Festival Film Jelek: Ruang Alternatif bagi Sineas Pemula
Dari berbagai penolakan, lahirlah Festival Film Jelek. Festival ini jadi ruang alternatif bagi para sineas muda untuk berani berkarya,…
Di tengah rutinitasnya menjual kamera analog di Pasar Gembrong, Jakarta Timur, Juan Hendry menyimpan mimpi lamanya untuk berkarier di dunia film. Waktu kecil, dia pernah bermain dalam sejumlah sinetron. Pengalaman itu menumbuhkan ketertarikannya pada proses pembuatan film. Di sela mengelola tokonya, Juan kerap membuat film bersama teman-temannya, tapi karya-karya mereka tak pernah lolos ke festival film mana pun di Indonesia.
Kekecewaan yang muncul justru mendorong Juan menggagas Festival Film Jelek, sebuah ruang alternatif untuk sineas pemula yang merasa tersisih dari festival arus utama.
Menurut Juan, ruang pemutaran untuk pembuat film pemula masih sangat minim. Ia berharap festivalnya bisa menjadi wadah apresiasi, ruang belajar, sekaligus gerakan kecil untuk memantik keberanian sineas-sineas baru untuk berkarya tanpa takut menjadi bahan ejekan.
Festival Film Jelek: Ruang apresiasi bagi film perdana
Festival Film Jelek pertama kali digelar pada 28 Februari 2026. Ada 12 film yang ditayangkan, di antaranya Dukun Connection, Azab Caleg, dan Joyandi & Badut Bisu.
“Saya bikin film dengan teman-teman dan sudah daftar ke berbagai festival tapi ditolak, mungkin karena dianggap jelek. Ya sudah, saya bikin Festival Film Jelek agar film itu bisa tayang,” ujarnya.
Menurut Juan, festival perdana ini dibuat tanpa rencana matang. Meski begitu, Juan mengaku mendapat sambutan positif sehingga ia pun serius untuk mempersiapkan edisi kedua. Tahun ini, ia menerima sebanyak 270 film yang dikurasi untuk ditayangkan. Juan menekankan bahwa proses kurasi tidak mengikuti standar rumit layaknya festival besar.
“Film yang diterima bisa jadi yang ditolak di festival lain atau yang jelek secara teknis, cerita, maupun akting. Sebenarnya hampir tidak ada standar,” katanya.
Selain itu, tidak ada biaya pendaftaran wajib. Peserta cukup memberi sumbangan seikhlasnya untuk operasional acara. Film terpilih nantinya diputar dan dibahas bersama penonton untuk dibedah kekurangan serta proses kreatifnya. Format ini menciptakan ruang belajar yang aman, tanpa rasa takut dihakimi.
Tantangan sineas pemula di Indonesia
Salah satu film yang diputar tahun ini berjudul Sepi, karya perdana Darren Farid Khairan, mahasiswa film tahun kedua yang juga mantan aktor cilik. Keinginannya beralih menjadi sutradara tidak sepenuhnya berjalan mulus.
“Dosen saya bilang filmnya 'gelap banget', ceritanya juga enggak jelas. Akhirnya saya terima kalau film saya jelek. Semua orang ingin membuat karya maksimal, tapi banyak keterbatasan, terutama biaya,” kata Darren.
Ia menyadari bahwa ruang belajar di luar sekolah film formal masih sangat kurang. Baginya, kesempatan berjejaring dengan sineas lain sama pentingnya dengan kemampuan teknis. Selain itu, ia butuh ruang apresiasi meski karyanya belum sempurna.
"(Festival ini) kasih kami semua ruang buat film-film pertama kami, film-film gagal kami, film-film yang kami sendiri tidak pede sama film itu," ujar Darren.
Membangun ruang inklusif bagi pembuat film baru
Sutradara Aco Tenri pun pernah mengalami tantangan serupa. Sebelum merilis film panjang perdananya, Suka Duka Tawa, banyak karya pendeknya yang ditolak festival. Menurut Aco, kemudahan akses informasi di internet memang membantu, tapi tidak menggantikan kebutuhan bertemu penonton secara langsung.
“Ruang seperti Festival Film Jelek penting untuk pembuat film pemula yang butuh masukan. Karena penonton datang dengan ekspektasi rendah, film yang ditampilkan justru bisa terasa lebih baik,” ujar Aco.
Festival pemula biasanya digagas komunitas film dalam bentuk diskusi kecil. Ruang semacam ini mempertemukan sineas, membuka peluang kolaborasi, dan memberikan perspektif baru terhadap proses berkarya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle76564389_403.jpg.jpg)