Sabtu, 13 Juni 2026

Banjir di Sumatra menewaskan 7% populasi orangutan paling langka di dunia, ungkap riset terbaru

Peristiwa cuaca yang dipicu perubahan iklim mendorong populasi orangutan menuju kepunahan, demikian temuan sebuah studi.

Tayang:
BBC Indonesia
Banjir di Sumatra menewaskan 7% populasi orangutan paling langka di dunia, ungkap riset terbaru 

Banjir dan longsor di Pulau Sumatra, Indonesia, telah mendorong orangutan—hewan paling terancam di dunia—semakin dekat ke jurang kepunahan, menurut studi.

Penelitian menunjukkan 58 ekor dari sekitar 800 orangutan tapanuli yang berstatus kritis—sekitar 7?ri total populasi— tewas akibat banjir dan longsor pada November lalu.

Angka itu disebut konservatif, karena tidak memperhitungkan kerusakan kanopi hutan akibat hujan maupun berkurangnya ketersediaan makanan, kata para penulis studi yang dipublikasikan pada Rabu (10/06).

Siklon Senyar melanda Sumatra pada akhir November 2025. Gabungan faktor cuaca dan deforestasi turut menewaskan lebih dari 1.000 orang—bencana alam paling mematikan di Asia Tenggara sepanjang 2025.

Temuan studi tersebut, kata para penulis, menunjukkan bahwa peristiwa hujan ekstrem dapat secara langsung mengancam kelangsungan hidup populasi kera besar.

Sebelumnya, para ahli satwa liar dan pegiat konservasi mengamati bahwa setelah badai, penampakan orangutan Tapanuli semakin jarang—memicu spekulasi bahwa kera besar itu mungkin tersapu banjir dan longsor.

Profesor Erik Meijaard, direktur pelaksana Borneo Futures di Brunei sekaligus salah satu penulis studi yang dipublikasikan Rabu, mengatakan kepada BBC pada Desember lalu bahwa Siklon Senyar kemungkinan menewaskan sekitar 35 orangutan—sebuah kehilangan yang ia sebut sebagai "pukulan besar bagi populasi".

Kini, studi komprehensif ini menunjukkan wilayah tersebut kehilangan hampir dua kali lipat jumlah itu.

Beberapa pekan setelah siklon, pekerja kemanusiaan mengatakan kepada BBC bahwa mereka menemukan bangkai yang diyakini sebagai orangutan tapanuli, setengah terkubur di antara lumpur dan tumpukan kayu di Desa Pulo Pakkat, Kabupaten Tapanuli Tengah.

"Saya sudah melihat beberapa jenazah manusia dalam beberapa hari terakhir, tapi ini pertama kalinya melihat satwa liar mati," kata Deckey Chandra, anggota tim kemanusiaan di lokasi. "Dulu mereka datang ke sini untuk makan buah. Tapi sekarang sepertinya tempat ini menjadi kuburan mereka."

Meijaard mengatakan ia telah melihat foto orangutan mati itu, dibagikan oleh Chandra.

"Yang mengejutkan saya adalah seluruh daging di wajahnya telah terkoyak," ujarnya. "Jika beberapa hektar hutan runtuh dalam longsor besar, bahkan orangutan yang kuat sekalipun tak berdaya dan hancur."

"Ibarat neraka di dalam hutan saat itu."

Para peneliti mencatat bahwa Siklon Senyar merupakan peristiwa anomali, namun perubahan iklim akibat ulah manusia berperan signifikan.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved