Konflik Rusia Vs Ukraina
Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.325, Zelenskyy Ingin Trump Raih Nobel Perdamaian
Perang Rusia-Ukraina hari ke-1.325, Presiden Ukraina Zelenskyy ingin Presiden AS Donald Trump meraih Nobel Perdamaian karena upayanya untuk Ukraina.
TRIBUNNEWS.COM - Perang Rusia dengan Ukraina memasuki hari ke-1.325 pada Jumat (10/10/2025), memperpanjang perang sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022.
Perang antara Rusia dan Ukraina berawal dari ketegangan panjang yang telah berlangsung sejak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991.
Setelah perpecahan tersebut, Rusia menjadi penerus utama Uni Soviet, sementara Ukraina memilih berdiri sebagai negara merdeka.
Sejak saat itu, hubungan keduanya sering diwarnai konflik terkait perbatasan, identitas nasional, serta perbedaan arah politik.
Situasi memanas pada tahun 2014 setelah terjadinya Revolusi Maidan di Ukraina, yang menggulingkan Presiden Viktor Yanukovych—seorang pemimpin pro-Rusia.
Pemerintahan baru Ukraina kemudian mempererat hubungan dengan negara-negara Barat, langkah yang dianggap Rusia sebagai ancaman terhadap pengaruhnya di kawasan.
Sebagai tanggapan, Rusia mencaplok wilayah Krimea dan memberikan dukungan kepada kelompok separatis di Donetsk dan Luhansk, yang memicu pertempuran di wilayah Donbas.
Ketegangan tersebut mencapai puncaknya pada Februari 2022, ketika Presiden Vladimir Putin melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina.
Putin mengklaim bahwa operasi militer tersebut dilakukan untuk memberantas kelompok “neo-Nazi” di Kyiv, melindungi warga keturunan Rusia di Donbas, serta mencegah Ukraina bergabung dengan NATO, yang menurutnya membahayakan keamanan Rusia.
Pada hari Kamis (9/10/2025), militer Ukraina menyerang pabrik pengolahan gas Korobkovsky dan infrastruktur transportasi minyak di wilayah Volgograd, Rusia, semalam.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pasukannya telah menyerang fasilitas pelabuhan dan infrastruktur energi di wilayah Odessa, Ukraina, yang digunakan oleh tentara Ukraina.
Baca juga: Rudal Rusia Tembak Jatuh Pesawat Penumpang Azerbaijan Airlines, Putin: Gara-gara Drone Ukraina
Pasukan Rusia melancarkan serangan besar-besaran ke ibu kota, mengakibatkan pemadaman listrik dan air.
Pada pukul 03.39 waktu setempat, dilaporkan di distrik Desnyanskyi di Kyiv, pecahan rudal atau drone ditemukan di wilayah poliklinik.
Beberapa menit sebelumnya, terdengar ledakan yang dilaporkan di Dnipro, menurut koresponden Suspilne.
23 Anak Ukraina Dievakuasi dari Wilayah Pendudukan
Andriy Yermak, kepala staf Presiden Volodymyr Zelenskyy, mengumumkan pada Kamis bahwa 23 anak dan remaja Ukraina berhasil dipulangkan dari wilayah yang diduduki Rusia ke wilayah yang berada di bawah kendali Kyiv.
Yermak menjelaskan bahwa operasi ini dilakukan melalui program presiden "Bring Kids Back UA", yang bertujuan memulangkan anak-anak yang dideportasi ke Rusia atau ditahan di wilayah Ukraina yang dikuasai Rusia ke tempat yang aman.
Trump Menekan Rusia Agar Akhiri Perang
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington dan sekutu NATO sedang "meningkatkan tekanan" untuk mengakhiri perang di Ukraina, menyusul kegagalannya menghubungi Presiden Rusia, Vladimir Putin, untuk mencapai gencatan senjata.
"Ya, kami meningkatkan tekanan," kata Trump di Ruang Oval saat bertemu dengan Presiden Finlandia Alexander Stubb.
"Kita meningkatkannya bersama-sama. Kita semua meningkatkannya. NATO telah melakukan hal yang hebat," tambahnya.
Trump juga menyebut bahwa pemerintahannya kemungkinan akan memberlakukan sanksi tambahan terhadap Rusia.
Rusia: Pembicaraan Damai Mandek
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan dialog antara Rusia dan AS mengenai penyelesaian konflik Ukraina saat ini "berhenti sejenak," menyusul hilangnya momentum dari pertemuan puncak Alaska antara Putin dan Trump.
Meskipun delegasi Rusia dan Ukraina telah mengadakan beberapa pertemuan, termasuk di Istanbul pada Juli untuk membahas aspek politik, militer, dan kemanusiaan, Peskov menegaskan "tidak ada kemajuan."
Ia menuduh Kyiv tidak serius dalam proses damai dan dipengaruhi oleh tekanan dari Eropa, sementara Moskow menegaskan tetap terbuka terhadap kesepakatan yang menghormati kepentingan keamanan nasional dan realitas teritorial Rusia.
Dmitry Peskov menuduh Ukraina tidak tertarik untuk mengakhiri perang secara damai dengan Rusia, karena yakin masih bisa membalikkan situasi di medan perang.
"Proses pengambilan keputusan Ukraina ditentukan oleh harapan palsu bahwa sesuatu akan berubah di garis depan dan bergeser ke dinamika yang positif," kata Dmitry Peskov kepada wartawan di Dushanbe, Tajikistan pada Kamis.
Sementara itu, Ukraina dikabarkan meminta AS untuk memberikan rudal Tomahawk yang diyakini dapat membuat Rusia menyerah, namun Rusia memperingatkan AS untuk tidak memberikannya, lapor Russia Today.
Rusia dan Ukraina Saling Tuduh soal Insiden Gas Beracun
Rusia menuduh Ukraina pada Kamis telah merusak pipa amonia yang kini tidak lagi beroperasi — jalur yang sebelumnya digunakan untuk menyalurkan amonia Rusia ke Ukraina guna keperluan ekspor — sehingga menyebabkan kebocoran gas beracun ke udara.
Menurut pihak Rusia, insiden tersebut terjadi di dekat desa garis depan Rusin Yar, yang terletak di wilayah Donetsk, Ukraina bagian timur.
Dua Minggu Tanpa Daya, PLTN Zaporizhzhia Mulai Pulih
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengumumkan pada Kamis bahwa proses pemulihan pasokan listrik eksternal ke Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia di Ukraina tenggara, yang saat ini berada di bawah kendali Rusia, telah dimulai setelah lebih dari dua minggu terputus dari jaringan utama.
Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, menyampaikan bahwa proses tersebut dilakukan setelah adanya koordinasi dengan pihak berwenang di Ukraina dan Rusia, yang saling menuduh satu sama lain atas terputusnya jalur listrik eksternal tersebut.
Ukraina Serang Fasilitas Minyak Rusia
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa serangan menggunakan rudal dan drone jarak jauh buatan Ukraina yang baru dikembangkan telah menyebabkan kekurangan gas yang signifikan di Rusia.
Ia menambahkan, serangan balasan pasukan Ukraina di medan perang berhasil menggagalkan upaya Rusia untuk menguasai sebagian wilayah Donetsk bagian timur.
Menurutnya, rudal baru Ukraina bernama Palianytsia telah menghantam puluhan gudang militer Rusia.
Selain itu, drone rudal Ruta dilaporkan berhasil menyerang anjungan minyak lepas pantai milik Rusia yang terletak lebih dari 250 kilometer jauhnya, dalam apa yang disebut Zelenskyy sebagai "keberhasilan besar" bagi persenjataan baru tersebut.
Zelenskyy Usulkan Trump Jadi Kandidat Nobel Perdamaian
Dalam sebuah konferensi pers menjelang pengumuman penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengusulkan agar Presiden AS Donald Trump dinominasikan untuk penghargaan tersebut.
Ide itu disampaikan menjelang proses pemilihan resmi yang biasanya dilakukan pada awal musim gugur.
"Jika Trump memberi dunia – terutama rakyat Ukraina – kesempatan untuk gencatan senjata seperti itu, maka ya, ia harus dinominasikan untuk Hadiah Nobel Perdamaian. Kami akan mencalonkannya atas nama Ukraina," kata Zelensky dalam pernyataannya yang dirilis pada Kamis.
Hadiah Nobel Perdamaian biasanya diumumkan setiap tahun pada bulan Oktober.
Tahun ini, pengumuman pemenang Hadiah Nobel Perdamaian dijadwalkan pada Jumat, 10 Oktober 2025, pukul 11:00 waktu setempat (CEST) di Institut Nobel Norwegia, Oslo, Norwegia.
Setelah diumumkan, hadiah biasanya diberikan pada 10 Desember, bertepatan dengan hari wafatnya Alfred Nobel, pendiri hadiah Nobel.
Zelensky: Rusia Tebar Serangan ke Kereta Api
Zelensky menuding Rusia berupaya menciptakan kekacauan di Ukraina dengan menyerang jaringan energi serta infrastruktur perkeretaapian negaranya, menurut pernyataannya yang dirilis pada Kamis.
Dalam beberapa minggu terakhir, Moskow diketahui meningkatkan intensitas serangan udara yang menargetkan fasilitas energi dan sistem transportasi kereta di Ukraina, lapor The Guardian.
Tim Ukraina akan ke AS Minggu Depan
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengumumkan bahwa Perdana Menteri, kepala kantor kepresidenan, serta penasihat senior bidang sanksi akan berkunjung ke Amerika Serikat pada awal pekan depan untuk melakukan pembicaraan dengan pejabat AS.
Dalam pernyataannya di media sosial, Zelenskyy menyebutkan bahwa agenda utama pertemuan tersebut mencakup isu pertahanan udara, sektor energi, kebijakan sanksi, serta jalur negosiasi.
Ia juga menambahkan bahwa pembahasan mengenai pembekuan aset akan menjadi salah satu topik penting dalam kunjungan tersebut.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ZELENSKYYY-TEMUI-TRUMPP-324324.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.