Panic Buying Menggila di Australia, Warga Serbu Toko Emas Antrean Panjang Mengular di Martin Place
Warga Australia serbu toko emas hingga antrean mengular di Martin Place. Fenomena panic buying picu kelangkaan hingga harga emas melesat tajam
Ringkasan Berita:
- Warga Australia serbu toko emas di Sydney, Melbourne, Perth, dan Brisbane hingga antrean mengular di Martin Place.
- Fenomena panic buying ini dipicu oleh ketakutan akan kelangkaan emas di tengah lonjakan harga yang mencapai rekor tertinggi, yakni 4.200 dolar AS per ons atau setara Rp 70 juta per ons.
- Pembelian besar-besaran dipicu kombinasi faktor global seperti ketegangan geopolitik, penurunan suku bunga, dan melemahnya dolar AS, yang membuat emas dipandang sebagai aset aman.
TRIBUNNEWS.COM - Dalam beberapa hari terakhir, warga Australia berbondong-bondong mengantre di berbagai toko emas untuk memborong logam mulia.
Fenomena tak biasa itu dikenal sebagai panic buying emas, yaitu tindakan saat warga beramai-ramai membeli barang dalam jumlah besar karena khawatir berlebih akan kehabisan atau kelangkaan produk.
Menurut laporan media lokal The Sydney Morning Herald, salah satu toko emas terbesar yang ada di tengah kota Sydney dalam beberapa hari terakhir berubah sangat ramai seperti pasar yang diserbu pembeli.
Hal serupa juga terjadi di kawasan bisnis ABC Bullion Martin Place, sekitar lebih dari 100 orang antrean panjang mengular hingga ke luar toko demi membeli emas batangan.
Sedangkah General Manager ABC Bullion Jordan Eliseo mengatakan sekitar 1.000 orang terus menerus mengunjungi toko-toko mereka di Sydney, Melbourne, Perth, dan Brisbane setiap harinya.
Kepanikan ini tidak muncul tanpa sebab. Para analis menilai, aksi borong emas besar-besaran di Australia terjadi karena kombinasi faktor ekonomi dan psikologis yang saling berkaitan.
Lonjakan harga emas yang terus menembus rekor baru memicu rasa takut tertinggal di kalangan masyarakat dan investor.
Adapun peningkatan permintaan emas ini tidak hanya didorong oleh kenaikan harga, tetapi juga oleh kondisi ekonomi dan politik dunia yang tidak menentu.
Ketegangan geopolitik akibat kebijakan perdagangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, hubungan Amerika–China yang semakin memburuk, serta krisis fiskal di sejumlah negara menjadi faktor utama yang mendorong masyarakat mencari aset aman.
Dalam situasi seperti ini, emas dipandang sebagai penyimpan nilai paling stabil di tengah gejolak pasar global.
Selain itu, penurunan suku bunga di berbagai negara dan melemahnya nilai tukar dolar Amerika juga turut meningkatkan minat terhadap emas.
Baca juga: Harga Emas Antam Melonjak Drastis Hari Ini, 17 Oktober 2025: Naik Sebanyak Rp78.000 per Gram
Saat suku bunga rendah, keuntungan dari menabung di bank menjadi kecil, sementara emas justru cenderung naik nilainya.
Inilah yang membuat banyak orang beralih ke emas sebagai bentuk perlindungan kekayaan.
Fenomena tersebut dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), mendorong publik membeli emas sebanyak mungkin sebelum harganya kembali naik.
Bahkan banyak warga rela berdiri berjam-jam demi mendapatkan emas batangan, meski harga telah mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/LAKUEMAS-ajak-generasi-muda.jpg)