Konflik China dan AS
Amerika Hidupkan Lagi Pangkalan Angkatan Laut Terbesarnya di Halaman Belakang China
Pelabuhan Filipina ini menjadi pangkalan bagi pasukan sekutu (AS dan negara Barat) di tengah meningkatnya ketegangan di Laut Cina Selatan
Amerika Hidupkan Lagi Pangkalan Angkatan Laut Terbesarnya di Halaman Belakang China
TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) dilaporkan kembali menghidupkan sebuah pelabuhan Filipina yang pernah menjadi rumah bagi pangkalan luar negeri terbesar Angkatan Laut mereka.
Pelabuhan yang dimaksud adalah galangan kapal Agila Subic yang berada di Kawasan Pelabuhan Freeport Zone yang kini kembali sebagai pusat aktivitas sekutu (AS dan negara barat) dan pembuatan kapal.
Baca juga: AS Kerahkan Kapal Induk Nuklir, Kapal Angkatan Laut China Liaoning & Shandong ‘Ancam’ Pasifik Barat
Kawasan pelabuhan ini sekarang dioperasikan oleh Hyundai Heavy Industries yang bersama AS menjadi investor baru dari kawasan pelabuhan yang sebelumnya bangkrut tersebut.
"Investasi baru dari AS dan Korea Selatan menghidupkan kembali kepentingan strategis Teluk Subic di tengah meningkatnya ketegangan regional dengan Tiongkok," tulis laporan Newsweek, dikutip Minggu (21/9/2025).
Mengapa Hal Ini Penting?
Perlu diketahui, pembukaan kembali Teluk Subic sebagai galangan kapal dan pusat logistik terjadi ini lebih dari tiga dekade setelah militer AS menarik diri dari pangkalan tersebut.
Transformasi ini, yang didorong oleh investasi Amerika dan Korea Selatan, serta dukungan pemerintah Filipina.
"Pembukaan kembali kawasan pelabuhan dan galangan kapal ini juga menandakan pergeseran dalam keamanan regional dan berpotensi menjadi pangkalan bagi pasukan sekutu (AS dan negara Barat) di tengah meningkatnya ketegangan di Laut Cina Selatan," kata laporan tersebut.
Filipina terkunci dalam pertikaian teritorial yang berkepanjangan dengan Tiongkok akibat meluasnya teritorial yang diklaim Tiongkok di dalam zona ekonomi eksklusif sekutu perjanjian pertahanan AS tersebut.
Bagi China, laut Filipina dianggap sebagai 'halaman belakang' negara mereka.
Apa yang Perlu Diketahui? AS dan China Rebutan Investasi
Kawasan pelabuhan dan galangan kapal Agila Subic, yang sekarang dioperasikan oleh Hyundai Heavy Industries, menempati fasilitas luas yang awalnya dibangun oleh Hanjin Heavy Industries Korea Selatan.
Hanjin Heavy Industries bangkrut pada tahun 2019 setelah beroperasi sebagai salah satu pusat pembuatan kapal terbesar di Asia Tenggara .
Setelah Hanjin bangkrut, kawasan galangan kapal tersebut menjadi fokus perang penawaran sengit antara pihak perwakilan AS dan Tiongkok, menurut USNI News.
Perusahaan investasi Amerika Cerberus Capital Management akhirnya mengambil alih, mengalahkan pesaing mereka dari Tiongkok dalam penawaran, dan membuka jalan bagi aktivitas baru AS dan sekutu di Subic.
Sejak direvitalisasi, galangan kapal ini telah menarik beragam penyewa, termasuk Angkatan Laut Filipina, perusahaan pertahanan AS, dan perusahaan maritim.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pelabuhan-Filipina-pangkalan-AL-Amerika.jpg)