Iran Vs Amerika Memanas
Arab Desak AS Batalkan Serangan ke Iran Demi Cegah Potensi Perang Kawasan
Negara Teluk desak AS batalkan serangan ke Iran, khawatir gangguan Selat Hormuz picu krisis energi global. Menlu Iran klaim situasi sudah aman.
Ringkasan Berita:
- Arab Saudi, Qatar, dan Oman mendesak AS menahan diri, menekankan serangan dapat mengganggu Selat Hormuz, jalur vital bagi pengapalan minyak globaL.
- Intervensi militer berisiko memicu respons keras Iran dan sekutunya, memperluas konflik hingga melibatkan negara regional dan kelompok proxy, menimbulkan ketidakstabilan politik berkepanjangan.
- Abbas Araghchi menegaskan gelombang protes sejak Desember telah berakhir, kondisi aman terkendali, sekaligus membantah isu eksekusi pengunjuk rasa.
TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah negara Teluk Arab memperingatkan Amerika Serikat agar (AS) agar tidak melancarkan serangan militer terhadap Iran.
Peringatan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan gelombang protes besar yang masih mengguncang Teheran, akibat krisis uang dan penurunan mata uang yang mengancam stabilitas ekonomi dan politik global.
Negara-negara Teluk menekankan serangan terhadap Iran dampaknya akan langsung mengancam Selat Hormuz, jalur pelayaran paling strategis bagi perdagangan energi dunia.
Mengutip dari Anadolu, selat Hormuz merupakan perairan sempit yang memisahkan Iran dengan negara-negara Arab Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Oman.
Lebarnya di titik tersempit hanya sekitar puluhan kilometer, menjadikannya sangat rentan terhadap gangguan militer, baik berupa serangan langsung, ranjau laut, penembakan rudal, maupun blokade terbatas.
Terlebih sekitar seperlima dari total pengapalan minyak global melewati selat ini setiap hari, termasuk ekspor minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk menuju pasar Asia, Eropa, dan Amerika.
Dampak Perang AS vs Iran
Negara-negara Teluk khawatir Iran dapat menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan strategis jika diserang, baik dengan membatasi pelayaran maupun menciptakan situasi tidak aman bagi kapal dagang.
Meski Iran tidak menutup selat secara resmi, gangguan kecil saja seperti insiden keamanan atau ancaman militer cukup untuk mengguncang pasar minyak dunia.
Baca juga: Iran-AS Memanas, Arab Saudi Tidak Izinkan Wilayah Udaranya Digunakan dalam Serangan
Bagi negara-negara Teluk, stabilitas Selat Hormuz bukan hanya isu keamanan, tetapi juga kepentingan ekonomi vital.
Jika Selat Hormuz terganggu bahkan sebagian, harga minyak mentah bisa melonjak bahkan melampaui 100–150 dolar AS per barel, angka yang jauh di atas harga normal pasar.
Gangguan di jalur ini berisiko menurunkan pendapatan ekspor, mengguncang pasar keuangan, dan menghambat agenda pembangunan jangka panjang yang pada akhirnya mendorong inflasi di banyak negara.
Karena itulah, negara-negara Teluk menilai serangan militer terhadap Iran bukan sekadar konflik bilateral, melainkan ancaman serius terhadap stabilitas energi dan ekonomi global.
Selain risiko ekonomi, negara-negara Teluk juga mengkhawatirkan dampak politik dan keamanan.
Intervensi militer AS dapat memicu respons keras dari Iran dan sekutunya.
Tehran sebelumnya telah mengancam akan melakukan tindakan balasan terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan, termasuk kemungkinan mengancam jalur pelayaran dan target militer di negara-negara tetangga.
Hal ini bisa membuka peluang konflik lebih luas, tidak hanya antara AS dan Iran, tetapi juga melibatkan negara-negara regional seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, serta kelompok proxy di Irak, Suriah, dan Yaman.
Konflik dengan jangkauan luas ini meningkatkan risiko ketidakstabilan politik yang berkepanjangan di kawasan Teluk.
Menlu Iran Klaim Negaranya Sudah Terkendali
Bersamaan dengan desakan negara-negara Teluk Arab agar Amerika Serikat menahan diri dari tindakan militer terhadap Iran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa situasi keamanan di negaranya kini sepenuhnya terkendali.
Pernyataan diungkap menyusul rangkaian unjuk rasa berdarah yang memicu perhatian internasional.
Dalam pernyataannya, Araghchi menyebut gelombang protes yang melanda Iran sejak akhir Desember 2025 telah berakhir, dan otoritas negara kini memegang kendali penuh atas kondisi di lapangan.
Berbicara dalam wawancara dengan Fox News, ia menepis kekhawatiran akan potensi ketidakstabilan lanjutan.
“Selama empat hari terakhir semuanya tenang. Tidak ada demonstrasi dan tidak ada kerusuhan,” ujar Araghchi, menegaskan klaim pemerintah bahwa fase krisis telah dilalui. Ia menambahkan bahwa aparat keamanan telah memastikan situasi berjalan normal, sehingga kehidupan masyarakat kembali stabil.
Selain itu, Araghchi juga mem bantah keras tudingan mengenai rencana eksekusi atau hukuman gantung terhadap para pengunjuk rasa.
Isu yang sebelumnya memicu kecaman luas dari komunitas internasional dan menjadi salah satu sumber tekanan diplomatik terhadap Teheran.
Pernyataan Araghchi disampaikan di tengah upaya pemerintah Iran untuk meredam kritik global atas penanganan demonstrasi, yang dipicu oleh tekanan ekonomi dan lonjakan inflasi, serta menjaga citra negara agar tetap terlihat stabil di mata dunia.
(Tribunnews.com / Namira)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bendera-iran-pakistan-arab-saudi-skjd.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.