Netanyahu Mau Putus Ketergantungan ke AS, Israel Siap Tolak Bantuan Rp 62 Triliun per Tahun
Netanyahu kini justru mengumumkan rencana untuk mengakhiri seluruh bantuan finansial Amerika Serikat dalam kerja sama militer kedua negara.
Ringkasan Berita:
- Hubungan Amerika Serikat dan Israel dikenal sebagai salah satu aliansi paling erat sejak berakhirnya Perang Dunia II.
- Israel menjadi penerima bantuan luar negeri terbesar dari AS secara kumulatif, termasuk akses ke persenjataan canggih di Timur Tengah.
- Kedekatan ini membuat Israel kerap disebut sebagai pos terdepan imperialisme Amerika oleh kalangan kiri dan anti-imperialis.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hubungan khusus antara Amerika Serikat dan Israel selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu aliansi paling erat di dunia.
Sejak berakhirnya Perang Dunia II, Israel menjadi penerima bantuan luar negeri terbesar dari Amerika Serikat secara kumulatif dan termasuk sedikit negara yang mendapat akses terhadap persenjataan paling canggih Washington di kawasan Timur Tengah.
Kedekatan tersebut bahkan membuat Israel kerap disebut sebagai “pos terdepan imperialisme Amerika di Timur Tengah” dalam kalangan kiri dan anti-imperialis.
Namun, perubahan dinamika politik di dalam negeri Amerika Serikat, khususnya di basis pendukung Presiden Donald Trump, mulai memunculkan sorotan terhadap besarnya bantuan finansial Washington kepada Israel.
Saat ini, bantuan Amerika Serikat kepada Israel diatur dalam kesepakatan 10 tahun untuk periode 2019–2028. Dalam perjanjian tersebut, total bantuan mencapai 38 miliar dollar AS atau setara 3,8 miliar dollar AS per tahun.
Pada dekade sebelumnya, yakni 2010–2018, Israel menerima bantuan sekitar 3 miliar dollar AS setiap tahun. Data tersebut tercatat dalam laporan Congressional Research Service yang memantau tren pengeluaran militer Amerika Serikat.
Di tengah perubahan arah politik di Washington dan perang yang masih berlangsung di Timur Tengah, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kini justru mengumumkan rencana untuk mengakhiri seluruh bantuan finansial Amerika Serikat dalam kerja sama militer kedua negara.
Pernyataan itu disampaikan Netanyahu dalam wawancara dengan jaringan televisi Amerika CBS News. Ia mengaku telah membicarakan gagasan tersebut langsung dengan Presiden Donald Trump.
Netanyahu mengatakan Israel harus mulai mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap bantuan langsung Amerika Serikat. Bahkan, ia ingin proses tersebut dimulai sekarang juga.
Ketika ditanya apakah sudah waktunya Israel meninjau ulang hubungan finansial dengan Amerika Serikat, Netanyahu menjawab, “Tentu saya sudah berbicara kepada Presiden Trump..."
Ia melanjutkan, "Saya ingin mengurangi hingga nol dukungan keuangan Amerika, komponen keuangan dari kerja sama militer yang kita miliki. Karena kita menerima—kita menerima $3,8 miliar per tahun. Dan saya—saya pikir sudah saatnya kita melepaskan diri dari dukungan militer yang tersisa.”
Saat diminta menjelaskan tenggat waktunya, Netanyahu berkata, “Mari kita mulai sekarang dan melakukannya selama dekade berikutnya, selama sepuluh tahun ke depan, tetapi saya ingin mulai sekarang. Saya tidak ingin menunggu Kongres berikutnya. Saya ingin mulai sekarang.”
Pernyataan tersebut dinilai signifikan karena secara historis Israel merupakan penerima bantuan luar negeri terbesar Amerika Serikat sejak akhir Perang Dunia II.
Bantuan luar negeri Washington sendiri dialokasikan setiap tahun oleh Kongres berdasarkan kepentingan keamanan nasional, ekonomi, dan kemanusiaan.
Dana tersebut kemudian disalurkan kepada pemerintah negara lain, organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Kesehatan Dunia, hingga organisasi non-pemerintah atau NGO.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Donald-Trump-dan-Perdana-Menteri-Israel-Benjamin-Netanyahu-2.jpg)