Minggu, 26 April 2026
Deutsche Welle

Pekerja Indonesia: Sudah Kerja Keras dan Lembur, Kenapa Hidup Belum Sejahtera?

Banyak pekerja Indonesia bekerja lebih dari 40 jam seminggu, bahkan lembur hampir setiap hari. Namun, apakah kerja keras itu benar-benar…

Deutsche Welle
Pekerja Indonesia: Sudah Kerja Keras dan Lembur, Kenapa Hidup Belum Sejahtera? 

Ungkapan ini mungkin terdengar seperti candaan, tetapi bagi banyak orang ia mencerminkan kenyataan bahwa waktu istirahat sering kali ikut terserap oleh pekerjaan. Ketika hari libur pun masih diisi pekerjaan atau memikirkan pekerjaan berikutnya, kelelahan bisa terus menumpuk dari hari ke hari tanpa waktu pemulihan yang cukup.

“Kita ini tubuh manusia, bukan mesin. Mesin saja harus diistirahatkan, apalagi manusia,” kata Jumisih.

Menurutnya, kelelahan akibat jam kerja panjang tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga mental dan psikologis. Ketika pekerja terus bekerja dalam durasi panjang tanpa istirahat yang memadai, risiko kesehatan pun meningkat.

“Jam kerja yang terlalu panjang bisa memicu penyakit akibat kerja dan juga meningkatkan risiko kecelakaan kerja karena tubuh sudah terlalu lelah,” ujarnya.

Temuan ini sejalan dengan kajian global yang diterbitkan pada 2021 oleh International Labour Organization bersama World Health Organization. Studi tersebut menganalisis data dari 194 negara dan menemukan bahwa orang yang bekerja lebih dari 55 jam per minggu memiliki risiko lebih tinggi mengalami stroke dan penyakit jantung. Penelitian itu juga memperkirakan sekitar 745.000 kematian setiap tahun di dunia berkaitan dengan jam kerja yang terlalu panjang.

Karena itu, menurut Jumisih, jam kerja tidak seharusnya hanya dilihat dari sisi ekonomi sempit. “Jam kerja bukan hanya soal berapa banyak kita bisa menghasilkan, tetapi juga soal kesehatan dan kualitas hidup pekerja. Kalau waktu habis untuk bekerja, tubuh lelah, dan tidak ada waktu untuk istirahat, dampaknya akan kembali ke pekerja itu sendiri,” katanya.

Produktivitas bukan sekadar soal keterampilan pekerja

Ketika produktivitas dibahas, pekerja kerap menjadi pihak yang paling sering disorot. Namun, Deniey Adi Purwanto, dosen di Institut Pertanian Bogor, melihat persoalan ini tidak sesederhana itu.

“Produktivitas bukan hanya soal pekerjanya. Ia juga dipengaruhi oleh struktur industri, teknologi yang digunakan, dan bagaimana pekerjaan itu diorganisasi,” ujarnya.

Menurut Deniey, banyak pekerja Indonesia sebenarnya bekerja di sektor yang memang memiliki nilai tambah relatif rendah, seperti pertanian tradisional, perdagangan kecil, atau berbagai bentuk usaha informal.

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada Februari 2025 sekitar 59,4% pekerja, sekitar 86,6 juta orang, masih bekerja di sektor informal.

“Sektor informal biasanya usaha kecil, akses modal terbatas, dan teknologinya sederhana. Dalam kondisi seperti itu, nilai yang dihasilkan per pekerja juga cenderung rendah,” jelasnya.

Artinya, menurut Deniey, persoalan produktivitas tidak semata-mata karena pekerja tidak mampu bekerja dengan baik. Sektor tempat mereka bekerja juga sangat menentukan.

Ia juga menambahkan bahwa banyak usaha, terutama usaha kecil dan menengah, masih menggunakan teknologi produksi yang sederhana. “Tanpa dukungan teknologi dan manajemen produksi yang lebih baik, peningkatan produktivitas akan berjalan lambat,” tambahnya.

Mengapa bekerja keras saja tidak cukup?

Jika banyak orang bekerja lebih lama, tetapi produktivitas per jam tetap rendah, mungkin persoalannya bukan sekadar pada lamanya waktu kerja.

Deniey menilai salah satu tantangan lain berkaitan dengan hubungan antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja. “Produktivitas di ekonomi modern sangat bergantung pada keterampilan teknis dan kemampuan menggunakan teknologi. Ketika keterampilan tenaga kerja tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan industri, produktivitas sulit meningkat,” katanya.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved