Konflik Palestina Vs Israel
Hamas Konfirmasi Kematian Abu Obeida, Mohammed Sinwar, dan Beberapa Komandan Tingkat Tinggi
Hamas mengkonfirmasi kematian juru bicara Brigade Al-Qassam, Abu Obeida dan mantan pemimpin Hamas, Mohammed Sinwar.
Ringkasan Berita:
- Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas mengkonfirmasi bahwa juru bicara mereka, Abu Obeida tewas dalam serangan Israel.
- Selain Abu Obeida, mantan pemimpin Hamas di Gaza, Mohammed Sinwar dan beberapa komandan tinggi juga dikonfirmasi tewas oleh Brigade Al-Qassam.
- Pengumuman ini mengakhiri spekulasi berbulan-bulan setelah Israel mengklaim telah menewaskan tokoh-tokoh kunci tersebut.
TRIBUNNEWS.COM - Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, secara resmi mengonfirmasi kematian juru bicara legendaris mereka yang dikenal sebagai Abu Obeida.
Tak hanya Abu Obeida, Brigade Al-Qassam juga menyatakan bahwa mantan pemimpin Hamas di Gaza, Mohammed Sinwar tewas dalam gempuran Israel.
Pengumuman ini mengakhiri spekulasi berbulan-bulan setelah Israel mengklaim telah menewaskan tokoh-tokoh kunci tersebut dalam operasi militernya awal tahun ini.
Dalam sebuah pernyataan video yang dirilis pada Senin (29/12/2025), Brigade Al-Qassam tidak hanya membenarkan kabar duka tersebut, tetapi juga memperkenalkan juru bicara baru yang tampil dengan penutup wajah.
Untuk pertama kalinya, identitas asli Abu Obeida diungkap ke publik; ia memiliki nama asli Hudhayfah Samir Abdullah al-Kahlout.
"Kami mengumumkan dengan rasa bangga atas syahidnya pemimpin besar... Abu Obeida. Kami telah mewarisi gelarnya," ujar juru bicara baru tersebut dalam rekaman video, dikutip dari Al Jazeera.
Sebelumnya, militer Israel menyatakan telah menewaskan Mohammed Sinwar — adik dari mantan pemimpin Hamas, Yahya Sinwar — pada Mei lalu.
Tiga bulan kemudian, Israel kembali mengklaim telah melenyapkan Abu Obeida.
Konfirmasi resmi dari Hamas ini menjadi pengakuan pertama atas hilangnya sosok yang selama dua tahun terakhir menjadi wajah strategi media kelompok tersebut dalam perang di Gaza.
Selain Abu Obeida dan Mohammed Sinwar, Al-Qassam juga mengonfirmasi kematian beberapa komandan tingkat tinggi lainnya.
Mereka adalah Mohammed Shabanah (Kepala Brigade Rafah), Hakam al-Issa, dan Raed Saad.
Baca juga: Hamas Akhirnya Akui Kematian Abu Obaida: Tunjuk Juru Bicara Militer Baru, Kenapa Baru Sekarang?
Daftar pemimpin Hamas yang gugur terus bertambah dalam dua tahun terakhir, termasuk Yahya Sinwar, komandan militer Mohammed Deif, serta kepala biro politik Ismail Haniyeh yang dibunuh di Teheran, Iran.
Diketahui bahwa Mohammed Sinwar sempat menggantikan posisi Deif sebagai kepala staf brigade sebelum akhirnya ia sendiri tewas dalam pertempuran.
Meskipun kehilangan banyak pilar kepemimpinan, juru bicara baru Al-Qassam menegaskan bahwa kelompoknya tetap berkomitmen pada kesepakatan gencatan senjata yang telah berjalan selama dua bulan terakhir.
Namun, ia memberikan peringatan keras terhadap apa yang ia sebut sebagai "pelanggaran berulang oleh Israel".
"Rakyat kami akan membela diri dan tidak akan menyerahkan senjata selama pendudukan masih ada," tegasnya.
"Kami tidak akan menyerah, bahkan jika kami harus bertempur dengan kuku kami sendiri," lanjutnya.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Palestina, situasi di lapangan masih sangat mencekam.
Sejak gencatan senjata dimulai pada 11 Oktober, sedikitnya 414 warga Palestina dilaporkan tewas akibat berbagai insiden.
Secara total, sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023, jumlah korban jiwa di Gaza telah mencapai 71.266 orang dengan 171.222 lainnya luka-luka.
Desakan Baru Trump
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump memberikan desakan baru kepada Hamas setelah bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Bertemu di kediamannya, Mar-a-Lago, Florida, Trump meminta kepada Hamas untuk segera meletakkan senjata mereka.
Trump mengatakan dia ingin beralih ke fase kedua kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang dicapai pada bulan Oktober 2025 setelah dua tahun pertempuran di Gaza.
Israel dan Hamas saling menuduh melakukan pelanggaran besar terhadap kesepakatan tersebut.
Baca juga: Isi Dokumen 35 Halaman Hamas Soal Operasi Topan Aqsa: Tantang Israel Buka Penyidikan Internasional
Hamas, yang menolak untuk melucuti senjata, telah menegaskan kembali kendalinya sementara pasukan Israel tetap bertahan di sekitar setengah wilayah tersebut.
Israel telah mengindikasikan bahwa jika Hamas tidak dilucuti senjatanya secara damai, Israel akan melanjutkan aksi militer untuk memaksa Hamas melakukannya.
Dalam komentarnya pada hari Senin (29/12/2025), Trump menyalahkan Hamas karena tidak melucuti senjata lebih cepat.
Presiden AS beralasan bahwa Israel telah memenuhi bagiannya dalam kesepakatan tersebut dan memperingatkan bahwa Hamas mengundang konsekuensi yang serius.
"Akan ada konsekuensi yang mengerikan," Trump memperingatkan, mengutip Reuters.
Dia telah membuat pernyataan serupa pada beberapa kesempatan sebelumnya selama pertempuran.
Secara keseluruhan, komentar Trump menunjukkan bahwa ia tetap teguh berada di kubu Netanyahu, meskipun beberapa ajudannya secara pribadi mempertanyakan komitmen pemimpin Israel itu terhadap gencatan senjata Gaza.
Komentarnya juga mengisyaratkan bahwa ia bersedia mengambil risiko permusuhan tambahan terkait Gaza dan Iran, meskipun Trump telah mengklaim keberhasilan dalam menyelesaikan perang Israel di kedua tempat tersebut.
Trump menunjukkan sikap hangat saat menyapa Netanyahu sebelum pertemuan mereka.
Bahkan sampai mengatakan bahwa Presiden Israel Isaac Herzog telah memberitahunya bahwa ia berencana untuk mengampuni Netanyahu dari tuduhan terkait korupsi - sebuah percakapan yang langsung dibantah oleh kantor Herzog.
Netanyahu membalasnya, dan mengatakan kepada wartawan setelah pertemuan itu bahwa ia menghadiahkan Trump Penghargaan Israel, yang menurutnya secara historis hanya diperuntukkan bagi warga Israel.
(Tribunnews.com/Whiesa)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Juru-bicara-sayap-militer-Hamas-Brigade-Al-Qassam-Abu-Obeida.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.