PM Jepang Bertemu Kelompok Duta Besar Perempuan di Jepang, Termasuk Kuasa Usaha Indonesia
Pertemuan tersebut dihadiri oleh para duta besar perempuan dari lebih dari 24 negara termasuk Meksiko, Inggris dan Kuasa Indonesia, Maria Renata
Ringkasan Berita:
- Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan dengan 24 duta besar perempuan di Tokyo, menandai momentum bersejarah sebagai perdana menteri perempuan pertama Jepang.
- Ia menegaskan keberhasilannya memecahkan “glass ceiling” sekaligus menyerukan penghapusan stigma “glass cliff” melalui kepemimpinan yang nyata dan berkelanjutan.
- Pertemuan hangat ini mencerminkan solidaritas global untuk mendorong kesetaraan gender dan peran perempuan di panggung internasional.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menggelar pertemuan dengan para duta besar perempuan yang bertugas di Jepang, Kamis (15/1/2026) sekitar jam 15.30.
Dalam kesempatan tersebut, PM Takaichi menyinggung makna historis terpilihnya dirinya sebagai perdana menteri perempuan pertama dalam sejarah Jepang.
“Saya berhasil memecahkan satu ‘langit-langit kaca’. Saya mendengar bahwa ada banyak orang yang merasa terinspirasi dan berani melangkah karena hal ini, dan itu membuat saya sangat bahagia,” ujar PM Takaichi.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh para duta besar perempuan dari lebih dari 24 negara, termasuk Meksiko, Inggris dan Kuasa Indonesia, Maria Renata Hutagalung.
Acara ini digelar dengan latar belakang lahirnya perdana menteri perempuan pertama di Jepang, sebuah momentum penting dalam sejarah politik negeri Sakura ini.
Baca juga: 68 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia–Jepang, Wisma Duta yang Menjadi Simbol Persahabatan
PM Takaichi kemudian menyoroti fenomena yang dikenal sebagai “glass cliff”—yakni situasi di mana perempuan cenderung dipilih menjadi pemimpin justru ketika organisasi atau institusi berada dalam kondisi sulit dan berisiko gagal.
“Ada fenomena yang disebut ‘glass cliff’, di mana perempuan lebih sering ditempatkan sebagai pemimpin saat organisasi berada dalam situasi yang rawan gagal,” jelasnya.
“Mari kita hapus istilah ‘glass cliff’ itu dengan menunjukkan hasil nyata.”
Pernyataan ini menjadi seruan kuat bagi para pemimpin perempuan di dunia untuk tidak hanya memecahkan “langit-langit kaca”, tetapi juga membuktikan kemampuan mereka melalui kepemimpinan yang efektif dan berkelanjutan.
Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh solidaritas, mencerminkan semangat kebersamaan di antara para pemimpin perempuan dalam mendorong kesetaraan gender dan peran perempuan yang lebih besar di panggung global.
Pertemuan yang berlangsung mulai pukul 15.30 selama sekitar 30 menit tersebut dihadiri oleh 24 duta besar perempuan, duta besar yang ditunjuk, serta para kuasa usaha sementara yang bertugas di Jepang.
Dalam sambutan pembukaannya, Perdana Menteri Takaichi menyampaikan penghormatan yang tinggi terhadap kegiatan Kelompok Duta Besar Perempuan di Jepang yang selama ini aktif mempromosikan partisipasi perempuan dan keberagaman.
Ia menegaskan tekadnya untuk bekerja keras dan menunjukkan hasil nyata, baik untuk masa kini maupun masa depan dunia, guna menghapus prasangka bahwa “perempuan tidak cocok menjadi pemimpin”.
“Atas nama pemerintah Jepang, saya ingin membuktikan bahwa perempuan dapat memimpin dan memberikan kontribusi besar bagi dunia,” ujar Takaichi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/dubesjepang111.jpg)