Rocky Gerung: Bangsa Dinilai dari Akal Sehat dan Martabat, Bukan Harga Pasar
Rocky mengingatkan ancaman bias teknologi terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Rocky menyebut diskusi tersebut sebagai wujud kesadaran kritis diaspora.
“Ini bukan sekadar forum; ini community of thought, komunitas yang berpikir, bukan hanya bertepuk tangan,” ujarnya.
Menutup sesi, Rocky kembali menekankan pentingnya keberpihakan pada nalar.
“Masa depan bangsa tidak membutuhkan dealer kekuasaan, tetapi leader—pemimpin yang berpikir dengan etika, bukan sentimen,” katanya.
Diskusi Winter Talk 2025 sendiri mempertemukan lebih dari 150 diaspora Indonesia di Jepang.
“Peserta tidak hanya dari Hiroshima, tetapi juga dari Tokyo, Okayama, Yamaguchi, Kyoto, Yokohama, dan wilayah lain,” kata Ketua PPI Hiroshima, Reza Abdullah.
Mengusung tema “Peran Diaspora Indonesia di Jepang: Dinamika Kebangsaan & Tantangan Kontemporer,” acara ini menghadirkan Rocky sebagai pembicara utama dan berlangsung selama hampir tiga jam dalam tiga segmen.
Ketua PPI Hiroshima, Reza Abdullah, berharap Winter Talk dapat menjadi agenda intelektual tahunan.
“Kami ingin forum ini menjadi tradisi berpikir, bukan sekali datang lalu hilang,” tutupnya.
Banyak peserta menyebut forum ini sebagai momentum langka.
Salah satu peserta berkomentar, “Diskusi seperti ini sulit ditemukan di luar negeri—ini kesempatan untuk berpikir bersama.”
Diskusi berlangsung hampir tiga jam dan terbagi menjadi tiga segmen: Identitas Kebangsaan, Generasi Muda dan Indonesia Emas 2045, serta Tantangan Kontemporer dalam Politik dan Etika Teknologi.
Bagi yang tertarik mengikuti diskusi beasiswa di Jepang oleh komunitas Pencinta Jepang dapat bergabung secara gratis. Kirimkan nama, alamat, dan nomor WhatsApp ke email: tkyjepang@gmail.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/rockygerung1122222.jpg)