Dari Myanmar hingga Venezuela, orang-orang mencari cara mengakali pemblokiran internet
Kafe-kafe rahasia dan para pengembang dari kelompok perlawanan membantu mengatasi pemadaman dan pembatasan yang digunakan oleh pemerintah…
Demi menghindari radar militer, ia bahkan sudah dua kali memindahkan lokasi kafenya ke tempat yang jauh lebih tersembunyi.
Menurut catatan Myanmar Internet Project (MIP)—sebuah organisasi hak-hak digital—sejak Februari 2021, pemutusan jaringan internet di berbagai wilayah Myanmar telah terjadi lebih dari 450 kali dan berdampak pada kehidupan lebih dari 20 juta orang.
MIP juga melihat adanya pola yang jelas antara pemblokiran ini dengan serangan yang dilancarkan oleh pihak junta.
"Riset kami menunjukkan bahwa hampir 90?ri pemutusan internet ini berkaitan erat dengan aksi pengeboman... Mereka sengaja memutus komunikasi warga agar bisa menghancurkan wilayah tersebut tanpa terendus," ungkap Nyan, seorang analis hak digital di MIP yang juga menggunakan nama samaran demi keselamatan.
Di sisi lain, pengawasan siber di negara tersebut sangatlah ketat. Warga Myanmar dilarang keras menyediakan ataupun menggunakan VPN tanpa izin resmi dari pemerintah militer. Padahal, teknologi yang memanfaatkan server jarak jauh untuk menyembunyikan alamat IP dan lokasi pengguna ini sudah lama diandalkan di seluruh dunia untuk menembus sensor internet.
Ironisnya, kendala akses internet tidak hanya datang dari pihak militer. Kelompok perlawanan bersenjata pun sesekali turut mengacaukan jaringan. Atas dasar keamanan kelompok sendiri, mereka terkadang memberlakukan larangan sementara terhadap penggunaan Starlink di wilayah yang mereka kuasai, atau bahkan nekat menyerang infrastruktur komunikasi yang ada.
Pemadaman meningkat
Meski skala operasional Min terbilang kecil, dia adalah bagian dari gerakan yang kian hari kian masif. Di berbagai belahan dunia, semakin banyak individu maupun kelompok yang bergerak melintasi batas hukum demi menjebol dinding sensor internet yang dipasang oleh rezim-rezim paling represif di bumi.
Fenomena ini sejalan dengan temuan Access Now, sebuah organisasi hak-hak digital internasional. Dalam laporannya, mereka mencatat bahwa aksi pemutusan jaringan internet di tingkat global terus merangkak naik sejak tahun 2020, hingga akhirnya menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah pada tahun 2025 dengan total 313 kali pemadaman di 52 negara.
Dari angka tersebut, Myanmar menjadi negara dengan catatan kelam terbanyak, yakni mencapai 95 kali pemutusan.
Tak hanya memutus jaringan secara total, pemblokiran terhadap platform digital spesifik juga melonjak tajam.
Pada tahun 2025, Access Now mengidentifikasi ada 94 kasus pemblokiran media sosial dan aplikasi pesan instan di seluruh dunia—termasuk Facebook, WhatsApp, Telegram, dan X. Angka penutupan akses ini melonjak hingga tiga kali lipat jika dibandingkan dengan tahun 2016, saat organisasi tersebut pertama kali mulai melacak datanya.
Ribuan kilometer dari Myanmar, Andrés Azpurúa bekerja dari Madrid. Andrés memimpin sebuah tim sukarelawan untuk membangun sebuah aplikasi yang dirancang khusus demi menembus blokade sensor di tanah airnya, Venezuela.
Lanskap media di Venezuela memang dikontrol ketat oleh pemerintah. Banyak media berita independen lokal yang diblokir, sementara pembatasan berkala terus menyasar platform internasional seperti X dan Facebook, hingga situs berita seperti The Wall Street Journal.
Guna melawan pembungkaman ini, tim Azpurúa meluncurkan Noticias Sin Filtro (Berita Tanpa Sensor). Aplikasi gratis ini mengumpulkan berbagai sumber berita independen—baik berskala lokal Venezuela maupun internasional—dengan teknologi VPN yang sudah tertanam langsung di dalamnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BBC-Indonesia86667b00-4df7-11f1-aa1a-0d2841b91bc2.jpg.jpg)