Kamis, 21 Mei 2026
Deutsche Welle

Merz Isyaratkan Kembalinya Energi Batu Bara di Jerman

Untuk menyiasati lonjakan harga global, Kanselir Jerman Friedrich Merz mempertimbangkan kembalinya energi batu bara. Namun bagi kalangan…

Tayang:
Deutsche Welle
Merz Isyaratkan Kembalinya Energi Batu Bara di Jerman 

Perdebatan tentang transisi energi dan perlindungan iklim kembali menghangat di Jerman. Di satu sisi, sejak Selasa (19/5) pembeli mobil listrik sudah bisa mengajukan permohonan subsidi baru dari pemerintah. Di sisi lain, kabinet federal baru saja mengesahkan undang-undang kontroversial mengenai sistem pemanas rumah tangga, yang kembali membuka kemungkinan penggunaan minyak dan gas—meski banyak dikritik para pakar dan kelompok lingkungan.

Perdebatan pun mengemuka: seberapa serius pemerintah di Berlin menangani perlindungan iklim dan pengurangan emisi gas rumah kaca. Satu hal yang selama ini hampir tak pernah digugat adalah rencana lama menghentikan pembangkit batu bara pada tahun 2038. Pengecualian datang dari Kanselir Jerman Friedrich Merz.

Merz: target keluar dari batu bara tidak realistis

Dalam sebuah kongres yang diselenggarakan harian Frankfurter Allgemeine Zeitung pada pertengahan April, Merz mengatakan bahwa Jerman mungkin harus mempertahankan pembangkit listrik tenaga batu bara lebih lama dari rencana.

"Kita mungkin harus membiarkan pembangkit listrik batu bara yang masih beroperasi tetap terhubung ke jaringan lebih lama,” ujar Merz. Ia menambahkan, "Saya tidak siap mempertaruhkan inti sistem pasokan energi kita hanya karena beberapa tahun lalu kita menetapkan tanggal penghentian yang ternyata tidak realistis.”

Pernyataan itu dipicu melonjaknya harga energi sejak pecahnya perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada awal Maret tahun ini.

Namun bagi Martin Kaiser, pakar iklim dari organisasi lingkungan Greenpeace, menjadikan kenaikan harga bahan bakar sebagai alasan untuk meragukan rencana penghentian batu bara adalah langkah keliru.

"Friedrich Merz tidak bisa merumuskan kebijakan yang berorientasi masa depan jika ia salah menafsirkan tingginya harga energi fosil,” kata Kaiser kepada DW. Menurut dia, mempertanyakan konsensus nasional tentang penghentian batu bara tanpa alasan kuat justru bisa mengancam keamanan Jerman dan hak kebebasan generasi muda.

Dukungan dari pakar energi

Meski begitu, Merz mendapat dukungan dari sejumlah analis energi. Salah satunya Jakob Schlandt dari Hamburg Institut. Menurut Schlandt, ketergantungan pada impor energi fosil merupakan "kelemahan strategis” yang harus diatasi.

Dia menegaskan, pernyataan itu bukan berarti mendukung pembangkit listrik batu bara. Energi terbarukan memang bisa mengurangi ketergantungan tersebut, tetapi prosesnya tidak bisa berlangsung secepat yang diharapkan. "Kita tidak bisa beralih ke 100 persen pompa panas dalam semalam,” ujarnya kepada stasiun televisi NTV.

Kritik dari Partai Hijau

Kesepakatan penghentian pembangkit listrik batu bara pada 2038 sendiri merupakan hasil kompromi panjang antara pemerintah pusat dan pemerintah negara bagian pada 2020. Selama ini, kesepakatan itu tidak pernah dipersoalkan oleh pemerintah mana pun.

Ketua Partai Hijau Felix Banaszak menilai sinyal yang diberikan pemerintah justru membingungkan publik, terutama di tengah lonjakan harga energi. Menurutnya, pemerintah saat ini gagal memanfaatkan krisis untuk membangun dukungan.

"Ini pemerintah pertama yang berhasil melakukan hal yang unik: di tengah krisis akut, bukannya meningkatkan kepercayaan publik lewat manajemen krisis yang baik, justru kehilangan dukungan karena tidak ada arah, tidak ada rencana, dan tidak ada optimisme,” kata Banaszak kepada DW.

Greenpeace: batu bara akan berakhir lebih cepat

Di sisi lain, Martin Kaiser dari Greenpeace menilai dinamika pasar justru akan mempercepat berakhirnya penggunaan batu bara. Dia menunjuk pesatnya pembangunan pembangkit energi angin dan tenaga surya.

"Penghentian batu bara pada 2038 sebenarnya sudah dipercepat oleh dinamika pasar, sejalan dengan prinsip ekonomi pasar bebas yang sering dikutip Friedrich Merz,” ujarnya.

Di wilayah pertambangan Rhein, misalnya, penghentian batu bara sudah dijadwalkan pada 2030 karena energi terbarukan jauh lebih murah. Kaiser memperkirakan kawasan tambang di Jerman Timur juga akan menyusul lebih cepat dari rencana.

Pemerintah perlambat transisi energi

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved