El Nino Diprediksi Ancam Pangan dan Ekonomi Asia Tenggara
Cuaca yang lebih panas dan kering di Asia Tenggara berpotensi menghambat produksi padi dan minyak sawit, terlebih ketika masyarakat…
Asia Tenggara tengah bersiap menghadapi pola cuaca El Nino ekstrem pada momen yang kurang tepat. Pasalnya, banyak negara di kawasan ini masih kesulitan merespons lonjakan biaya energi, transportasi, dan pangan yang dipicu oleh perang Iran.
World Meteorological Organization (WMO) atau Organisasi Meteorologi Dunia memperkirakan kondisi El Nino akan mulai terbentuk sebelum Agustus 2026 dan berlangsung setidaknya hingga November 2026. Artinya, suhu permukaan laut di sebagian besar Samudra Pasifik akan menghangat lebih tinggi dari biasanya. Gangguan terhadap pola angin timur-barat yang lazim terjadi juga diperkirakan akan membawa cuaca yang lebih panas ke kawasan Pasifik tengah dan timur.
Dalam periode tersebut, hujan monsun di Asia Tenggara biasanya mengisi kembali cadangan air, mendinginkan kota-kota yang mengalami suhu tinggi, serta menggenangi lahan pertanian menjelang musim tanam berikutnya. Namun, jika hujan datang terlambat atau intensitasnya lebih rendah dari normal, petani berpotensi menunda masa tanam, mengurangi luas lahan yang ditanami, atau bahkan beralih dari tanaman yang membutuhkan banyak air.
"Sektor pertanian Asia Tenggara sangat rentan terhadap guncangan El Nino yang baru karena dua komoditas utamanya, yaitu padi dan minyak sawit, sangat terkonsentrasi dan memiliki sensitivitas tinggi terhadap anomali iklim," ujar Jason Lee, Ketua Southeast Asia Hub di Global Heat Health Information Network.
"Paparan risiko yang sangat besar ini membuat guncangan yang awalnya hanya terjadi di tingkat pertanian lokal dan dapat meluas dengan cepat menjadi krisis harga pangan dan inflasi yang bersifat sistemik di seluruh kawasan."
Padi, minyak sawit, dan ancaman inflasi
Bagi negara-negara Asia Tenggara, tanaman padi merupakan risiko politik terbesar. Padi adalah makanan pokok masyarakat yang sangat berkaitan dengan mata pencaharian penduduk pedesaan dan berpotensi memicu kemarahan publik apabila harganya melonjak.
Paul Teng, peneliti senior Program Perubahan Iklim Asia Tenggara di ISEAS–Yusof Ishak Institute, mengatakan kepada DW bahwa padi bisa menjadi tanaman pangan yang paling terdampak akibat berkurangnya curah hujan dan meningkatnya tekanan panas.
"Di wilayah pertanian padi yang bergantung pada hujan, kemungkinan akan terjadi lebih banyak kekeringan lokal. Sementara itu, di wilayah sawah beririgasi, tekanan terhadap ketersediaan air kemungkinan meningkat akibat menurunnya kapasitas waduk dan sistem irigasi," kata Teng.
Ia menambahkan bahwa negara-negara yang paling rentan adalah Tailan, Filipina, Indonesia, dan Kamboja.
Menurutnya, kawasan Asia Tenggara dapat mengalami penurunan produksi beras sekitar 2% hingga 8% dibandingkan tahun normal, dengan kerugian yang lebih besar di daerah-daerah yang rawan kekeringan.
Minyak sawit menjadi perhatian besar lainnya, terutama di Indonesia dan Malaysia yang bersama-sama menyumbang sekitar 85% pasokan dunia.
"Minyak sawit sensitif terhadap kenaikan suhu yang diperkirakan terjadi. Namun, berbeda dengan padi, dampaknya mungkin baru akan terasa 6 hingga 12 bulan kemudian akibat menurunnya pembentukan tandan buah segar dan tingkat ekstraksi minyak," ujar Teng.
Para pengamat juga memperingatkan bahwa biaya pupuk dan gas telah meningkat tajam akibat perang Iran yang masih berlangsung. Jika El Nino ekstrem terjadi, harga-harga tersebut diperkirakan akan naik lebih tinggi lagi. Kondisi ini juga telah mendorong kenaikan harga pangan di seluruh kawasan tersebut.
Lee menuturkan bahwa pasar sering kali tidak hanya bereaksi terhadap kelangkaan barang, tetapi juga terhadap kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan. Akibatnya, harga dapat melonjak bahkan sebelum kerugian panen benar-benar diketahui.
"Kondisi ini membuat bank sentral berada dalam posisi siaga tinggi dan memaksa mereka mempertahankan suku bunga yang tinggi untuk mengendalikan inflasi yang dipicu oleh harga pangan. Hal itu terjadi pada saat dunia usaha di kawasan menghadapi biaya pinjaman yang lebih mahal dan anggaran pemerintah sudah terbebani oleh kebutuhan subsidi serta melonjaknya biaya energi," tambahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle77563378_403.jpg.jpg)