Diplomat RI Ditembak di Peru
Pistol yang Bunuh Zetro Purba Milik Polisi Peru, Hilang pada Tahun 2016
Pistol yang telah menewaskan pejabat kedutaan Indonesia, milik polisi Peru, hilang pada tahun 2016 dan berakhir di tangan pembunuh bayaran.
Dan ini bukan insiden yang terisolasi.
Investigasi jurnalistik telah memperingatkan bahwa senjata yang disita atau hilang kembali ke pasar gelap, bahkan ke tangan pembunuh bayaran dan pemeras, seperti organisasi Los Injertos del Cono Norte.
Kasus ini kembali memicu perdebatan tentang kekuatan organisasi kriminal di dalam Kepolisian Nasional (PNP).
Kasus ini juga menyoroti kekurangan struktural dalam sistem pengendalian senjata, yang alih-alih menjamin keselamatan warga negara, justru memungkinkan senjata digunakan melawan penduduk yang seharusnya dilindungi.
Serangan lain oleh pembunuh bayaran
Pada 1 September, pukul 19.30, Zetro Leonardo Purba dicegat oleh dua orang saat tiba di rumahnya di Lince. Pejabat Kedutaan Besar Indonesia tersebut tewas setelah ditembak dengan pistol polisi.
Namun kejahatan tidak berakhir di situ.
Hanya empat jam kemudian, pukul 23.30, senjata yang sama digunakan di San Juan de Miraflores, tempat dua pekerja seks komersial diserang.
Salah satu dari mereka berhasil mengidentifikasi salah satu penyerang, alias " Malaco", yang kini ditahan dan terkait dengan jaringan perdagangan manusia. Menurut kesaksiannya, serangan itu diduga terkait dengan pengumpulan kuota.
Yang paling membuat marah para penyidik adalah sikap dingin para pembunuh bayaran: setelah melepaskan tembakan, mereka menyempatkan diri untuk melakukan panggilan video guna memastikan korban mereka adalah orang yang tepat.
Beberapa jam kemudian, polisi menemukan para pria bersembunyi di sebuah hostel di San Martín de Porres, di mana, selain senjata, mereka juga menemukan batang-batang dinamit, yang kemungkinan digunakan untuk pemerasan.
Serangan ganda ini, yang terjadi pada hari yang sama dan dengan pistol dinas yang sama, tidak hanya mengungkap kekejaman geng yang beroperasi di Lima, tetapi juga rapuhnya sistem pengendalian senjata polisi, yang memungkinkan senjata PNP akhirnya memicu kekerasan di jalanan.
SUMBER: INFOBAE
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Zetro-Leonardo-Purba-seorang-diplomat-Indonesia.jpg)