
Kematian Kharrazi disebut sebagai dampak langsung dari luka yang dideritanya setelah serangan tersebut.
Figur Penting Diplomasi Iran
Kharrazi dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam kebijakan luar negeri Iran selama beberapa dekade.
Ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Iran pada 1997 hingga 2005.
Setelah itu, ia memimpin Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri sejak 2006.
Lembaga tersebut berperan dalam memberikan analisis kebijakan global kepada pimpinan Iran.
Ucapan Duka dan Kutipan Langsung
Ucapan belasungkawa datang dari berbagai pihak, termasuk Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim.
Dalam pernyataannya, Anwar mengatakan, “Dunia telah kehilangan seorang diplomat luar biasa, sementara saya kehilangan sahabat terkasih.”
Ia menambahkan, “Ini adalah pengingat menyakitkan tentang biaya mengerikan dari perang yang sedang berlangsung.”