Reporter New York Times Seret Google AI, xAI, dan OpenAI ke Pengadilan
Perusahaan-perusahaan AI kenamaan tersebut dituding membajak buku-buku mereka dan memasukkannya ke dalam model bahasa besar (LLM)
Ringkasan Berita:
- Jurnalis investigasi John Carreyrou menggugat sejumlah perusahaan AI besar (termasuk xAI, OpenAI, Google, dan Meta) atas dugaan penggunaan buku berhak cipta tanpa izin untuk melatih model AI.
- Gugatan diajukan di pengadilan federal California bersama lima penulis lain, menuduh karya mereka dimasukkan ke dalam model bahasa besar (LLM).
- Kasus ini menambah daftar sengketa hak cipta AI, sekaligus menjadi gugatan pertama yang melibatkan xAI sebagai tergugat.
TRIBUNNEWS.COM - Seorang jurnalis investigasi New York Times sekaligus penulis buku "Bad Blood," John Carreyrou, resmi menggugat xAI, Anthropic, Google, OpenAI, Meta Platforms, dan Perplexity ke pengadilan pada hari Senin (22/12/2025) waktu setempat.
Jurnalis yang terkenal karena mengungkap skandal perusahaan pelayanan kesehatan Theranos pada 2018 ini mengadukan perusahaan-perusahaan tersebut ke pengadilan lantaran dugaan penggunaan buku-buku berhak cipta karyanya tanpa izin untuk melatih sistem kecerdasan buatan mereka.
Adapun John Carreyrou mengajukan gugatan tersebut di pengadilan federal California bersama lima penulis lainnya.
Mereka menuduh perusahaan-perusahaan AI kenamaan tersebut telah membajak buku-buku mereka dan memasukkannya ke dalam model bahasa besar atau Large Language Mode (LLM).
LLM sendiri adalah model kecerdasan buatan yang dirancang untuk memahami dan menghasilkan bahasa manusia secara alami.
Model LLM ini dilatih menggunakan data teks yang sangat besar dari berbagai sumber untuk mempelajari pola, struktur, dan makna dalam bahasa.
Penggunaan karya-karta John Carreyrou beserta lima penulis lainnya tanpa izin oleh perusahaan-perusahaan AI untuk melatih LLM inilah yang menjadi pokok permasalahan pengaduan.
Gugatan ini diajukan karena Carreyrou dan penggugat lainnya menilai karya-karyanya tanpa izin digunakan melalui LLM sebagai penggerak chatbot perusahaan-perusahaan tersebut.
Adapun gugatan ini merupakan salah satu dari beberapa kasus hak cipta yang diajukan oleh penulis dan pemilik hak cipta lainnya terhadap perusahaan teknologi terkait penggunaan karya mereka dalam pelatihan AI.
Dikutip dari Reuters, Kasus ini juga menjadi kali pertamanya xAI ditempatkan sebagai pihak tergugat.
Hingga berita ini diunggah, perwakilan perusahaan-perusahaan tergugat belum memberikan tanggapan segera atas permintaan komentar mengenai gugatan ini.
Berbeda dengan kasus-kasus lain yang masih berlangsung, para penulis ini tidak berupaya menggabungkan gugatan mereka dalam satu tindakan kelas atau class action
Baca juga: Kementerian Ekraf Hadirkan Pelatihan Gig Economy dan AI Challenge untuk Gen Z di Jakarta
Classa Action adalah jenis tuntutan hukum yang diajukan oleh satu atau beberapa perwakilan kelompok (kelas) atas nama banyak orang yang memiliki klaim atau kerugian serupa terhadap tergugat yang sama.
Karena sifat tersebut, gugatan Class Action pun tidak digunakan oleh Carreyrou dan rekan-rekannya karena menurut mereka hal itu bisa menguntungkan tergugat.
Hal ini terjadi karena para tergugat dapat membuka opsi negosiasi penyelesaian tunggal dengan banyak penggugat sehingga ribuan klaim bernilai tinggi dapat diselesaikan oleh perusahaan besar tersebut dalam satu kesepakatan "murah".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ILUSTRASI-AI-KECERDASAN-BUATAN-ARTIFICIAL-INTELLIGENCE-123da.jpg)