Jumat, 22 Mei 2026

Ratusan Warga Irlandia Protes Kematian Pria Kongo Setelah Ditahan Petugas Keamanan

Ratusan orang berdemonstrasi di Dublin setelah Yves Sakila meninggal saat ditahan petugas keamanan toko.

Tayang:
Editor: Tiara Shelavie
Tangkap layar YouTube Irish Mirror
KEKERASAN BERBASIS RAS - Tangkap layar YouTube Irish Mirror 20 Mei memperlihatkan orang-orang menggelar doa bersama atas kemarian pria asal Kongo, Yves Sakila. Ia tewas saat ditahan oleh petugas keamanan di pusat kota Dublin 
Ringkasan Berita:
  • Ratusan orang berdemonstrasi di Dublin setelah Yves Sakila meninggal saat ditahan petugas keamanan toko.
  • Video yang menunjukkan Sakila ditahan di tanah selama beberapa menit memicu kemarahan publik.
  • Perdana Menteri Irlandia meminta penyelidikan menyeluruh atas insiden tersebut.

TRIBUNNEWS.COM - Ratusan orang menggelar demonstrasi di luar gedung parlemen Irlandia pada Kamis (21/5/2026) untuk menyuarakan kemarahan atas kematian seorang pria kelahiran Kongo setelah ia ditahan di luar sebuah pusat perbelanjaan di Dublin pekan lalu dalam insiden yang mengejutkan negara tersebut.

Yves Sakila ditahan oleh petugas keamanan di salah satu jalan perbelanjaan tersibuk di ibu kota pada Jumat lalu terkait dugaan pencurian di toko, kata polisi.

Ia kemudian tidak sadarkan diri di lokasi dan dinyatakan meninggal dunia tak lama setelah itu.

Sebuah video insiden yang tersebar luas di media sosial beberapa hari kemudian memperlihatkan Sakila ditahan di tanah oleh lima pria selama hampir lima menit sementara para saksi melihat kejadian tersebut.

Dua pria terlihat menekan wajahnya ke tanah, dan pada satu titik salah satu dari mereka tampak berlutut di kepala atau lehernya selama beberapa detik.

Para demonstran di luar parlemen meneriakkan slogan “tidak ada penutupan kasus, tidak ada penundaan” dan “keadilan untuk Yves, martabat untuk semua”.

Sebagian membawa poster bertuliskan “Justice” dan “cead mile failte” — ungkapan bahasa Irlandia yang berarti “seratus ribu sambutan” — adalah untuk semua orang.

Poster tulisan tangan lainnya berbunyi, “Yves, hidupmu berarti, nyawa orang kulit hitam berarti.”

Insiden ini kembali mengingatkan publik pada kasus George Floyd, pria kulit hitam asal Minneapolis yang tewas setelah seorang polisi berlutut di lehernya selama beberapa menit saat penangkapan pada Mei 2020.

Kematian Floyd memicu gerakan Black Lives Matter di Amerika Serikat dan gelombang protes terhadap kekerasan polisi serta rasisme.

Baca juga: Spanyol-Irlandia Ajak Negara Uni Eropa Beri Sanksi Ekonomi Terhadap Israel, Jerman Menghalangi

Sakila, yang menurut polisi berusia sekitar 30-an tahun, pindah ke Irlandia saat masih sangat muda, kata Laure Zoya, wakil presiden kelompok Komunitas Kongo di Irlandia. Ia mengatakan komunitas kecil warga Kongo di Irlandia kini tidak lagi merasa aman.

Video insiden tersebut disebut oleh anggota parlemen sebagai sesuatu yang “menyedihkan” dan “mengganggu”.

Perdana Menteri Micheal Martin meminta penyelidikan menyeluruh dan mengatakan cara kematian Sakila telah menimbulkan kekhawatiran besar di masyarakat.

Polisi mengatakan pada Kamis bahwa mereka telah mengumpulkan rekaman CCTV dan video media sosial, serta ingin berbicara dengan siapa pun yang berada di dekat Arnotts, salah satu pusat perbelanjaan paling terkenal di negara itu, saat insiden terjadi pada jam sibuk Jumat lalu.

Polisi juga mengatakan pemeriksaan autopsi telah selesai dilakukan, tetapi hasilnya belum dirilis untuk alasan operasional.

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved