'Semua kendaraan harus tenaga listrik' – Dua kendala besar mewujudkan ide Presiden Prabowo
Presiden Prabowo Subianto berencana mengonversi semua kendaraan berbahan bakar bensin menjadi tenaga listrik di tengah krisis energi…
Presiden Prabowo Subianto berencana mengonversi semua kendaraan berbahan bakar bensin menjadi tenaga listrik di tengah krisis energi dunia. Presiden berujar, gagasan itu merupakan 'game changer'. Menurut pengamat, agar ide tersebut bisa diwujudkan, ada sejumlah kendala yang harus diatasi.
Dalam diskusi bersama sejumlah pentolan media nasional, setidaknya ada dua tujuan Presiden Prabowo dalam gagasan konversi mobil listrik. "Saya ingin total [dalam kendaraan] listrik," ungkap Prabowo dalam diskusi itu.
Lebih lanjut, Prabowo menggagas, "Semua motor kita akan konversi menjadi motor listrik, semua mobil, semua truk, semua traktor harus tenaga listrik."
Tujuan dalam sudut pandang ekonomi, tertuang dalam perkataan Prabowo yang menyebut "Jadi nanti orang kaya yang punya Lamborghini, Ferari, silakan lo pakai bensin lo bayar aja [sesuai] harga [minyak] dunia."
Sementara, cita-citanya adalah sumber listrik itu berasal dari sumber energi terbarukan, seperti yang ia ungkap, "Saya inginnya listriknya itu dari [tenaga] matahari."
Kata Presiden Prabowo dalam diskusi di akun YouTube-nya yang berjudul 'Presiden Prabowo Menjawab!!!', paling tidak dalam dua tahun, Indonesia harus punya pembangkit listrik tenaga surya yang menghasilkan 100 GW (Gigawatt) listrik.
Di pinggiran Jakarta, masuk gang sempit berkelok, Haliman, 55 tahun, pengemudi ojek daring, sesekali memencet klakson agar orang-orang di gang itu tahu bahwa ada motor yang sedang melaju.
Hal itu ia lakukan karena suara mesin sepeda motornya nyaris tak terdengar orang-orang di sekitarnya.
Haliman mengaku mengeluarkan uang untuk mengisi daya listrik motornya tak lebih dari Rp10.000. "Sebelum pakai motor listrik, setiap hari isi bensin Rp60.000, sekarang ngecas sampai baterai penuh empat jam, cuma keluar Rp8.000," kata Haliman.
Haliman kini bisa menghemat hampir 90% pengeluarannya untuk bahan bakar kendaraannya semenjak beralih ke tenaga listrik.
Namun, setiap hari Haliman harus menyediakan uang sebesar Rp55.000 untuk mencicil motor listriknya itu selama 1,5 tahun, dalam skema kredit sepeda motor listrik yang ia ambil.
Motor listrik yang ia beli bergaransi dua tahun, sementara untuk baterainya bergaransi lima tahun. "Kalau sudah lepas masa garansi, terus baterai rusak, harganya bisa sampai puluhan juta," tambahnya.
Motor listrik Haliman adalah satu dari 236.000 motor lisrik di Indonesia.
Angka itu sangat mini jika dibandingkan dengan 139.450.013 sepeda motor berbahan bakar fosil di Indonesia, menurut data Badan Pusat Statistik Nasional (BPS).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BBC-Indonesia4854f420-29e6-11f1-81d4-f1e3c77fafb4.jpg.jpg)