Kamis, 30 April 2026

Sanae Takaichi Berpeluang Jadi PM Jepang Wanita Pertama Meski Dukungan Perempuan Rendah

Popularitas Takaichi lebih banyak bersumber dari rekam jejak politik dan reputasinya yang konservatif, bukan semata karena faktor gender

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
Richard Susilo
CALON PM JEPANG - Chiyako Sato, Editorial Writer Redaktur Senior dari koran Mainichi. Sato menilai dukungan perempuan Jepang terhadap Sanae Takaichi, Ketua Partai Liberal Demokrat (LDP), tampaknya belum begitu menonjol. Namun, politikus konservatif tersebut diperkirakan kuat menjadi perdana menteri wanita pertama Jepang pada 21 Oktober 2025 mendatang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Dukungan perempuan Jepang terhadap Sanae Takaichi, Ketua Partai Liberal Demokrat (LDP), tampaknya belum begitu menonjol. Namun, politikus konservatif tersebut diperkirakan kuat menjadi perdana menteri wanita pertama Jepang pada 21 Oktober 2025 mendatang.

Menurut Chiyako Sato, editorial writer sekaligus redaktur senior koran Mainichi Shimbun, popularitas Takaichi lebih banyak bersumber dari rekam jejak politik dan reputasinya yang konservatif, bukan semata karena faktor gender.

“Tidak ada survei khusus mengenai dukungan perempuan terhadap Takaichi.

Namun, prestasinya di dunia politik dan visinya membangkitkan Jepang kembali membuatnya populer dan didukung banyak politisi LDP. Itu yang menjadikannya calon kuat perdana menteri wanita pertama,” ujar Chiyako Sato kepada Tribunnews.com, Selasa (15/10/2025).

Baca juga: Sanae Takaichi Terancam Jumlah Suara, Apakah akan Jadi PM Jepang Setelah Komeito Keluar?

 Sato memperkirakan dukungan perempuan terhadap Takaichi masih sekitar 50:50.

“Belum ada data resmi yang membedakan dukungan antara laki-laki dan perempuan. Tapi tampaknya biasa saja. Meski begitu, banyak perempuan berharap Takaichi bisa membawa perubahan nyata bila terpilih, terutama dalam memajukan peran wanita di pemerintahan yang selama ini tertinggal dibanding negara maju lain,” jelasnya.

Peluang Politik dan Tantangan Koalisi

Meski memiliki peluang besar, masa jabatan Takaichi dinilai mungkin tidak akan panjang.

Hal ini karena LDP saat ini hanya memiliki 196 kursi di parlemen sedangkan tiga partai oposisi jika bersatu bisa mencapai 210 kursi dan berpeluang memilih perdana menteri sendiri.

“Namun sulit bagi oposisi untuk bersatu karena perbedaan visi dan ambisi masing-masing pemimpin. Jadi kemungkinan besar Takaichi akan mencoba menarik satu atau dua partai oposisi untuk bergabung dalam koalisi,” tutur Sato.

Ia menambahkan, bila koalisi tersebut terbentuk, Takaichi kemungkinan akan menghadapi tantangan baru dalam menjaga stabilitas pemerintahan karena adanya perbedaan kepentingan antarpartai.

Sementara itu, Profesor Masato Kamikubo dari Universitas Ritsumeikan mengungkapkan bahwa isu perempuan juga turut memicu keluarnya Partai Komeito dari koalisi LDP yang telah terjalin selama 26 tahun.

“Komeito sangat dipengaruhi oleh kelompok Soka Gakkai, terutama para perempuan pendukungnya. Banyak dari mereka tidak mendukung Takaichi," kata Kamikubo.

Selain itu, hubungan antara Komeito dan Taro Aso di LDP juga memburuk, dan tak ada lagi jalur komunikasi yang baik setelah perubahan kepemimpinan.

Diskusi mengenai calon perdana menteri baru Jepang kini menjadi topik hangat di kalangan pemerhati politik. Komunitas Pencinta Jepang juga turut aktif membahas isu ini dan yang ingin bergabung dapat mengirimkan nama, alamat, dan nomor WhatsApp ke tkyjepang@gmail.com

 

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved