Konflik Rusia Vs Ukraina
Vladimir Putin: Jika Eropa Ingin Perang dengan Rusia, Kami Siap
Vladimir Putin mengulangi tuduhannya kalau para pemimpin Eropa menghalangi upaya AS untuk menengahi perdamaian di Ukraina.
Vladimir Putin: Jika Eropa Ingin Perang dengan Rusia, Kami Siap
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Rusia Vladimir Putin Selasa (2/12/2025) mengatakan kalau Rusia "siap" berperang jika Eropa menginginkannya.
Kesiapan Rusia itu dinyatakan Putin dibarengi tuduhan kalau para pemimpin benua itu mencoba menyabotase kesepakatan mengenai perang Ukraina sebelum ia bertemu dengan utusan Amerika Serikat (AS).
Baca juga: Putin Datangi Pos Komando Perang, Tentara Rusia Rebut Kota Penting Pokrovsk di Ukraina Timur
Komentar Vladimir Putin itu muncul saat utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff dan menantunya, Jared Kushner, berada di Moskow untuk melakukan pembicaraan berisiko tinggi guna mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Disebut berisiko tinggi lantaran peluang untuk perdamaian cenderung kecil, merujuk pada sikap keras Moskow tetap menduduki wilayah apa yang diklaim Ukraina sebagai teritorial sah negara mereka.
Kedatangan utusan AS ke Moskow ini sebelumnya didahului oleh diplomasi yang intens selama berhari-hari.
"Kami tidak berencana berperang dengan Eropa, tetapi jika Eropa menginginkannya dan memulainya, kami siap sekarang juga," ujar Putin kepada wartawan di Moskow dilansir TMT, Rabu (3/12/2025).
"Mereka tidak punya agenda damai, mereka berada di pihak perang," tambahnya.
Eropa Justu Menolak Draf Awal AS
Putin juga mengulangi klaimnya kalau para pemimpin Eropa menghalangi upaya AS untuk menengahi perdamaian di Ukraina.
Ia menambahkan, perubahan sikap Eropa terhadap rencana terbaru Presiden AS, Donald Trump untuk mengakhiri perang "hanya bertujuan pada satu hal — memblokir seluruh proses perdamaian dan mengajukan tuntutan yang sama sekali tidak dapat diterima oleh Rusia."
Tuduhan Putin itu merujuk pada perubahan draf perjanjian perdamaian.
Draf awal 28 poin Washington untuk mengakhiri konflik kemudian diubah setelah mendapat kritik dari Kiev dan Eropa, yang menganggapnya mengindahkan banyak tuntutan maksimalis Rusia.
Rencana untuk mengakhiri perang didukung oleh Trump, tetapi negara-negara Eropa khawatir rencana tersebut berisiko memaksa Kiev menyerah pada tuntutan Rusia, terutama terkait wilayah.
Karena khawatir akan agresi Rusia lebih lanjut, Eropa telah berulang kali mengatakan bahwa perdamaian yang tidak adil tidak boleh diberlakukan terhadap Ukraina.
Utusan Trump sekarang berusaha menyelesaikan rencana tersebut dengan persetujuan Moskow dan Kiev.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Seorang-tentara-Rusia-di-garis-depan-di-Ukraina.jpg)