Depresi Tersembunyi: Ketika Kesuksesan Menjadi Topeng Penderitaan
Penderita depresi tidak selalu merasa kewalahan atau kesulitan menjalani keseharian, sebagian justru sangat produktif meski suasana…
"'High-functioning depression' memang tidak ada di ICD-10," kata Huys. "Tapi bukan berarti kondisi itu tidak nyata." Ia menambahkan, pasien yang ia temui cenderung adalah orang-orang yang sudah tidak sanggup lagi memenuhi tuntutan keseharian dan mulai berantakan.
Depresi yang tersembunyi di balik kesuksesan
Di situlah masalahnya. "Saya pikir kesalahpahaman terbesarnya adalah: karena seseorang tampak sukses atau produktif dari luar, penderitaan mereka kerap diremehkan karenanya," kata Adrianne McCullars, psikolog di Rogers Behavioral Health, jaringan klinik penanganan gangguan jiwa di Tampa, Florida, Amerika Serikat.
Menurutnya, istilah "high-functioning depression" bisa membantu agar bentuk depresi ini lebih mudah dikenali. Banyak orang berpikir: selama masih bisa bangun dan menyelesaikan urusan, artinya tidak separah itu. Padahal, itu berbahaya. Depresi adalah faktor paling umum dalam kasus bunuh diri di Jerman dan banyak negara lainnya.
McCullars juga menepis anggapan bahwa high-functioning depression adalah bentuk penyakit yang lebih ringan. "Banyak orang justru semakin terpacu atau bahkan terlalu produktif saat merasakan gejala depresi itu sebagai cara untuk mengatasi atau menghindarinya," katanya.
Performa jadi strategi bertahan
Aku pun pernah mengalaminya sendiri. Aku berpikir: kalau semua beres lebih cepat, daftar tugas akan mengecil dan aku tidak akan merasa begitu kewalahan. Kalau terus bergerak, rasa lelah itu baru akan menghantamku di malam hari, saat aku akhirnya bisa tidur. Kalau cukup banyak yang berhasil aku selesaikan, rasa bersalah yang terus menghantuiku bisa kutahan, terhadap keluarga, rekan kerja, dan teman-temanku.
Efisiensi dan pencapaian yang begitu dipuja masyarakat ini bisa menjadi pengalih perhatian, kata Daniel Wagner, psikoterapis yang berpraktik di Köln.
Ketika penderitaan mendalam akibat depresi tersembunyi di balik performa dan kesuksesan, itu sering kali dilakukan untuk menghindari keheningan "di mana keadaan yang sulit ditanggung itu menjadi terlihat jelas," kata Wagner.
Mindfulness sebagai strategi mengatasi depresi
Dalam terapi, kata Wagner, tujuannya adalah agar pasien "bisa terhubung dengan perasaan mereka, membuka akses ke emosi, dan memberi ruang bagi pemulihan." Latihan mindfulness sangat cocok untuk ini. Wagner menyebutnya "organized hanging out" atau "nongkrong terstruktur".
Ini bisa berupa latihan pernapasan atau meditasi terpandu, di mana tujuannya bukan mengubah apa pun, melainkan sekadar hadir dan mengamati. Wagner mengintegrasikan periode pemulihan semacam ini ke dalam rutinitas harian pasiennya secara terstruktur.
Para psikolog di klinik pun melakukan hal yang serupa. Aku mendapat rencana mingguan untuk membantu menyusun hari-hariku: kerja, pekerjaan rumah, olahraga, dan hal-hal yang kunikmati serta baik untukku. Poin terakhir masih menjadi masalah terbesar dan bagian yang paling menyakitkan bagiku.
Di tengah keheningan, pikiranku justru semakin riuh, perasaanku semakin tak nyaman. Aku sangat ingin kabur lagi, menghindari tanggung jawab untuk menghadapi diriku sendiri. Artinya: berhenti, bertahan, dan tidak melakukan apa-apa.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Jerman
DIadaptasi oleh Fika Ramadhani
Editor: Yuniman Farid
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle77226769_403.jpg.jpg)