Bagaimana Disinformasi Perparah Wabah Ebola di Kongo
Bukan cuma virus Ebola yang sedang menghantui Republik Demokratik Kongo. Rumor dan disinformasi juga menghambat upaya penanganan di…
Tenaga kesehatan khawatir mereka yang mungkin terinfeksi telah menularkan penyakit kepada orang-orang yang memberi mereka perlindungan.
Untuk varian Bundibugyo dari virus Ebola yang kini beredar, hingga saat ini belum tersedia vaksin.
Narasi lama yang terus berulang
Christopher Nehring tidak asing dengan pola semacam itu. Peneliti keamanan yang mendalami isu disinformasi tersebut menjadi salah satu penulis laporan mengenai wabah Ebola terbaru untuk Konrad-Adenauer-Stiftung, lembaga yang dekat dengan partai konservatif Jerman, CDU.
Menurut Nehring, pola hoaks yang muncul hampir selalu sama dalam setiap krisis kesehatan.
"Penyakit disebut berasal dari laboratorium sebagai senjata biologis. Vaksin dianggap lebih berbahaya daripada virusnya. Ada obat sederhana yang sengaja disembunyikan. Industri farmasi besar disebut sebagai pihak yang diuntungkan atau bahkan penyebab krisis. Bahkan ada yang mengklaim penyakit itu tidak nyata,” kata Nehring.
"Semua itu sudah dikenal selama puluhan tahun. Hanya bentuknya yang berbeda-beda.”
Dalam penyusunan laporan tersebut, Nehring berkoordinasi erat dengan para pemeriksa fakta di Kongo. Salah satunya adalah Ange Kasongo, pendiri Balobaki Check yang berbasis di Kinshasa.
Dalam wawancara dengan DW, Kasongo menceritakan percakapannya dengan para penambang emas di Ituri, wilayah yang sangat bergantung pada sektor pertambangan.
"Mereka mengatakan rumor dan mitos seputar kematian memang beredar, tetapi masyarakat setempat tidak benar-benar mempercayainya,” kata Kasongo.
Penjelasan yang dia dengar justru berkaitan dengan persaingan ekonomi.
"Jika seorang pedagang ingin memperoleh atau menambang lebih banyak emas, dia bisa saja menggunakan praktik-praktik mistis untuk menyingkirkan pesaingnya.”
Dengan kata lain, tekanan ekonomi turut menghambat keterbukaan masyarakat dalam menghadapi wabah.
Teori konspirasi dan konflik politik
Kasongo juga menyoroti dimensi politik yang memperumit situasi di tengah konflik bersenjata yang masih berlangsung di wilayah timur Kongo.
Dalam berbagai percakapan pribadi di WhatsApp, beredar tuduhan bahwa ada upaya sistematis untuk memusnahkan penduduk wilayah timur negara tersebut.
Sebagian warga mencurigai adanya konspirasi antara Presiden Kongo, Félix Tshisekedi, dan virolog ternama Jean-Jacques Muyembe.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle77421478_403.jpg.jpg)