Senin, 8 Juni 2026
Deutsche Welle

Cek Fakta: Rupiah Anjlok, Indonesia Geser ke Yuan?

Video viral yang beredar di media sosial menyebut rupiah yang melemah membuat Indonesia meninggalkan dolar AS dan beralih ke yuan…

Tayang:
Deutsche Welle
Cek Fakta: Rupiah Anjlok, Indonesia Geser ke Yuan? 

Dari penelusuran tersebut, tim cek fakta DW tidak menemukan bukti bahwa pemerintah telah mengumumkan kebijakan untuk meninggalkan dolar AS. Yang ditemukan justru adalah upaya diversifikasi pembiayaan melalui instrumen tambahan dalam mata uang yuan, di samping berbagai instrumen lain yang telah digunakan sebelumnya.

Ekonom: Diversifikasi pembiayaan, bukan peralihan dari dolar

Ekonom David Sumual menilai penerbitan Panda Bond oleh pemerintah merupakan bagian dari strategi diversifikasi pembiayaan jangka menengah hingga panjang, terutama di tengah kebutuhan pendanaan yang semakin beragam dan meningkatnya transaksi perdagangan dengan Cina.

David menjelaskan bahwa inti dari kebijakan tersebut adalah upaya pemerintah untuk tidak terlalu bergantung pada satu mata uang dalam pembiayaan, khususnya dolar AS. Menurutnya, langkah ini bukan kebijakan yang bersifat respons cepat terhadap kondisi rupiah, melainkan strategi yang lebih struktural.

Ia menyebut, penerbitan Panda Bond berkaitan dengan kebutuhan di sisi pembiayaan, terutama karena adanya keterbatasan likuiditas dalam mata uang yuan di tengah meningkatnya transaksi dengan mitra dagang dari Cina. Ia menambahkan bahwa kondisi ini tidak terlepas dari perubahan pola transaksi perdagangan, di mana sebagian mitra dagang Indonesia mulai meminta pembayaran dalam yuan, khususnya dalam hubungan dagang dengan Cina.

"Karena memang ada kebutuhan di sana, di mana kita kekurangan likuiditas dalam mata uang yuan,” kata David kepada DW.

Namun, David juga menegaskan bahwa kebijakan ini tidak dapat dimaknai sebagai upaya untuk memperkuat rupiah secara langsung dalam jangka pendek. Penerbitan Panda Bond, kata dia, bukan instrumen yang dirancang untuk merespons pelemahan nilai tukar.

"Kalau semuanya dalam bentuk dolar AS, ada masalah-masalah geopolitik yang mempengaruhi nilai tukar dan ini bisa pengaruh juga ke ekonomi kita,” kata David.

Upaya diversifikasi lainnya

Lebih jauh, David menjelaskan bahwa upaya diversifikasi ini sebenarnya tidak hanya dilakukan melalui Panda Bond. Indonesia, kata dia, juga sudah menjalankan berbagai instrumen lain untuk mengurangi ketergantungan pada satu mata uang.

Di antaranya melalui kerja sama currency swap arrangement dengan sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, Cina, dan negara-negara ASEAN. Selain itu, terdapat pula penggunaan local currency transaction (LCT) dalam perdagangan lintas negara yang memungkinkan transaksi tidak selalu menggunakan dolar AS.

Ia menilai seluruh langkah tersebut menunjukkan bahwa diversifikasi mata uang merupakan strategi yang sudah berjalan cukup lama dan dilakukan secara bertahap, bukan kebijakan yang muncul secara tiba-tiba.

Dolar AS masih menjadi mata uang acuan utama di Indonesia

Ekonom menegaskan bahwa hingga saat ini dolar AS masih menjadi mata uang utama dalam perdagangan internasional maupun transaksi keuangan Indonesia. Dominasi ini terlihat dari struktur sistem keuangan global yang masih sangat bergantung pada dolar sebagai alat pembayaran utama.

"Transaksi USD itu masih dominan. Jadi kalau di global itu untuk transaksi di capital market maupun ekspor-impor itu sekitar 89 persen,” kata David.

Ia menambahkan, angka tersebut relatif stabil dan menunjukkan bahwa dolar masih menjadi mata uang utama dalam sistem perdagangan dunia, termasuk dalam relasi dagang Indonesia dengan mitra-mitranya.

Di tingkat domestik, David menjelaskan bahwa ekspor Indonesia juga masih sangat bergantung pada dolar AS.

“Kalau untuk ekspor, eksportir kita masih 92 persen menggunakan dolar AS,” ujarnya.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved