Sabtu, 23 Mei 2026
Deutsche Welle

Aliansi Baru Rombak Lanskap Geopolitik Timur Tengah

UEA dan Israel semakin mendekat, sementara Arab Saudi menjalin ikatan militer dengan Mesir, Turki dan Pakistan. Aliansi baru di Timur…

Tayang:
Deutsche Welle
Aliansi Baru Rombak Lanskap Geopolitik Timur Tengah 

Pekan ini muncul laporan bahwa Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) tengah membentuk dana pertahanan bersama yang memungkinkan kedua negara membeli persenjataan secara kolektif. Laporan yang pertama kali diterbitkan media Middle East Eye itu mengutip dua pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya, namun hingga kini belum dikonfirmasi kedua pemerintah.

Kesepakatan itu disebut tercapai dalam kunjungan rahasia Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke UEA. Dia sendiri mengumumkan lawatan tersebut pada malam 13 Mei. Beberapa jam kemudian, pemerintah UEA membantah kunjungan itu pernah terjadi.

Sehari sebelumnya, Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel Mike Huckabee mengungkapkan dalam sebuah acara di Tel Aviv bahwa Israel telah meminjamkan sistem pertahanan udara kepada UEA untuk membantu menghadapi serangan Iran.

Timur Tengah memasuki babak baru

Rangkaian peristiwa itu—ditambah keputusan UEA keluar dari OPEC pada akhir April setelah 59 tahun menjadi anggota—memicu gelombang analisis mengenai perubahan besar di Timur Tengah.

"Orde lama di Teluk yang telah bertahan selama puluhan tahun mulai memudar, dan tatanan baru sedang terbentuk,” tulis Cinzia Bianco, peneliti tamu di European Council on Foreign Relations, dalam komentarnya pertengahan Mei.

Mantan Duta Besar Korea Selatan untuk Israel, Ma Young-sam, bahkan menyebut situasi ini sebagai lahirnya "tatanan Timur Tengah baru”.

Marcus Schneider dari Friedrich Ebert Foundation di Lebanon menggambarkan kemunculan dua blok utama di kawasan. Blok pertama berbentuk "heksagon”, terdiri dari UEA dan Israel. Blok kedua disebut "berlian Sunni”, yang mencakup Arab Saudi, Pakistan, Turki, dan Mesir.

Menurut Schneider, Israel dan UEA sama-sama menjalankan politik "disrupsi” demi membentuk ulang Timur Tengah dan kawasan sekitarnya. Netanyahu berulang kali menyatakan Israel tengah "mengubah wajah Timur Tengah”, termasuk setelah serangan gabungan Israel-AS ke Iran awal Maret lalu.

UEA juga disebut memiliki ambisi serupa. Abu Dhabi ingin membangun jaringan pengaruh geopolitik dan geoekonomi baru yang berpusat pada dirinya.

Namun hubungan itu tidak semata ideologis. "Bagi UEA, Israel menawarkan sumber daya, jaringan, kemampuan pertahanan, teknologi, dan pengaruh global,” tulis Bianco.

Saudi memilih jalur berbeda

Sementara itu, kelompok "berlian Sunni” mengambil pendekatan berbeda. Menurut Schneider, Arab Saudi kini lebih mengutamakan stabilitas demi menjaga target ekonominya.

"Pendekatannya lebih transaksional,” katanya kepada DW. "Mereka punya kepentingan bersama untuk berhubungan dengan Iran karena merekalah yang paling terdampak konflik. Pada saat yang sama, mereka juga ingin menahan cara berpikir Israel yang merasa bisa membombardir apa pun, di mana pun, kapan pun.”

Kekhawatiran Saudi terhadap Israel tercermin dalam artikel opini Pangeran Turki al-Faisal, mantan kepala intelijen Saudi, di surat kabar Asharq Al-Awsat. Tulisan itu dipandang mewakili pandangan pemerintah Riyadh.

"Jika rencana Israel memicu perang antara kami dan Iran berhasil, kawasan ini akan tenggelam dalam kehancuran,” tulis al-Faisal. "Israel akan berhasil memaksakan kehendaknya dan menjadi satu-satunya kekuatan dominan di kawasan.”

Retakan di Teluk kembali muncul

Sebelum perang Iran meletus, ketegangan sebenarnya sudah terlihat antara UEA dan Arab Saudi, terutama terkait konflik Yaman.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved