Senin, 8 Juni 2026

Upah Naik tapi Hidup Makin Mahal, Prospek Kepuasan Konsumen Jepang Tidak Pasti

Nikkei cetak rekor, tapi dompet warga Jepang makin menipis. Ancaman greedflation dan kenaikan harga 2026 bisa menggerus kepercayaan konsumen

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/Mainichi
Daisuke Iijima dari Departemen Manajemen Informasi Teikoku Databank 

“Tidak ada jaminan pesaing akan ikut menaikkan harga, atau konsumen tetap mengikuti,” katanya.

Ia juga menyinggung istilah “greedflation”—kenaikan harga berlebihan yang melebihi peningkatan biaya—yang mulai menuai kritik di Eropa dan Amerika Serikat.

“Jika konsumen merasa tidak puas, kepercayaan terhadap perusahaan bisa runtuh sekaligus,” tegasnya.

Konsumen Mulai Beralih

Saat ini, rumah tangga lansia dinilai paling sulit menerima kenaikan harga tambahan. 

Sementara generasi pekerja relatif lebih toleran karena kenaikan upah, toleransi tersebut tidak berarti akan terus membeli.

Sebagian konsumen mulai menyesuaikan pola belanja, seperti mengurangi konsumsi beras dan beralih ke pasta atau udon demi menekan pengeluaran.

Tahun Kritis bagi Perusahaan

Iijima menyimpulkan, harga makanan dan minuman pada 2026 hampir dipastikan tidak turun, kecuali beberapa produk tertentu seperti tepung. 

Dalam situasi ini, menjaga kepercayaan konsumen menjadi kunci.

“Jika salah langkah, perusahaan bisa kehilangan pangsa pasar dalam waktu singkat,” tekannya lebih lanjut.

Diskusi  biaya kehidupan di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved