Konflik Korea
AS Perbanyak Pasukan di Korea Selatan, Korea Utara Punya China dan Rusia, Kim Jong Un: Ancaman!
Kim Jong Un mengklaim kalau AS sedang bersiap untuk memastikan dapat melancarkan "serangan pendahuluan" terhadap Korut
AS Perbanyak Pasukan di Korea Selatan, Korea Utara Punya China dan Rusia, Kim Jong Un: Ancaman!
TRIBUNNEWS.COM - Korea Utara akan "mengambil langkah-langkah militer tambahan" dalam menghadapi apa yang Pyongyang lihat sebagai "perkuatan kekuatan militer Amerika Serikat" di dekat negara yang tertutup itu.
Hal itu dinyatakan pemimpin negara itu, Kim Jong Un terkait eskalasi yang berkembang di kawasan tersebut, khususnya terkait keberadaan pasukan AS di Korea Selatan.
Baca juga: Korea Utara Diduga Miliki 2.000 Kg Uranium Hasil Pengayaan, Korsel Diminta Makin Waspada
Mengapa Hal Ini Penting
Korea Utara telah berpaling dari jalur reunifikasi yang telah lama dijalin dengan Korea Selatan.
Kedua negara secara teknis masih berperang beberapa dekade setelah perjanjian gencatan senjata tahun 1953 mengakhiri Perang Korea yang berlangsung selama tiga tahun.
Pemerintah Korea Selatan sebetulnya menyatakan harapannya untuk meredakan ketegangan dengan Korea Utara, aspirasi yang tampaknya telah dikesampingkan oleh Pyongyang.
Pyongyang semakin dekat dengan Rusia dan Tiongkok seiring dengan terus berlanjutnya program peningkatan kekuatan militer dan pengembangan persenjataan yang intensif, termasuk kemampuan nuklirnya.
Para pejabat dan pakar Barat meyakini Rusia telah menawarkan bantuan dalam program militernya ke Korea Utara.
Ini membuat sikap Pyongyang sangat kritis terhadap hubungan AS dengan Korea Selatan dan Jepang.
Sebagai catatan, baik AS, Korea Selatan, dan Jepang merupakan negara-negara yang cemas atas persenjataan nuklir Korea Utara yang terus berkembang, uji coba rudal balistik antarbenua, dan pameran desain hipersonik.
Apa yang Perlu Diketahui
"Sejalan dengan peningkatan persenjataan militer AS di kawasan Korea Selatan, perhatian strategis kami terhadap kawasan ini juga meningkat, dan oleh karena itu kami telah menugaskan aset khusus kami ke target-target utama yang menjadi perhatian kami," ujar Kim dalam pidato yang dilaporkan oleh media pemerintah Korea Utara.
ROK, atau Republik Korea, adalah nama resmi Korea Selatan.
Seoul adalah sekutu utama AS dan sekitar 28.500 tentara AS ditempatkan secara permanen di semenanjung yang terbagi tersebut.
Kedua negara telah mengadakan beberapa latihan gabungan dalam beberapa bulan terakhir, termasuk latihan Freedom Edge — yang melibatkan Jepang — yang berakhir pada 19 September. Bulan lalu, Angkatan Udara AS membentuk skuadron drone MQ-9 Reaper permanen di Korea Selatan.
Kim mengatakan hubungan antara Washington dan Seoul "mencapai kemajuan pesat," termasuk dengan melaksanakan latihan militer.
"Baru-baru ini, Amerika Serikat mengambil langkah-langkah untuk memperluas persediaan aset militernya di dalam dan sekitar Korea Selatan, yang menimbulkan ancaman nyata dan serius terhadap keamanan negara kami dan negara-negara lain di kawasan ini," ujar Kim.
Dia mengklaim kalau AS sedang bersiap untuk memastikan dapat melancarkan "serangan pendahuluan" terhadap negara yang tertutup tersebut.
"Musuh, saya pikir, harus memikirkan arah pergerakan lingkungan keamanan mereka," ujar Kim saat berpidato di sebuah acara industri pertahanan yang menandai peringatan 80 tahun berdirinya Partai Buruh Korea.
Ia tidak menjelaskan lebih lanjut, tetapi mengatakan bahwa acara tersebut memberikan "tampilan visual" tentang kemampuan Pyongyang.
Parade militer besar untuk memperingati ulang tahun ke-80 direncanakan akan diadakan pada 10 Oktober.
Intelijen Korea Selatan melaporkan bahwa puluhan ribu orang akan menghadiri acara tersebut, menurut kantor berita negara itu, Yonhap.
"Jika Amerika Serikat terus mengambil langkah-langkah berbahaya untuk memperkuat kekuatan militernya tanpa menghiraukan kekhawatiran keamanan negara-negara di kawasan, perkembangan ini akan memacu kami lebih kuat untuk menerapkan langkah-langkah militer dan teknologi yang relevan guna menyingkirkan ancaman-ancaman baru dan menjaga keseimbangan kekuatan," ujar Kim.
"Kami pasti akan mengadopsi langkah-langkah militer tambahan yang sesuai dengan manuver mereka."
Kim Jong Un menggambarkan program nuklir Korea Utara sebagai "tulang punggung" angkatan bersenjata Pyongyang dan berada pada "posisi yang semakin modern dan maju."
(oln/nw/*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pemimpin-Korea-Utara-Kim-Jong-Un-telah-mengawasi-uji-coba-darat-mesin-rudal-hipersonik.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.