Melihat Peran Pakistan dalam Gencatan Senjata AS–Iran
AS, Israel, dan Iran sepakat melakukan gencatan senjata selama dua minggu setelah Pakistan menjadi mediator, sebuah pencapaian diplomatik…
"Masih belum pasti apakah AS akan mampu menahan Israel dan memastikan bahwa gencatan senjata mengarah pada stabilitas regional yang lebih luas," tegas Hussain.
Apa yang dapat menggagalkan gencatan senjata?
Trump mengatakan bahwa Iran telah mengajukan 10 poin proposal yang menurutnya merupakan "dasar yang dapat diterapkan untuk bernegosiasi."
Pemimpin AS itu juga mengeklaim bahwa kesepakatan telah tercapai pada "hampir semua poin perselisihan sebelumnya," meski tidak menjelaskan lebih lanjut.
Keberhasilan gencatan senjata, baik jangka pendek maupun panjang, sangat bergantung pada pembukaan Selat Hormuz, yang ditutup oleh rezim garis keras Iran setelah AS dan Israel mulai menyerang target militer dan kepemimpinannya pada 28 Februari lalu.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan kapal boleh melintas di Selat Hormuz di bawah pengawasan militer Iran. Sementara itu, Donald Trump mengatakan AS akan membantu mengatasi penumpukan lalu lintas kapal di selat tersebut.
Kemungkinan akan ada beberapa poin penting lainnya yang menjadi kendala dalam pembicaraan antara delegasi AS dan Iran. Salah satunya adalah program nuklir Iran dan persediaan uranium yang menurut Trump harus dihapus.
"Negosiasi ini akan sangat sulit,” kata Ali K. Chishti, analis keamanan berbasis di Riyadh, kepada DW. "Pembicaraan juga akan mempertimbangkan masalah ekonomi Iran dan kemungkinan pemberian keringanan sanksi bagi Teheran, sebagai imbalan atas kerja sama menjaga keamanan Selat Hormuz," tambahnya.
Aktor diplomasi yang kredibel
Chishti mengatakan Pakstan juga sedang menyiapkan "rencana terpisah” untuk kesepakatan antara Iran dan negara-negara Teluk, agar Iran tidak menyerang tetangganya di masa depan.
Namun, ia menilai kecil kemungkinannya bagi Arab Saudi dan negara Teluk untuk terlibat langsung jika Iran keluar dari kesepakatan gencatan senjata.
"Ada perhitungan untung-rugi di Riyadh. Bergabung dalam kampanye melawan Iran justru akan lebih merugikan Saudi,” ujarnya.
Sementara itu, Ahmed menilai meski Iran tidak sepenuhnya memenuhi komitmennya, Pakistan masih punya ruang untuk mendorong penahanan diri dan membuka kembali dialog.
"Efektivitasnya tetap bergantung pada kemauan kedua pihak untuk berunding dengan itikad baik. Jika pelanggaran terus berlanjut, pengaruh Pakistan memang akan menyempit, tapi tetap bisa menjadi salah satu aktor kredibel untuk membuka komunikasi dan mencegah konflik meluas.”
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Iryanda Mardanuz
Editor: Prihardani Purba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle76676114_403.jpg.jpg)