Minggu, 10 Mei 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Trump Kecewa Zelenskyy Belum Baca Proposal Perdamaian, Ukraina Akui Diskusi dengan AS Berjalan Sulit

Presiden AS Trump kecewa karena Presiden Ukraina tampak tak mendukung proposalnya, tapi Zelenskyy sebut diskusi Ukraina-AS berjalan baik.

Tayang:
Facebook Zelenskyy
ZELENSKY TEMUI TRUMP - Foto diambil dari Facebook Zelenskyy, Rabu (24/9/2025) memperlihatkan Presiden Ukraina Zelensky (kiri) berfoto bersama Presiden AS Donald Trump (kanan) setelah keduanya menghadiri pertemuan di PBB, New York pada Selasa (23/9/2025). Pada 7 Desember 2025, Trump kecewa dengan Zelenskyy yang dianggap tidak mendukung proposal yang diusulkan AS. 
Ringkasan Berita:
  • Presiden AS Trump kecewa karena Presiden Ukraina Zelenskyy dianggap tidak mendukung proposal perdamaian yang diajukan AS.
  • Zelenskyy sebut pembicaraan delegasi Ukraina dan AS di Miami berlangsung konstruktif meski sulit.
  • Perang Rusia–Ukraina kini memasuki hari ke-1.384.

 

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kecewa dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy karena dianggap tidak mendukung rencana perdamaian yang diusulkan AS untuk mengakhiri perang dengan Rusia.

"Saya berbicara dengan Presiden Putin dan para pemimpin Ukraina, termasuk Zelensky, dan saya harus mengatakan saya sedikit kecewa karena Presiden Zelensky bahkan belum membaca proposal tersebut, padahal itu baru beberapa jam yang lalu," kata Trump kepada wartawan menanggapi pertanyaan dalam upacara penghargaan tahunan Kennedy Center, Minggu (7/12/2025).

Pembicaraan antara pejabat AS dan Ukraina, yang dihadiri Zelenskyy melalui telepon, berakhir pada hari Sabtu setelah berhari-hari berdiskusi tanpa kemajuan yang jelas, lapor Al Jazeera.

Berbeda dengan Trump, Zelenskyy mengatakan pembicaraan delegasi Ukraina dan AS di Miami berlangsung konstruktif meski sulit.

"Perwakilan Amerika mengetahui posisi dasar Ukraina," ujar Zelenskyy dalam pidato video malam harinya.

"Percakapannya konstruktif, meskipun tidak mudah," lanjutnya, dikutip dari Reuters.

Setelah mengatakan hal tersebut, Zelenskyy berjanji untuk mengadakan pembicaraan lebih lanjut guna mencapai "perdamaian sejati" dan mengakhiri perang Rusia-Ukraina.

Pembicaraan pejabat AS dan Ukraina pada hari Minggu terjadi setelah utusan AS Steven Witkoff dan Jared Kushner bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin, tempat Moskow menolak sebagian proposal perdamaian AS, pada 2 Desember lalu.

Rencana AS telah mengalami beberapa modifikasi sejak pertama kali diperkenalkan November lalu, di tengah kritik, terutama dari para pemimpin Eropa, bahwa rencana tersebut terlalu lunak terhadap Rusia, yang menginvasi Ukraina pada Februari 2022.

Update Perang Rusia dan Ukraina

Perang Rusia–Ukraina kini memasuki hari ke-1.384 pada Senin (8/12/2025), menandai berlanjutnya konflik panjang yang berawal dari invasi besar-besaran Rusia pada 24 Februari 2022.

Baca juga: Rusia Klaim Tembak Jatuh 77 Drone Ukraina Selama Akhir Pekan Ini

Perang Rusia–Ukraina yang pecah pada 2022 memiliki akar panjang sejak bubarnya Uni Soviet pada 1991. 

Setelah berdiri sebagai negara merdeka, Ukraina berada pada persimpangan geopolitik yaitu mempertahankan kedekatan historis dengan Rusia atau mempererat hubungan dengan negara-negara Barat.

Perbedaan orientasi politik, klaim wilayah, serta upaya memperkuat identitas nasional membuat hubungan kedua negara kian rapuh. 

Ketegangan memuncak pada 2014 melalui Revolusi Maidan, ketika gelombang protes besar menggulingkan presiden Ukraina yang dianggap terlalu pro-Moskow.

Situasi itu dimanfaatkan Rusia untuk merebut Krimea dan mendukung kelompok separatis di Donbas, sehingga memicu konflik berkepanjangan di timur Ukraina.

Pada 24 Februari 2022, ketegangan berubah menjadi perang terbuka. Dengan alasan melindungi warga keturunan Rusia dan mencegah Ukraina semakin mendekat ke NATO, Moskow melancarkan invasi besar-besaran—tindakan yang memicu kecaman internasional.

Ukraina kemudian mencari dukungan global, terutama dari Amerika Serikat dan negara-negara NATO, guna memperkuat pertahanannya dan menjaga kedaulatan negara.

Di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, berikut perkembangan terbaru terkait perang Rusia–Ukraina.

  • Zelenskyy akan Temui Sekutu Eropa

Zelenskyy diperkirakan akan bertemu dengan sekutu Eropa; Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz pada hari Senin (8/12/2025) di London.

Macron mengatakan mereka akan "membahas" negosiasi perdamaian. 

Dua minggu lalu, keempat pemimpin tersebut berpartisipasi dalam pertemuan virtual "The Coallition of Willing", di mana mereka membahas rencana untuk menempatkan pasukan penjaga perdamaian Eropa di Ukraina jika terjadi gencatan senjata.

Presiden Prancis mengecam apa yang disebutnya jalur eskalasi Rusia.

"Kami akan melanjutkan upaya ini bersama Amerika untuk memberikan jaminan keamanan kepada Ukraina, yang tanpanya perdamaian yang kuat dan langgeng tidak akan mungkin terwujud. Kami harus terus menekan Rusia untuk memaksanya memilih perdamaian," katanya.

  • Hongaria Kirim Delegasi ke Rusia

Perdana Menteri Hongaria yang pro-Putin, Viktor Orbán, mengumumkan pengiriman delegasi bisnis ke Rusia sebagai persiapan untuk mengakhiri perang Ukraina.

Ia mengklaim telah berdiskusi dengan Washington dan Moskow, menegaskan bahwa ia tidak dapat membagikan setiap detailnya. 

"Jika Tuhan berkenan dan perang berakhir tanpa menyeret kita ke dalamnya, dan jika presiden Amerika berhasil mengintegrasikan kembali Rusia ke dalam ekonomi global dan sanksi dicabut, kita akan berada dalam lanskap ekonomi yang berbeda," kata Viktor Orbán.

Menurut media di Hongaria, perusahaan minyak dan gas MOL sedang mempertimbangkan untuk mengakuisisi kilang dan stasiun pengisian bahan bakar di Eropa yang dimiliki oleh perusahaan Rusia, Lukoil dan Gazprom, yang keduanya dikenai sanksi AS.

Di bawah kepemimpinan Viktor Orbán, Hongaria tetap bergantung pada minyak dan gas Rusia, mengabaikan keputusan Uni Eropa yang negara-negara lain telah mendiversifikasi impor mereka dari Rusia sejak invasi Februari 2022.

  • Bulgaria Kesal ketika 'Kapal Armada Bayangan Rusia' Ditarik ke Wilayahnya

Bulgaria menyatakan keberatan atas pemindahan kapal tanker Kairos yang rusak ke wilayah perairannya, lebih dari satu minggu setelah kapal itu terkena serangan drone yang diklaim dilakukan oleh Ukraina. 

Kapal tersebut ditarik oleh sebuah kapal Turki sebelum kemudian kembali menuju Turki, menurut pernyataan Rumen Nikolov, Direktur Jenderal Operasi Penyelamatan dan Bantuan Maritim Bulgaria.

"Situasi ini tidak lazim," kata Nikolov, seraya menegaskan bahwa pemerintah Bulgaria telah meminta klarifikasi melalui jalur diplomatik, lapor The Guardian

Sepuluh awak kapal dilaporkan meminta untuk dievakuasi, namun kondisi cuaca buruk saat itu membuat proses tersebut tidak dapat dilakukan, menurut Kementerian Perhubungan Bulgaria.

Kapal tanker Kairos dan satu kapal tanker lain berbendera Gambia, Virat, menjadi sasaran serangan di Laut Hitam, dekat pantai Turki, pada 28 November. 

Kedua kapal tersebut berada dalam daftar sanksi Barat karena tergolong dalam "armada bayangan" yang dituduh terus mengekspor minyak Rusia secara ilegal dan tidak sesuai standar keselamatan.

Saat diserang, kedua kapal sedang menuju pelabuhan Novorossiysk di Rusia.

Ukraina sebelumnya mengonfirmasi bahwa mereka menargetkan kapal-kapal yang diduga mengangkut minyak Rusia secara terselubung.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved