8.549 Pasukan Zionis Jadi Korban usai Perang Lawan Iran, Militer Israel Dihantam Krisis Internal
Jumlah korban cedera akibat operasi militer Israel di kawasan terus meningkat, sementara peringatan serius soal krisis tenaga kerja
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Kementerian Kesehatan Israel melaporkan total 8.549 pasukan zionis Israel jadi korban usai perang melawan Iran.
Ribuan korban tersebut dilaporkan dalam kasus cedera yang tercatat di rumah sakit sejak dimulainya Operasi Roaring Lion pada 28 Februari 2026, sebuah operasi militer yang menargetkan wilayah Lebanon dan Iran.
Data terbaru yang dirilis Kamis malam (30/4/2026) menyebutkan tambahan 36 kasus cedera dalam satu hari, sehingga angka kumulatif mencapai 8.549 kasus per 30 April pukul 23.53 (waktu setempat).
Menurut kementerian, sebanyak 648 kasus cedera berasal dari front utara pasca gencatan senjata dengan Iran, yang tersebar di sejumlah rumah sakit di Israel.
Sementara itu, 230 cedera lainnya tercatat setelah gencatan senjata dengan Lebanon, menunjukkan bahwa dampak konflik masih berlanjut meski kesepakatan penghentian sementara pertempuran telah diberlakukan.
Pihak kementerian juga mencatat bahwa lonjakan tertinggi pasca-gencatan senjata dengan Iran terjadi dalam satu hari dengan 36 kasus cedera, yang berkontribusi terhadap akumulasi korban di front utara selama periode tersebut, mengutip Al Mayadeen, Jumat (1/5/2026).
Di sisi lain, situasi di dalam militer Israel turut menjadi sorotan.
Baca juga: Serangan Israel di Lebanon Selatan Meningkat, Hizbullah Tembak Jatuh Drone Pasukan Zionis
Pengamat menilai adanya krisis tenaga kerja yang semakin dalam, tidak hanya terkait kekurangan jumlah personel, tetapi juga masalah struktural yang memengaruhi kesiapan tempur.
Potensi Konflik Internal Militer Israel
Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, dilaporkan telah memperingatkan potensi keruntuhan internal dalam tubuh militer Israel.
Ia bahkan menyampaikan akan memberikan sepuluh bendera merah kepada kabinet keamanan terkait kondisi tersebut di tengah berlangsungnya konflik multi-front.
Zamir mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah legislatif, termasuk reformasi kebijakan wajib militer, pengelolaan pasukan cadangan, serta perpanjangan masa dinas wajib.
Namun hingga kini, laporan menyebutkan belum ada respons konkret dari pemerintah terhadap peringatan tersebut.
Kondisi ini menambah kompleksitas situasi keamanan Israel, di tengah tekanan eksternal dari konflik bersenjata dan tantangan internal yang kian mengemuka.
Hizbullah Makin Intensif Serang Israel
Di tengah kondisi tersebut, kelompok Hizbullah dilaporkan semakin mengintensifkan operasinya di wilayah selatan Lebanon.
Media Israel menyebut kelompok itu memanfaatkan keterbatasan operasional militer Israel untuk terus menekan di garis depan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/prajurit-cadangan-militer-Israel-IDF-menangis.jpg)