Studi: Konflik AS–Cina Seputar Taiwan Berisiko Picu Eskalasi Nuklir
Studi terbaru menunjukkan bahwa konflik antara AS dan Cina seputar Taiwan berisiko memicu eskalasi nuklir. Kedua negara disebut berpotensi…
“Untuk saat ini, hanya sedikit bukti publik yang menunjukkan bahwa kedua militer memiliki pemahaman tentang aturan pengaman yang diperlukan untuk mencegah, atau membatasi serangan terhadap pusat-pusat penting komando, kendali, komunikasi, komputer, intelijen, pengawasan, dan pengintaian masing-masing pihak,” lanjut dokumen itu.
“Risiko eskalasi nuklir dengan demikian akan terus membayangi dalam setiap konflik besar Amerika Serikat–Cina.”
Peneliti senior IISS Daniel Salisbury mengatakan tidak ada pembahasan khusus mengenai nuklir dalam pertemuan terakhir Trump–Xi, dan hubungan kedua negara dalam isu nuklir masih sangat sulit.
Ia mengatakan dalam konferensi pers bahwa selama Perang Dingin, AS banyak berdiskusi dengan Uni Soviet terkait pengendalian senjata dan pengurangan risiko. Namun, menurutnya, dialog semacam itu dengan Cina akan lebih rumit karena sebagian besar persenjataan nuklir Cina bersifat tertutup.
Meski demikian, baik AS maupun Rusia masih memiliki persenjataan nuklir yang jauh lebih besar dibanding Cina. Para pejabat AS dan analis pengendalian senjata menyebut Cina tengah memperluas dan meningkatkan kemampuan nuklirnya lebih cepat dibanding negara lain.
Laporan Pentagon pada Desember menyebut Cina diperkirakan akan memiliki 1.000 hulu ledak nuklir pada 2030.
Sementara, Federasi Ilmuwan Amerika Serikat memperkirakan Rusia memiliki 4.400 hulu ledak aktif, Amerika Serikat 3.700, sementara Cina memiliki 620.
AS masih menunda penjualan senjata ke Taiwan
Di sisi lain, Taiwan masih menunggu persetujuan penjualan senjata dari AS yang dilaporkan Reuters bernilai hingga 14 miliar dolar Amerika Serikat (sekitar Rp249,6 triliun).
Hal ini bermula ketika Trump menyatakan bahwa ia belum memutuskan apakah akan menyetujui paket tersebut setelah bertemu Xi Jinping bulan ini.
Pada Kamis lalu (21/05), Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut Amerika Serikat Hung Cao mengatakan dalam sidang subkomite anggaran pertahanan Senat bahwa terdapat penundaan penjualan senjata ke Taiwan untuk memastikan AS memiliki amunisi yang dibutuhkan bagi Operation Epic Fury di Iran.
Sumber yang mengetahui hal tersebut menyatakan bahwa Trump akan segera memutuskan penjualan senjata ke Taiwan. Namun hingga saat ini, belum ada info terbaru mengenai keputusan ini.
“Penjualan ini membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diproses dan tidak berkaitan dengan Operasi Epic Fury,” kata sumber tersebut, merujuk pada perang yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel pada Februari. “Militer AS memiliki cukup amunisi, persenjataan, dan stok untuk mendukung seluruh tujuan strategis Presiden Trump dan lebih dari itu.”
Amerika Serikat terikat oleh Taiwan Relations Act 1979 untuk membantu Taiwan dengan kemampuan mempertahankan diri, dan sejak pertemuan Trump dengan Xi, Washington menyatakan kebijakan terhadap Taiwan tidak berubah.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Adelia Dinda Sani
Editor: Rizki Nugraha
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle77165692_403.jpg.jpg)