Sabtu, 16 Mei 2026
Deutsche Welle

Perang Iran jadi Ujian Berat bagi Diplomasi Multiblok India

India selama ini bangga mampu menjaga hubungan seimbang dengan negara-negara Timur Tengah yang saling berseteru. Namun, perang Iran…

Tayang:
Deutsche Welle
Perang Iran jadi Ujian Berat bagi Diplomasi Multiblok India 

Ia juga menolak anggapan bahwa India menghadapi pilihan hitam-putih antara keamanan energi dan kemitraan strategis.

“Faktanya, dalam beberapa tahun terakhir kami mampu menavigasi persoalan semacam ini sambil tetap mengamankan pasokan energi dan menjaga hubungan baik dengan Israel maupun Amerika Serikat. Sejarah terbaru menunjukkan kebijakan India terkait keamanan energi dijalankan dengan penuh kehati-hatian dan kebijaksanaan,” ujarnya.

Tekanan meningkat ketika cadangan minyak India mulai menipis

Kemampuan India mempertahankan strategi diplomatik multiblok juga bergantung pada ketahanan ekonomi. New Delhi akan semakin kewalahan menanggung dampak finansial dari konflik kawasan yang berkepanjangan.

Negara-negara Teluk memasok sebagian besar kebutuhan minyak mentah dan gas alam India. Lebih dari sembilan juta warga India tinggal dan bekerja di kawasan Teluk, sementara remitansi mereka memiliki keterkaitan besar dengan perekonomian domestik India.

Selat Hormuz jadi titik tekanan paling nyata. Sedikit saja gangguan akan mampu mengguncang perhitungan impor India, biaya asuransi, inflasi, hingga stabilitas keuangan India.

New Delhi merespons situasi tersebut dengan mendiversifikasi pemasok energi dan mengerahkan Angkatan Laut India untuk melindungi jalur pelayaran komersial. Namun, kedua langkah itu tidak murah. Cadangan minyak strategis India mungkin mampu meredam guncangan sementara, tetapi tidak dirancang untuk menghadapi konflik Teluk yang berkepanjangan.

Mantan Dubes India untuk Iran: India harus tetap netral

Gaddam Dharmendra, mantan Duta Besar (Dubes) India untuk Iran, mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir India konsisten memperluas “hubungan dekat secara historis” dengan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Oman, dan Bahrain.

“Karena itu, New Delhi akan menghindari keberpihakan di tengah garis perpecahan baru yang mulai muncul,” kata Gaddam kepada DW.

“Sebagai negara pengimpor energi bersih, prioritas strategis India adalah memperkuat rantai pasok hidrokarbonnya. Gangguan di Selat Hormuz dan kerusakan infrastruktur energi di kawasan negara Teluk telah memberi tekanan besar terhadap ketergantungan India pada kawasan tersebut,” lanjut Gaddam.

Gaddam menilai India kemungkinan akan melakukan penyesuaian dalam strategi diplomasi multiblok, tetapi tidak sepenuhnya menanggalkan strategi tersebut.

“Dalam situasi seperti ini, Amerika Serikat yang kini menjadi eksportir besar minyak dan LNG, memiliki peran dalam bauran impor energi India. Karena itu, situasi ini bisa dilihat sebagai kondisi yang sama-sama menguntungkan,” ujarnya.

Gaddam juga menilai, mempertahankan “sikap netral tidak selalu mudah, tetapi kini menjadi kebutuhan” seiring perubahan geopolitik di kawasan Teluk.

India condong ke AS-Israel?

Pertanyaan paling rumit bukan lagi soal pihak yang akan dipilih India secara resmi, melainkan terkait akumulasi keputusan-keputusan yang selama ini menyiratkan keberpihakan New Delhi.

Shanthie Mariet D’Souza, pendiri Mantraya, forum riset independen, mengatakan bahwa India secara historis menggunakan konsep otonomi strategis sebagai pendekatan fleksibel yang mampu mengakomodasi hubungan-hubungan yang saling bertentangan.

“Konsep itu sendiri sebenarnya belum berada di bawah tekanan. Namun, kemampuan India menjaga keseimbangan hubungan dengan sekelompok negara yang sedang bersitegang mulai menghadapi tekanan besar. Bahkan nyaris mustahil dipertahankan jika perang terus berlarut,” kata Shantie kepada DW.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved