Olahraga Lansia: Siapa Bilang Tak Boleh Angkat Beban?
Olahraga buat para lansia bukan sebatas jalan kaki. Ada kalanya, angkat beban diperlukan untuk menjaga kualitas hidup nyaman di usia…
Para lansia peserta program olahraga juga dievaluasi berkala.
Kinan menyadari ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi dalam melatih lansia. “Risiko jatuh lebih besar. Jadi harus dipastikan bahwa pelatih berada dekat dengan mereka selama latihan berlangsung, baik di belakang atau di sampingnya,” tutur Kinan.
Namun, manfaat yang ia lihat tak hanya soal fisik. Banyak peserta lansia datang bukan hanya untuk berolahraga, tetapi juga untuk berinteraksi dan bertemu orang lain.
“Di situ kita juga melatih lagi kemampuan mereka berkomunikasi. Ada yang menganggap pelatih seperti saudara sendiri untuk diajak ngobrol dan bercanda. Jadi ada dampak positif ke kondisi psikologis para lansia juga.”
Kini, Kinan membuka tiga studio kebugaran di Jakarta dengan lokasi yang dekat permukiman agar lebih mudah diakses.
Bukan cuma soal pilihan, tapi juga akses bagi lansia
Kinan bukan satu-satunya orang yang melihat peluang dan kebutuhan programolahraga untuk lansia.
Belakangan, semakin banyak studio olahraga juga mempromosikan program tersebut. Fenomena ini berjalan beriringan dengan jumlah populasi lansia di Indonesia yang terus meningkat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk lansia di Indonesia akan mencapai 65,82 juta jiwa atau 20,31 persen pada 2045.
Pada saat yang sama, usia harapan hidup masyarakat Indonesia juga meningkat. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan angka harapan hidup naik dari sekitar 70 tahun pada 2015 menjadi sekitar 72 tahun pada 2024.
Menurut dr. Sophia Hage, Sp.KO, dokter spesialis kedokteran olahraga, berbagai organisasi kesehatan sudah lama menekankan pentingnya agar lansia tetap rutin berolahraga.
“Bukan cuma WHO, tapi juga American College of Sports Medicine yang menganjurkan bahwa orang-orang di usia lanjut perlu melakukan penekanan khusus di latihan penguatan otot serta latihan-latihan yang akan menjaga keseimbangan,” tutur Sophia.
Namun, menjaga tubuh tetap aktif di usia lanjut bukan hanya soal kemauan individu. Akses terhadap fasilitas, pelatih, hingga edukasi turut menentukan agar lansia bisa tetap bergerak dengan aman. Sehingga, Sophia menilai pemerintah perlu mengambil peran agar program olahraga lansia bisa lebih mudah dijangkau di berbagai daerah.
“Kalau kita bicara di Jakarta atau di kota-kota besar lainnya di Jawa, pihak swasta sudah mumpuni untuk mengedukasi dan melakukan kegiatan-kegiatan berbasis komunitas untuk lansia. Tapi misalnya di Sumba atau Aceh, kalau tidak ada bantuan pemerintah, saya rasa akan sangat-sangat sulit untuk memulai kegiatan untuk lansia,” tambahnya.
Menurut Sophia, inisiatif seperti Posyandu Lansia bisa menjadi jembatan untuk memperluas edukasi program olahraga untuk lansia. Sehingga tidak hanya senam rutin, tetapi juga latihan kekuatan dan keseimbangan yang lebih terstruktur.
Di samping itu, tantangan lain adalah soal stigma tentang lansia di tengah masyarakat. “Sering kali yang jadi hambatan lansia memulai olahraga datang dari orang terdekat. Keluar kalimat agar 'orang tua diam di rumah atau enggak perlu olahraga berat'. Komentar yang terkesan tidak berbahaya ini, justru akan menumbuhkan paradigma yang kurang tepat,” katanya.
Karena itu, menurut Sophia, persoalannya bukan hanya soal akses. Kampanye publik dan pelatihan bagi pelatih olahraga khusus lansia juga diperlukan agar masyarakat memahami bahwa menjadi tua tidak selalu berarti harus mengurangi gerak.
Editor: Tezar Aditya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle77418754_403.jpg.jpg)