Jumat, 1 Mei 2026
Deutsche Welle

Belgia Dorong Nasionalisasi Pembangkit Listrik Nuklir

Belgia mengubah kebijakan energinya setelah puluhan tahun menjauh dari tenaga nuklir, dengan kembali mengaktifkan pembangkit nuklir…

Tayang:
Deutsche Welle
Belgia Dorong Nasionalisasi Pembangkit Listrik Nuklir 

Pemerintah Belgia pada Kamis (30/04) menandatangani nota kesepahaman awal untuk mengambil alih seluruh aset dan pengelolaan pembangkit listrik tenaga nuklir milik Electrabel (ENGIE) di negara tersebut.

Langkah ini menandai perubahan dari undang-undang awal 2000-an yang membatasi penggunaan energi nuklir, yang sebelumnya diberlakukan karena kekhawatiran keselamatan.

Perdana Menteri Belgia Bart De Wever mengatakan bahwa kebijakan ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil serta memperkuat kendali negara atas pasokan energi dalam negeri.

Perubahan arah kebijakan nuklir Belgia

Pemerintah Belgia tengah berunding dengan ENGIE mengenai pengambilalihan tujuh pembangkit listrik tenaga nuklir yang selama ini dikelola perusahaan tersebut. Pembahasan yang ada mencakup tenaga kerja, aset pembangkit, serta tanggung jawab lain seperti pengelolaan limbah nuklir.

"Pemerintahan ini memilih energi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan,” ujar De Wever terkait rencana tersebut. "Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil dan memperkuat kendali atas pasokan energi nasional.”

Dari tujuh reaktor yang ada, hanya dua yang saat ini masih beroperasi dan menghasilkan listrik. Kesepakatan ini akan menghentikan rencana pembongkaran terhadap reaktor-reaktor lainnya.

Rencana nasionalisasi tersebut menyusul keputusan Belgia tahun lalu untuk mencabut kebijakan pengurangan tenaga nuklir yang telah berlaku selama sekitar dua dekade. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah juga berupaya memperpanjang masa pakai reaktor nuklir tertua di negara itu. Langkah-langkah ini dipicu oleh melonjaknya harga energi setelah pecahnya perang di Ukraina.

Pada 2003, Senat Belgia sempat mengesahkan undang-undang yang melarang pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir baru dan membatasi masa penggunaan reaktor yang ada hingga 40 tahun karena kekhawatiran terkait keselamatan.

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), kontribusi tenaga nuklir terhadap produksi listrik di Belgia turun dari sekitar 60% pada awal 2000-an menjadi sekitar 40% saat ini.

Eropa mulai kembali ke energi nuklir?

Dalam dua bulan terakhir, perang di Iran mendorong lonjakan harga energi di berbagai belahan dunia. Kondisi ini menambah tekanan pada pasar energi Eropa, yang sebelumnya sudah terdampak setelah kawasan tersebut mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil Rusia pascainvasi Rusia ke Ukraina.

Blokade yang masih berlangsung di Selat Hormuz turut memperketat pasokan energi global, sehingga inflasi energi di Belgia meningkat hingga 10,6% pada April, menurut laporan kantor berita Belgia.

Sebagai kawasan yang masih mengimpor sebagian besar kebutuhan energinya, Eropa kini berupaya kembali mengembangkan tenaga nuklir dalam negeri untuk menstabilkan pasokan dan harga energi.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen bulan lalu menyatakan bahwa keputusan terdahulu Eropa untuk menjauh dari energi nuklir merupakan sebuah "kesalahan strategis.”

Dalam survei Uni Eropa tahun 2024, sekitar 56% warga Uni Eropa meyakini bahwa energi nuklir akan berdampak positif terhadap kehidupan mereka dalam 20 tahun ke depan, sementara 35% lainnya berpandangan negatif.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Pratama Indra

Editor: Adelia Dinda Sani

Sumber: Deutsche Welle
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved