Warga Sipil Lebanon Korban Terbesar Perang Israel-Hizbullah
Serangan militer Israel meluluhlantakkan Lebanon Selatan. Harapan damai jelang perundingan langsung Israel-Lebanon di Washington mulai…
"Pembebasan wilayah selatan adalah tugas negara dengan dukungan rakyatnya,” kata Aoun.
Namun Hizbullah justru menggunakan situasi di lapangan sebagai alasan mempertahankan persenjataannya. Kelompok itu selama ini beralasan senjata diperlukan untuk mencegah serangan Israel, sementara para pengkritiknya menilai keberadaan pasukan bersenjata independen melemahkan kedaulatan negara Lebanon.
Di tengah kebuntuan politik dan militer tersebut, kondisi warga sipil Lebanon semakin memburuk. Analisis terbaru Integrated Food Security Phase Classification (IPC) memperkirakan hampir seperempat penduduk Lebanon—sekitar 1,24 juta orang—akan menghadapi kerawanan pangan akut antara April hingga Agustus 2026.
Kementerian Pertanian Lebanon juga melaporkan sekitar 22 persen lahan pertanian di wilayah terdampak mengalami kerusakan, sehingga produksi pangan dan mata pencaharian warga ikut terpukul.
Sementara itu, seruan bantuan darurat PBB senilai US$308 juta untuk periode Maret–Mei 2026 baru terpenuhi sekitar 51 persen hingga akhir Mei. Organisasi kemanusiaan memperingatkan kekurangan dana memaksa banyak lembaga memangkas layanan penting, termasuk bagi ratusan ribu pengungsi Suriah di Lebanon.
"Jika seluruh layanan air bersih bagi pengungsi Suriah dihentikan mulai 1 Juni 2026, risiko wabah penyakit seperti hepatitis A, tifus, dan kolera akan sangat besar,” kata Suzanne Takkenberg dari Action Against Hunger.
Artikel ini terbit pertama kali dalam Bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle77239508_403.jpg.jpg)