Kamis, 4 Juni 2026

Kapal Perusak & Marinir AS Kepung Venezuela, Ini Perbandingan Militer Kedua Negara Jika Perang Pecah

Maduro menyebut pengerahan kapal perang AS sebagai “ancaman terbesar yang pernah terjadi di benua Amerika Latin dalam 100 tahun terakhir".

Tayang:
dok. Angkatan Laut AS
GUGUS TEMPUR - Kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke Angkatan Laut Amerika dalam sebuah operasi. Ketegangan Pemerintah Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Presiden Donald J. Trump, dengan Venezuela meningkat tajam dalam waktu belakangan. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketegangan Pemerintah Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, dengan Venezuela meningkat tajam dalam sepekan terakhir.

Dimulai dengan pengerahan kapal-kapal perusak AS yang dipersenjatai rudal jelajah Tomahawk, serangan AS terhadap kapal cepat yang diduga digunakan untuk penyelundupan narkoba, hingga manuver pesawat tempur F-16 Venezuela di dekat kapal perang AS. Apa sebenarnya yang terjadi?

Juli lalu, Presiden AS Donald Trump menandatangani arahan rahasia yang menginstruksikan Pentagon untuk menggunakan kekuatan militer terhadap kartel narkoba di Amerika Latin yang telah diklasifikasikan sebagai organisasi teroris oleh pemerintahannya. 

Satu di antaranya adalah kelompok kriminal Venezuela, yang juga ditetapkan sebagai organisasi teroris. Menurut klaim AS, kelompok tersebut dipimpin oleh Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

Selanjutnya, Washington mulai mengerahkan armada kapal dan pesawat untuk memantau aktivitas penyelundupan dan menetapkan sasaran serangan. 

Venezuela merespons. Presiden Nicolás Maduro memperingatkan bahwa Venezuela akan melakukan “perlawanan bersenjata” terhadap setiap aksi militer AS.

Ia menuduh Menteri Rubio berusaha memprovokasi Presiden Trump agar terlibat dalam perang yang akan mencoreng reputasinya.

Maduro menyebut pengerahan kapal perang AS sebagai “ancaman terbesar yang pernah terjadi di benua ini dalam 100 tahun terakhir,” dan mengklaim bahwa terdapat “delapan kapal militer dengan 1.200 rudal” yang menargetkan Venezuela.

Sebagai langkah pertahanan, Maduro mengumumkan pengerahan 4,5 juta milisi di seluruh negeri dan berjanji untuk “melindungi laut, langit, dan tanah kami.”

Daftar Alutsista AS yang Kepung Venezuela

Hingga saat ini, militer AS telah mengerahkan 8 kapal perang, beberapa pesawat pengintai P-8 milik Angkatan Laut, dan 1 kapal selam serang

Kelompok Tempur Amfibi Iwo Jima — termasuk U.S.S. San Antonio, U.S.S. Iwo Jima, dan U.S.S. Fort Lauderdale — membawa 4.500 pelaut dan sedang berada di dekat Puerto Rico. 

Unit Ekspedisi Marinir ke-22 dengan 2.200 personel juga turut serta, dengan dukungan pesawat serang AV-8B Harrier.

Dua kapal perusak rudal kendali — U.S.S. Jason Dunham dan U.S.S. Gravely — beroperasi di Karibia selatan, setelah sebelumnya terlibat dalam kampanye militer di Laut Merah. 

Kapal ketiga, U.S.S. Sampson, yang saat ini berada di Pasifik timur, kemungkinan akan bergabung.

Kapal-kapal tersebut merupakan kapal perusak kelas Arleigh Burke yang dilengkapi lebih dari 90 rudal, termasuk rudal permukaan-ke-udara, serta mampu melakukan operasi anti-pesawat, anti-kapal selam, dan menembak jatuh rudal balistik.

Tambahan lainnya termasuk kapal penjelajah rudal kendali U.S.S. Lake Erie dan kapal tempur pesisir Minneapolis-St. Paul.

Militer AS Vs Venezuela

Meskipun Maduro mengatakan negaranya siap untuk melawan jika terjadi serangan AS, militer Amerika jauh lebih unggul dalam hal peralatan dan anggaran dibandingkan Venezuela.

AS memiliki lebih dari 13 ribu pesawat jauh lebih besar dibandingkan dengan Venezuela yang hanya memiliki 229 alutsista udara yang mencakup Su-30 Rusia, drone Iran, dan F-16 tua buatan AS dari tahun 1980-an.

Kendaraan Lapis Baja

Amerika Serikat: Tank utama: 4.640 unit, Kendaraan lapis baja lainnya: 391.963 unit

Venezuela: Tank utama: ~200 unit T-72 lama dan BTR-80 (data terbatas), Kendaraan lapis baja ringan dan pengangkut personel: ~1.000 unit

Kapal Perang & Armada Laut

Amerika Serikat: Kapal induk: 11 unit (Nimitz & Ford class), Kapal perang permukaan (perusak, fregat, penjelajah): >150 unit, termasuk 96 kapal perusak kelas Arleigh Burke dan 22 penjelajah kelas Ticonderoga, Kapal selam nuklir serang: 54 unit (Los Angeles, Seawolf, Virginia class)

Venezuela: Kapal selam diesel: 3 unit (kelas Sábalo, Bahía), Kapal permukaan (korvet, fregat, patroli): ~11 unit, dengan tonase ringan dan persenjataan dasar.

Dari Rusia, Caracas membeli 23 jet tempur, delapan helikopter, 12 rudal antipesawat, dan 44 sistem rudal permukaan-ke-udara antara tahun 2006 dan 2011, menurut Evan Ellis dari Institut Studi Strategis di Sekolah Tinggi Perang Angkatan Darat AS.

Ellis mengatakan kepada Agence France-Press bahwa angkatan bersenjata Venezuela tidak berlatih secara kolektif untuk menggunakan semua elemen darat, udara, dan laut ini, yang mempersulit komando operasi yang kompleks.

Maduro mengatakan ia dapat mengerahkan pasukan 8 juta warga Venezuela, tetapi Institut Internasional untuk Studi Strategis memperkirakan angka yang jauh lebih rendah: 123.000 tentara, 8.000 cadangan, dan 220.000 orang yang membentuk sayap sipil militer.

Sebaliknya, AS memiliki lebih dari 1,3 juta personel militer aktif dan sekitar 800.000 personel cadangan.

Bagaimanapun, kata Ellis, militer Venezuela memiliki tingkat desersi yang tinggi dan tingkat rekrutmen yang rendah, dan "moralnya jauh di bawah apa yang diharapkan untuk sebuah konflik."

Perbedaan mencolok lainnya antara kedua negara adalah dalam pengeluaran militer. 

Anggaran militer Venezuela sekitar $4 miliar pada tahun 2023, menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm, turun dari $6,2 miliar satu dekade sebelumnya.

Perang atau Sekadar Ganti Rezim?

Skala pengerahan militer AS memunculkan spekulasi bahwa tujuan utama Presiden Trump adalah menggulingkan Maduro, baik melalui kekuatan militer maupun tekanan politik.

Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa pemerintahan Trump siap menggunakan “seluruh elemen kekuatan Amerika” untuk menghentikan aliran narkoba dan membawa pelaku ke pengadilan. 

Ia menyebut rezim Maduro sebagai “kartel narco-teror” dan bukan pemerintahan yang sah.

Sejarah mencatat bahwa kondisi provokatif seperti ini pernah mendahului intervensi militer besar AS, seperti invasi ke Panama pada tahun 1989 untuk menangkap Manuel Noriega, yang juga didakwa atas kasus narkoba.

Meski kekuatan militer AS saat ini belum cukup untuk melakukan invasi darat ke Venezuela, para komandan Operasi Khusus menyatakan bahwa pasukan komando dapat melancarkan serangan terarah atau misi tangkap-bunuh dari kapal-kapal Angkatan Laut.

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved