Selasa, 21 April 2026
Deutsche Welle

Ancaman Ranjau di Selat Hormuz, Seberapa Berbahaya?

Iran menyatakan telah menempatkan ranjau di Selat Hormuz untuk mencegah lalu lintas kapal yang tidak diinginkan. Seberapa berbahaya…

Deutsche Welle
Ancaman Ranjau di Selat Hormuz, Seberapa Berbahaya? 

"Kami sebagian besar menggunakan sistem otonom untuk menyisir dasar laut,” kata Kapten Fregat Andreas dari Skuadron Penyapu Ranjau ke-3 Angkatan Laut Jerman kepada DW. Demi alasan keamanan, hanya nama depannya yang boleh dipublikasikan.

"Dulu, kapal yang dilengkapi dengan sistem sonar harus melintas tepat di atas area yang diduga terdapat ranjau untuk mendeteksinya,” kata Andreas. "Dengan sistem otonom, 40 nyawa itu tidak lagi harus ditempatkan pada situasi yang berisiko langsung."

Teknologi ini juga sangat mengurangi kebutuhan personel manusia. Drone secara mandiri mengirim rekaman dari dasar laut ke stasiun untuk dianalisis. Namun, manusia tetap dibutuhkan untuk membedakan antara sampah tak berbahaya dan ranjau mematikan, serta menentukan cara menangani bahan peledak yang ditemukan.

Menurut Andreas, penggunaan drone membuat Angkatan Laut secara keseluruhan lebih efisien. Namun, membersihkan suatu wilayah laut dari ranjau setelah perang tetap bisa memakan waktu puluhan tahun, bahkan lebih lama.

Artyom, penyapu ranjau Ukraina lainnya di Laut Hitam, membenarkan hal itu.

"Kami masih menemukan ranjau dari Perang Dunia II, bahkan beberapa dari Perang Dunia I,” katanya. "Itu menunjukkan masih ada pekerjaan yang menanti kami di depan.”

Apakah penggunaan drone terlalu sulit di Selat Hormuz?

Kapasitas baterai drone yang digunakan Angkatan Laut Jerman masih terbatas untuk dioperasikan di laut terbuka. Untuk saat ini, drone harus diluncurkan tidak jauh dari area yang akan disisir.

"Anda harus selalu berada di dekat area operasi,” kata Andreas. "Itu akan sulit di kawasan sensitif seperti Selat Hormuz. Senjata Iran memiliki jangkauan jauh, dan kami harus melindungi personel kami.”

Sejumlah perusahaan kini mengembangkan drone yang dapat beroperasi lebih lama. Salah satunya Euroatlas dari Bremen, Jerman utara. Perusahaan itu mengeklaim drone bawah air Greyshark saat ini mampu melaju 10 knot (18,5 kilometer per jam) selama enam jam, atau 4 knot selama tiga kali lebih lama.

Euroatlas mengumumkan versi otonom bertenaga baterai akan mulai diproduksi pada September 2026. Produksi massal model berikutnya yang dilengkapi sistem sel bahan bakar untuk operasi hingga satu minggu diperkirakan dimulai akhir tahun.

Drone Greyshark berpotensi segera dikerahkan

Chief Sales Officer untuk autonomous underwater vehicles (AUV) di Euroatlas, Markus Beer, menjelaskan kepada DW bagaimana drone Greyshark dapat berguna dalam krisis di perairan Iran saat ini.

"Kapal di Selat Hormuz berisiko terkena serangan dari darat,” katanya, "Termasuk kapal pemburu ranjau. Namun, pengintaian bawah air (dengan drone) masih bisa dilakukan, tanpa risiko dan tanpa memperkeruh situasi.”

Beer menambahkan, keunggulan Greyshark adalah jangkauan operasinya yang lebih luas sehingga dapat diluncurkan dari jarak aman.

"Drone kecil yang saat ini digunakan untuk berburu ranjau hanya mampu bertahan beberapa jam,” katanya. "Drone Greyshark bisa menjangkau jarak yang lebih jauh,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa drone ini juga mampu mengambil gambar beresolusi tinggi dan secara mandiri mengidentifikasi objek di dasar laut.

September lalu, Euroatlas mendemonstrasikan kemampuan drone bawah air Greyshark dalam ajang terkemuka dunia untuk menguji sistem maritim nirawak, Robotic Experimentation and Prototyping using Maritime Unmanned Systems (REPMUS), yang digelar di lepas pantai Portugal.

Artikel ini diadaptasi dari artikel DW bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Algadri Muhammad

Editor: Hani Anggraini

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved