Konflik Palestina Vs Israel
Hamas Rayu Israel, Minta Jalan Aman bagi Anggota yang Terjebak di Terowongan Gaza
Hamas mendesak Israel membuka jalan aman bagi militan yang terkurung di terowongan Rafah, namun respon Tel Aviv belum mengarah pada kesepakatan.
Ringkasan Berita:
- Hamas mendesak mediator seperti Qatar, Mesir, Turki, dan AS untuk menekan Tel Aviv agar mengizinkan evakuasi anggota Hamas tanpa serangan.
- Israel menolak permintaan tersebut, menyatakan tidak akan memberikan akses aman dan menegaskan operasinya bertujuan menghancurkan kekuatan militer Hamas.
- Efektivitas gencatan senjata yang dimediasi AS dipertanyakan, karena meski ada kesepakatan penghentian tembak sejak 10 Oktober, pelanggaran masih terjadi dan situasi di Gaza menunjukkan perang belum berhenti
TRIBUNNEWS.COM - Hamas secara terbuka meminta Israel memberi akses aman bagi puluhan anggotanya yang kini terjebak di terowongan bawah tanah Rafah.
Permintaan ini disampaikan Hamas lewat negara-negara mediator yang aktif memfasilitasi dialog dan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.
Adapun negara mediator yang dimaksud merujuk pada Qatar, Mesir, Turki, serta Amerika Serikat, keempatnya terlibat dalam berbagai proses negosiasi, mulai dari pembebasan sandera, penghentian tembakan, hingga pengaturan zona aman di Gaza.
Dalam keterangan resminya Hamas mendesak negara-negara mediator untuk menekan Israel agar memberikan jalur keluar tanpa serangan, sebagai upaya penyelamatan para militan yang tertahan sejak operasi darat Israel diperluas ke wilayah Gaza selatan.
“Kami meminta para mediator menekan Israel agar mengizinkan putra-putra kami pulang. Israel kami anggap bertanggung jawab penuh atas nyawa para pejuang itu,” tulis Hamas mengutip dari Al Arabiya.
Hamas menegaskan bahwa keselamatan para anggotanya menjadi prioritas, terlebih mereka berada dalam kondisi tanpa akses makanan, udara layak, dan kemungkinan minimnya komunikasi internal.
Selain untuk menyelamatkan nyawa pasukan yang tersisa, dinilai sebagai langkah sistem pertahanan organisasi agar struktur tempur mereka tidak habis di bawah tanah tanpa perlawanan atau negosiasi.
Hamas melalui pernyataannya menyebut bahwa Israel harus bertanggung jawab atas nyawa mereka, dan meminta mediator regional bergerak cepat untuk mencegah korban tambahan dalam jaringan terowongan.
Ini merupakan pertama kalinya Hamas secara terbuka mengakui bahwa para petempurnya terjebak di dalam terowongan Gaza, sejak gencatan senjata berlangsung.
Baca juga: PBB Desak Investigasi Serangan Israel di Lebanon yang Tewaskan 13 Warga Sipil
Israel Tolak Permintaan
Media Israel melaporkan bahwa selama berminggu-minggu, antara 100-200 militan Hamas terjebak dalam jaringan terowongan di bawah kota Rafah, Jalur Gaza bagian selatan, yang kini berada di bawah kendali militer Tel Aviv.
Namun, hingga kini tidak ada indikasi bahwa Israel akan menyetujui permintaan tersebut.
Pemerintah Israel secara konsisten menolak pemberian akses aman, menyatakan bahwa tujuan utama operasi militer adalah melumpuhkan struktur pertahanan Hamas secara total.
Termasuk fasilitas terowongan yang dinilai menjadi tulang punggung pergerakan mereka.
“Tidak ada akses aman bagi 200 anggota Hamas,” tegas pejabat Israel itu, menyatakan bahwa melenyapkan kekuatan militer Hamas tetap menjadi prioritas utama Israel.
Dengan tak ada kesepakatan evakuasi, setiap upaya keluar dari terowongan berpotensi kembali berakhir dengan baku tembak, sementara puluhan militan lainnya masih bertahan di kedalaman tanah tanpa kepastian nasib.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/SAYAP-MILITER-HAMAS-Seorang-petempur-Brigade-Al-Qassam.jpg)