Iran Vs Amerika Memanas
Trump Serukan Warga Iran Lanjutkan Demo, Janjikan Bantuan Segera Datang
Trump minta warga Iran lanjutkan demo, klaim bantuan sedang datang. AS siapkan opsi keras usai ribuan demonstran tewas akibat tindakan represif aparat
Ringkasan Berita:
- Trump secara terbuka menyerukan warga Iran untuk melanjutkan demonstrasi anti-pemerintah, menyebut para demonstran sebagai “patriot” dan mengklaim bantuan dalam perjalanan.
- Laporan aktivis HAM menunjukkan lonjakan korban jiwa signifikan, dengan 2.003 orang tewas, termasuk anak-anak dan warga sipil.
- Gedung Putih menyiapkan tekanan maksimum terhadap Teheran, mulai dari ancaman opsi militer, tarif 25 persen bagi mitra dagang Iran, hingga isolasi diplomatik untuk memaksa Iran menghentikan kekerasan.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka meminta warga Iran untuk melanjutkan aksi demonstrasi anti-pemerintah yang telah berlangsung lebih dari dua pekan.
“Para patriot Iran, teruslah berdemonstrasi dan rebut kembali lembaga-lembaga kalian jika mampu,” ujar Trump.
Ia juga meminta demonstran mencatat nama-nama aparat yang melakukan kekerasan.
Trump bahkan mengklaim, “bantuan sedang dalam perjalanan”, meski tidak menjelaskan secara rinci bentuk bantuan yang dimaksud.
Pernyataan itu disampaikan Trump setelah berkonsultasi dengan tim keamanan nasionalnya pada Selasa (13/1/2026) waktu setempat.
Menyusul meningkatnya kekerasan dalam gelombang protes nasional di Iran sejak akhir Desember lalu.
Trump mengungkap dirinya telah menerima laporan intelijen, dimana dalam laporan itu jumlah warga Iran yang tewas selama kerusuhan akibat krisis ekonomi yang mencekik melonjak “signifikan”.
Hal itu turut dikonfirmasi oleh kelompok aktivis Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat (AS) yang melaporkan 2.003 orang tewas di tengah tindakan keras aparat keamanan.
Sedikitnya sembilan anak-anak dan sembilan warga sipil yang tidak terlibat protes juga dilaporkan tewas. Selain itu, lebih dari 16.700 orang ditahan.
Trump menilai data tersebut menunjukkan pemerintah Iran telah bertindak represif dan melanggar nilai-nilai kemanusiaan, dengan menindak secara brutal aksi protes yang dipicu oleh krisis ekonomi berkepanjangan dan runtuhnya mata uang nasional.
Baca juga: Mata Uang Iran Jatuh Bebas, Apa yang Terjadi jika Rial Kehilangan Nilainya?
“Saya yakin pembunuhan itu signifikan. Oleh karena itu, pemerintahan AS akan bertindak,” kata Trump, seraya menegaskan bahwa pemerintah Iran telah “berperilaku sangat buruk” dalam menangani aksi, sebagaimana dikutip dari APNews.
Gedung Putih Siapkan Berbagai Opsi
Untuk menekan lonjakan korban jiwa akibat kekerasan yang dilakukan aparat Iran terhadap demonstran, Trump berulang kali mengancam Teheran dengan opsi.
Pada Minggu sebelumnya, Trump menyebut Iran mulai “melewati batas”, sehingga tim keamanan nasional AS mempertimbangkan “opsi yang sangat kuat”.
Langkah ini diambil Trump sebagai sinyal tegas Amerika Serikat tidak hanya akan mengecam secara diplomatik, tetapi siap menaikkan eskalasi jika pembunuhan terhadap warga sipil terus berlanjut.
Ancaman opsi militer digunakan sebagai deterrent, yakni upaya menakut-nakuti agar Iran menghentikan tindakan represifnya sebelum situasi berkembang menjadi krisis kemanusiaan yang lebih luas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/TRUMPp-5646.jpg)