Mohamed Salah: Perjalanan karier 'si Raja Mesir' dari Nagrig ke Liverpool
Jejak Mohamed Salah ada di mana-mana, anak-anak nampak berlarian mengenakan kaus Liverpool dan Mesir dengan nama dan nomor punggung…
"Saya masih merasakan kegembiraan ayah saya ketika menonton Salah," ungkapnya.
"Setelah Salah bergabung dengan Liverpool, kami biasa menonton setiap pertandingan di televisi bersama-sama."
Kafe itu dinamai berdasarkan profesi si pemilik sebelumnya dan sekarang menjadi tempat berkumpul para penggemar Liverpool menonton pertandingan di layar lebar.
Lamisse sedang mengenakan kaus Liverpool dengan nama sang ayah di bagian belakang.
"Sayangnya, beliau meninggal dua tahun lalu," imbuhnya.
"Setiap pertandingan Liverpool adalah momen paling membahagiakan di rumah kami, Meskipun saya harus melewatkan sebagian pertandingan karena berangkat sekolah atau bekerja, ayah saya biasa mengirimkan pesan singkat berisi jalannya pertandingan menit demi menit."
"Salah tidak berasal dari keluarga berada. Ia benar-benar bekerja keras dan banyak berkorban untuk mencapai posisinya sekarang. Banyak dari kami merasa bisa melihat diri kami dalam dirinya."
'Semua anak ingin menjadi Salah'
Desa Nagrig di Delta Sungai Nil, Mesir, dikelilingi hamparan ladang hijau yang ditanami melati dan semangka. Kerbau, sapi, dan keledai berbagi jalan tanah dengan mobil, sepeda motor, dan kereta yang ditarik kuda.
Di sinilah salah satu penyerang terbaik dan paling produktif di dunia, yang dikenal dengan julukan 'Raja Mesir', menghabiskan masa kecilnya.
"Keluarga Salah adalah fondasi dan rahasia di balik kesuksesannya," sebut El-Saadany.
Dia menyebut dirinya sebagai pelatih pertama Salah, yang membimbingnya ketika pemain itu masih berusia delapan tahun.
"Keluarga Salah masih tinggal di sini dengan sederhana, menjunjung nilai-nilai dan rasa hormat. Itulah salah satu alasan mengapa orang-orang sangat menyukai mereka," imbuhnya.
Pusat pelatihan pemain muda di Nagrig baru-baru ini mendapatkan peningkatan yang sangat bagus sebagai bentuk penghormatan kepada putra desa yang paling terkenal. Lapangan hijau di sana bahkan terlihat seperti lapangan latihan profesional.
"Mereka [keluarga Salah] telah banyak berkorban ketika dia masih muda," ujar El-Saadany, yang berdiri di samping foto besar Mo Salah yang tergantung di belakang salah satu gawang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BBC-Indonesia6dc26f10-29e3-11f1-9def-51999882d8d7.jpg.jpg)