Energi Hijau Berlimpah di Eropa, Kenapa Masih Krisis?
Eropa menghasilkan surplus listrik dari tenaga surya dan angin pada siang hari. Namun, minimnya kapasitas baterai dan jaringan listrik…
Namun, sebagian masalah terletak pada jaringan listrik Eropa yang sudah ada. Banyak di antaranya berusia lebih dari 40 tahun, dan sebagian besar tidak dirancang untuk menerima listrik hijau dalam jumlah besar serta menyalurkannya ke lokasi yang membutuhkan. Jaringan listrik di Jerman, dan di seluruh Eropa, perlu dimodernisasi dan dihubungkan dengan taman angin, ladang surya, serta fasilitas penyimpanan.
Komisi Eropa sebelumnya mengatakan bahwa Uni Eropa perlu menginvestasikan sekitar €580 miliar (sekitar Rp11.020 triliun) untuk meningkatkan jaringan listriknya sebelum 2030. Namun, kemajuannya sejauh ini masih beragam, bahkan di Jerman. Pemerintah federal telah merencanakan pembangunan sekitar 16.000 kilometer (10.000 mil) jalur listrik selama bertahun-tahun; saat ini, baru sekitar 20% yang beroperasi. Meski demikian, proses perizinan baru-baru ini telah disederhanakan untuk mempercepat pembangunan.
Walaupun investasi dalam peningkatan jaringan listrik mulai meningkat, target €580 miliar tampaknya sulit tercapai. Data dari European Union Agency for the Cooperation of Energy Regulators menunjukkan investasi sekitar €35 miliar (sekitar Rp665 triliun) pada 2024; pada 2027, angka itu diperkirakan menjadi €47 miliar (sekitar Rp893 triliun).
Uni Eropa berupaya mengamankan masa depan kelistrikan
Para analis industri tidak memperkirakan perang yang sedang berlangsung di Iran akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan sektor baterai dan ekspansi jaringan listrik, meskipun terjadi gejolak energi global.
Bloomberg BNEF melaporkan bahwa konflik yang telah berlangsung tiga bulan itu sejauh ini hanya memberi dampak minimal terhadap pasar penyimpanan baterai, yang sebagian besar berbasis di Cina. Perang tersebut memang mendorong harga listrik naik, dengan pengiriman bahan bakar fosil terhambat di Selat Hormuz, yang dapat menghasilkan keuntungan jangka pendek bagi operator fasilitas penyimpanan baterai. Namun, Sauer mengatakan hal itu saja tidak cukup untuk mendukung pertumbuhan sektor yang berkelanjutan.
“Krisis sementara [seperti Iran] umumnya bukan dasar yang baik untuk membuat keputusan investasi pada produk yang akan digunakan selama bertahun-tahun,” katanya. Dan meskipun investasi meningkat, ia masih melihat tanda-tanda ketidakpastian di pasar.
Pada saat fasilitas berskala besar yang saat ini direncanakan benar-benar selesai dibangun dan terhubung ke jaringan listrik, perang Iran dan krisis energi kemungkinan sudah lama berakhir, kata Sauer. Karena itu, pemerintah perlu menetapkan target jangka panjang. “Jaringan listrik dibangun untuk 40 atau 50 tahun ke depan.”
Yang sama pentingnya bagi negara-negara anggota Uni Eropa, selain kemauan politik, adalah akses terhadap lithium dan logam lain yang dibutuhkan untuk produksi baterai.
Blok tersebut telah memprioritaskan pengembangan strategi bahan baku, mendukung produksi domestik logam tanah jarang, mengurangi ketergantungan pada Cina, serta membangun rantai pasok yang aman. Selain itu, Uni Eropa juga ingin mendorong daur ulang bahan baku kritis seperti litium, nikel, galium, dan kobalt.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi dari bahasa Inggris oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle73278589_403.jpg.jpg)