Sabtu, 30 Mei 2026

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi Ungkap Alasan Bubarkan Majelis Rendah Parlemen

PM Jepang Sanae Takaichi bubarkan parlemen dan serukan pemilu cepat. Ia ajak rakyat menentukan arah baru Jepang menuju ekonomi kuat dan stabil.

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/Richard Susilo
PEMBUBARAN PARLEMEN - PM Jepang Sanae Takaichi sebelum melakukan jumpa pers di Tokyo, Senin (19/1/2026). Dalam kesempatan itu, ia mengatakan, alasan membubarkan majelis rendah parlemen (Shūgiin) 
Ringkasan Berita:
  • Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi resmi mengumumkan pembubaran parlemen dan menyerahkan penilaian kepemimpinannya kepada rakyat melalui pemilu cepat 
  • Ia menegaskan arah baru Jepang dengan kebijakan fiskal ekspansif yang bertanggung jawab, penguatan ekonomi, keamanan nasional, serta reformasi besar di bidang energi, pertahanan, dan kesejahteraan 
  • Takaichi menyebut pemilu ini sebagai momen menentukan masa depan Jepang.

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi resmi mengumumkan pembubaran majelis rendah parlemen (Shūgiin) dan menyerahkan penilaian kepemimpinannya kepada rakyat melalui pemilu cepat.

Terungkap berikut naskah lengkap pidato PM Sanae Takaichi saat jumpa pers, Senin (19/1/2026) selama satu jam mulai jam 18.00 waktu Jepang.

Saudara-saudari,

Hari ini, sebagai Perdana Menteri Jepang, saya telah mengambil keputusan untuk membubarkan majelis rendah parlemen (Shūgiin) pada tanggal 23 Januari.

Mengapa sekarang? 

Karena saya berpandangan bahwa tidak ada pilihan lain selain meminta rakyat sebagai pemegang kedaulatan untuk memutuskan: apakah Sanae Takaiichi layak memimpin pemerintahan Jepang atau tidak.

Slogan saya adalah: “Menjadikan Kepulauan Jepang kuat dan makmur.”

Jika kita tidak segera memulai langkah-langkah besar sekarang, kita tidak akan sempat mengejar ketertinggalan.

Baca juga: Warga Jepang Ciptakan Foto Porno Artis Pakai AI, Raup Rp1,1 Miliar

Oleh karena itu, Kabinet Takaiichi telah memulai pergeseran besar kebijakan-kebijakan penting yang menyangkut fondasi negara, termasuk kebijakan ekonomi dan fiskal yang benar-benar baru.

Kebijakan besar yang saya serukan dalam pemilihan Ketua LDP, serta kebijakan yang tercantum dalam perjanjian koalisi dengan Partai Inovasi Jepang (Nippon Ishin no Kai), akan mulai dijalankan secara penuh melalui APBN Tahun Fiskal Reiwa 8 (FY 2026) dan berbagai rancangan undang-undang yang diajukan pemerintah yang akan dibahas di parlemen tahun ini.

Banyak dari kebijakan tersebut tidak tercantum dalam janji kampanye LDP pada pemilu parlemen sebelumnya.

Selain itu, pada pemilu DPR sebelumnya, bahkan kemungkinan bahwa saya, Sanae Takaiichi, akan memegang kendali pemerintahan negara pun belum pernah diperkirakan.

Keputusan pembubaran parlemen adalah keputusan yang sangat berat.

Ini adalah keputusan untuk tidak lari, tidak menunda, dan bersama rakyat menentukan arah Jepang.

Saya sendiri juga mempertaruhkan jabatan saya sebagai Perdana Menteri.

Apakah rakyat bersedia mempercayakan pengelolaan negara kepada Sanae Takaiichi?

Saya ingin rakyat menilai secara langsung.

Jepang menganut sistem parlementer, sehingga rakyat tidak dapat memilih Perdana Menteri secara langsung.

Namun, pemilu parlemen disebut sebagai pemilu pemilihan pemerintahan.

Jika LDP dan Partai Inovasi Jepang memperoleh mayoritas kursi, maka Takaiichi akan tetap menjadi Perdana Menteri.

Jika tidak, maka Perdana Menteri bisa menjadi Noda, atau Saitō, atau pihak lain.

Secara tidak langsung, rakyat memilih siapa yang akan menjadi Perdana Menteri.

Baca juga: Lima Alasan Perusahaan Jepang Rekrut SDM Sopir Bus Indonesia

Saat ini, Ketua LDP—yang juga menjabat Perdana Menteri—memimpin pemerintahan tanpa mayoritas kursi baik di parlemen (majelis rendah) maupun di majelis Tinggi (Sangiin).

Dalam pemilu DPR sebelumnya, kami meminta penilaian rakyat dengan asumsi koalisi LDP–Kōmeitō.

Kini kerangka koalisi telah berubah.

Karena itu, bukan demi kepentingan politik, melainkan untuk menghadapkan pertanyaan kepada rakyat secara jujur, saya memilih jalan ini.

Saya terpilih sebagai Ketua LDP pada 4 Oktober tahun lalu, pada upaya saya yang ketiga.

Namun tak lama setelah itu, terjadi perpisahan mendadak dengan Kōmeitō yang selama 26 tahun menjadi mitra koalisi.

Walaupun saya menjadi Ketua LDP, partai kami tidak memegang mayoritas kursi di DPR maupun DPR Tinggi, sehingga saya harus menghadapi pemilihan perdana menteri di parlemen dalam situasi yang sangat sulit.

Jalan menuju jabatan Perdana Menteri memang terjal.

Dengan dukungan Partai Inovasi Jepang sebagai mitra koalisi baru, serta bantuan dari fraksi-fraksi lain di parlemen  dan Majelis  Tinggi parlemen, kami berhasil menang tipis dalam pemilihan perdana menteri, dan saya menjabat sebagai Perdana Menteri pada 21 Oktober tahun lalu.

Sejak hari itu, saya terus memikirkan bahwa Kabinet Takaiichi belum pernah menerima “uji pemilu pemilihan pemerintahan.”

Namun demikian, terutama terkait langkah menghadapi kenaikan harga, situasinya benar-benar tidak memungkinkan untuk menunggu.

Kabinet Takaiichi perlu bergerak cepat.

Melalui anggaran tambahan FY Reiwa 7 (FY 2025) yang disusun Kabinet Takaiichi, kami menyiapkan: penurunan harga bensin dan solar, bantuan tagihan listrik dan gas, dana hibah dukungan prioritas untuk daerah, tunjangan dukungan pengasuhan anak untuk menghadapi kenaikan harga, sehingga dukungan yang diterima diperkirakan secara standar lebih dari 80 ribu yen per rumah tangga per tahun.

Lalu harga bensin dan solar sudah turun berkat pemanfaatan subsidi, dukungan listrik dan gas juga dimulai bulan ini.

Saat Kabinet Takaiichi mulai bekerja, banyak fasilitas kesehatan yang menyelamatkan nyawa berada dalam kondisi defisit, dan jumlah kebangkrutan penyedia layanan perawatan (kaigo) mencapai rekor tertinggi.

Jika keadaan ini dibiarkan, masyarakat bisa kehilangan akses layanan medis, dan lansia serta penyandang disabilitas kehilangan tempat layanan. Saya terus merasakan krisis besar.

Karena itu, terutama untuk fasilitas medis dan penyedia layanan perawatan yang defisit, tanpa menunggu revisi tarif resmi, kami mempercepat dukungan dengan memasukkan “Paket Dukungan Medis–Perawatan, dan lain-lain” ke dalam anggaran tambahan.

Selain itu, bagi para pekerja perawatan, kami akan menjalankan dukungan kenaikan upah secara luas, dari 10 ribu yen hingga maksimal 19 ribu yen per bulan.

Saya telah meminta seluruh kementerian dan pemerintah daerah untuk mempercepat pelaksanaan anggaran tambahan FY 2025.

Langkah-langkah jaminan keamanan kehidupan (termasuk penanganan kenaikan harga) sedang dijalankan secara bertahap.

Dengan memastikan tidak ada kekosongan dalam pengelolaan ekonomi, saya tegaskan bahwa pembubaran parlemen dilakukan setelah kesiapan penuh.

Pada momen ketika langkah-langkah mendesak sudah dapat dilakukan, saya ingin menaikkan “gigi” kebijakan satu tingkat lagi demi mewujudkan agenda.

Saya ingin menyongsong penyelesaian isu penculikan (abduction issue) melalui dialog langsung antar pemimpin dan menghasilkan capaian nyata. Saya juga ingin menghadapi kebijakan besar yang dapat membelah opini publik dengan berani.

Hingga akhir tahun lalu, selama proses tanya jawab dan dua putaran pembahasan di komisi anggaran di parlemen dan Majelis Tinggi, tekad saya justru semakin menguat.

Dalam tiga bulan ini, saya benar-benar merasakan betapa tidak stabilnya politik Jepang dan kerasnya realitas di Nagatachō.

“Tanpa kepercayaan, negara tidak dapat berdiri.”

Untuk perubahan kebijakan penting, saya percaya tugas pemimpin negara demokrasi adalah menjelaskan dengan tegas kepada rakyat dan meminta penilaian secara terbuka.

Inti dari kebijakan itu adalah “kebijakan fiskal ekspansif yang bertanggung jawab.” Ini adalah perubahan besar dari kebijakan ekonomi–fiskal sebelumnya.

Kecenderungan penghematan yang berlebihan dan kurangnya investasi masa depan—Kabinet Takaiichi akan mengakhiri arus itu.

Melalui “belanja fiskal strategis” yang meminimalkan berbagai risiko dan memungkinkan teknologi mutakhir berkembang, kita dapat menjamin keamanan hidup, meningkatkan lapangan kerja dan pendapatan, memperbaiki sentimen konsumsi, meningkatkan keuntungan usaha, dan bahkan tanpa menaikkan tarif pajak, penerimaan pajak bergerak naik secara alami. Inilah upaya mewujudkan “ekonomi yang kuat.”

Pilar pertama adalah “investasi manajemen krisis” untuk meminimalkan risiko.

Contohnya: membangun ketahanan pangan agar apa pun yang terjadi, Jepang tidak kekurangan makanan.

Dengan memaksimalkan seluruh lahan pertanian, memanfaatkan teknologi terbaru di pertanian, kehutanan, dan perikanan, serta memperluas produk pangan Jepang ke pasar global, kita memperkuat permintaan dan kemampuan pasokan secara bersamaan.

Jepang juga dapat menghasilkan keuntungan besar dari ekspansi luar negeri pabrik tanaman tertutup sepenuhnya (closed plant factory) dan fasilitas budidaya darat (land-based aquaculture) yang dikembangkan startup Jepang berteknologi kelas dunia.

Penguatan keamanan energi dan sumber daya juga penting.
Langkah untuk menyediakan listrik yang stabil dan murah adalah jalan yang diperlukan untuk melindungi kehidupan masyarakat dan industri Jepang.

Penyebaran sel surya perovskite yang ditemukan di Jepang, penerapan dini reaktor modular kecil dan reaktor inovatif generasi berikutnya, serta penerapan dini energi fusi di mana perusahaan Jepang memiliki keunggulan teknologi—semuanya tidak boleh disia-siakan.

Begitu pula pusat data hemat energi melalui teknologi refrigeran dan photonic–electronic convergence, serta implementasi baterai solid-state berbasis oksida, dan lain-lain.

Keamanan ekonomi juga sangat penting.
Ketergantungan pasokan pada satu negara untuk mineral penting atau bahan baku obat menimbulkan risiko besar.

Kabinet Takaiichi telah mulai mendorong kemandirian Jepang melalui produksi domestik dan diversifikasi sumber pengadaan.

Jika teknologi dan produk Jepang tidak ada, dunia akan kesulitan. “Keberlangsungan dan keterpakaian” Jepang di dunia juga dapat menjadi alat untuk menjaga perdamaian negara kita.

Selain itu, kami akan terus mendorong:

ketahanan nasional terhadap bencana (penguatan wilayah),

keamanan medis dan kesehatan,

penguatan keamanan siber,
sebagai bagian dari “investasi manajemen krisis”.

Dengan menerapkan lebih cepat produk, layanan, dan infrastruktur yang menyelesaikan masalah global di dalam negeri dan kemudian memperluas ke pasar luar negeri, kita tidak hanya memperkuat rasa aman, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi.

Di Eropa dan Amerika, pemerintah semakin maju ke depan, bekerja bersama sektor swasta, dalam kebijakan industri baru untuk menyelesaikan persoalan sosial.
Namun Jepang selama bertahun-tahun belum cukup melakukan investasi seperti itu.

Melindungi nyawa dan kehidupan rakyat adalah misi tertinggi negara.

Untuk mengubah kecemasan menjadi rasa aman dan harapan, diperlukan “investasi manajemen krisis” yang berani.
Kita bertanggung jawab untuk segera bertindak, melampaui “kutukan” penghematan berlebihan.

Pilar kedua adalah investasi pertumbuhan.

Melalui “17 bidang strategis” yang ditetapkan di Markas Strategi Pertumbuhan Jepang, kami akan mewujudkan negara maju teknologi baru:
mendorong pengembangan bisnis berbasis teknologi unggulan Jepang, memperkuat SDM dan R&D termasuk riset dasar, serta memperkuat dukungan startup.

Kami juga akan menghimpun ide-ide dari daerah dan melakukan kebijakan investasi besar serta pembangunan infrastruktur secara terpadu untuk membentuk klaster industri strategis di seluruh Jepang.

Di mana pun tinggal di 47 prefektur, setiap orang bisa hidup aman, mendapat layanan medis, kesejahteraan, pendidikan tinggi, dan memiliki tempat bekerja.
Itulah Jepang yang ingin diwujudkan Kabinet Takaiichi: “Kepulauan Jepang yang kuat dan makmur.”

Untuk itu, dibutuhkan “ekonomi yang kuat.”

Kabinet Takaiichi akan mengubah secara mendasar cara menyusun anggaran negara, mengakhiri metode yang mengandalkan anggaran tambahan setiap tahun, dan menempatkan anggaran yang diperlukan di anggaran awal.

Dengan manajemen kinerja yang ketat, kami juga akan membangun skema komitmen belanja fiskal multi-tahun, demi meningkatkan kepastian bagi pelaku usaha untuk berinvestasi dan melakukan R&D.

APBN FY 2026 adalah langkah pertamanya.

Namun permintaan anggaran awal FY 2026 telah selesai sebelum saya menjabat.

Olehkarena itu, revisi arah penyusunan anggaran termasuk plafon akan dimulai dari tahap permintaan anggaran musim panas tahun ini dan membutuhkan reformasi besar selama dua tahun hingga anggaran tahun berikutnya disahkan.

Namun, permintaan anggaran awal (gaisan yōkyū) untuk Tahun Anggaran Reiwa 8 telah selesai sebelum saya menjabat. Karena itu, peninjauan ulang kebijakan penyusunan anggaran, termasuk plafon (ceiling), akan mulai kami kerjakan sejak tahap permintaan anggaran musim panas tahun ini, dan hingga anggaran tahun berikutnya disahkan, ini merupakan reformasi besar yang memerlukan waktu dua tahun.

Tetapi, saya pasti akan menuntaskannya.

Berkat langkah-langkah menghadapi kenaikan harga yang telah ditempuh Kabinet Takaiichi, tahun ini diperkirakan pertumbuhan upah riil akan kembali menjadi positif. Namun demikian, laju kenaikan harga bahan makanan diperkirakan tetap tinggi.

Untuk mewujudkan “ekonomi yang kuat”, kita harus meningkatkan pendapatan bersih (take-home pay) rakyat, memastikan kenaikan upah riil, dan menciptakan kondisi di mana sentimen konsumsi yang membaik memimpin siklus baik perekonomian.

Untuk meringankan beban masyarakat berpendapatan menengah dan rendah yang sedang kesulitan karena kenaikan harga, saya mengusulkan: untuk jangka dua tahun, bahan makanan dan minuman (produk pangan/minuman) yang saat ini dikenai tarif pajak konsumsi yang lebih rendah, tidak menjadi objek pajak konsumsi.

Ini adalah kebijakan yang juga tercantum dalam perjanjian koalisi antara Partai Demokrat Liberal dan Partai Inovasi Jepang yang saya tandatangani pada 20 Oktober tahun lalu, sekaligus menjadi cita-cita pribadi saya. Dalam “Dewan Rakyat” (Kokumin Kaigi) yang akan dibentuk, kami akan mempercepat pembahasan menuju realisasi, termasuk sumber pendanaan dan jadwal pelaksanaan.

Sejak saya menjabat sebagai Perdana Menteri, harga saham meningkat.

Dana pensiun rakyat yang sangat penting juga dikelola melalui instrumen saham. Mewujudkan “ekonomi yang kuat” juga berarti mengubah kekhawatiran terhadap masa depan menjadi rasa aman.

Dengan perubahan besar kebijakan ekonomi dan fiskal seperti ini, kami akan mewujudkan siklus baik perekonomian.

Terkait anggaran Tahun Reiwa 8 yang menjadi skala terbesar sepanjang sejarah, ada pula kritik bahwa “ini berlebihan”.

Namun, dalam anggaran Reiwa 8, karena kami benar-benar memperhatikan keberlanjutan fiskal, primary balance untuk pertama kalinya dalam 28 tahun berhasil kembali menjadi surplus. 

Artinya, anggaran yang dibutuhkan untuk kebijakan Reiwa 8 dapat dipenuhi bukan dengan utang. Kami tidak menjalankan kebijakan baru dengan menambah utang.

Dalam anggaran Reiwa 8, jumlah penerbitan obligasi pemerintah baru juga ditekan hingga 29,6 triliun yen. Ini merupakan tingkat terendah kedua sejak setelah Krisis Lehman. 

Di tengah penerimaan pajak yang meningkat, ketergantungan anggaran secara keseluruhan pada obligasi pemerintah juga dapat ditekan ke tingkat terendah sejak berakhirnya krisis keuangan.

Inilah bentuk “ekonomi yang kuat” di bawah prinsip yang saya kejar: “kebijakan fiskal ekspansif yang bertanggung jawab.”

Ke depan juga, kami akan menahan laju pertumbuhan saldo utang agar tidak melampaui tingkat pertumbuhan ekonomi, dan menurunkan rasio utang pemerintah terhadap PDB. 

Dengan demikian, kami memastikan keberlanjutan fiskal.

Sambil menunjukkan indikator yang konkret dan objektif, kami akan menjaga kepercayaan pasar.

Lebih jauh, tanpa dukungan rakyat, kami tidak mungkin menjalankan diplomasi dan kebijakan keamanan nasional yang kuat.

Situasi internasional semakin keras.

Militer Tiongkok telah melakukan latihan militer di sekitar Taiwan. Juga terlihat gerak “pemaksaan ekonomi”, yaitu upaya menundukkan negara lain melalui penguasaan bahan-bahan hulu rantai pasok yang sangat dibutuhkan dunia dan luas digunakan untuk kebutuhan sipil.

Sepuluh tahun telah berlalu sejak Jepang mengusulkan konsep “Indo-Pasifik yang Bebas dan Terbuka”. Kami akan mengembangkannya lebih lanjut.

Sejauh ini, kami memperoleh banyak kesempatan diplomatik yang berharga: KTT terkait ASEAN, KTT AZEC (Komunitas Asia Nol Emisi), pertemuan puncak dengan Presiden Trump, KTT APEC, KTT G20, KTT Asia Tengah + Jepang, pertemuan dengan Presiden Lee Jae-myung serta Perdana Menteri Meloni, dan banyak pertemuan bilateral dengan para pemimpin dunia di sela-sela forum internasional.

Dengan menjadikan Aliansi Jepang–AS sebagai pilar, kami akan semakin memperkuat kerja sama dengan Jepang–AS–Korea Selatan, Jepang–AS–Filipina, Jepang–AS–Australia, Jepang–Italia–Inggris, serta negara-negara Global South.

Kami juga akan memperkuat kebijakan keamanan nasional secara mendasar. Kami akan mempercepat revisi “tiga dokumen strategis” — Strategi Keamanan Nasional, Strategi Pertahanan Nasional, dan Rencana Pembangunan Kekuatan Pertahanan.

Dengan pelajaran dari invasi Rusia ke Ukraina, banyak negara mempercepat persiapan menghadapi perang dengan cara baru termasuk pemanfaatan massal drone, serta persiapan perang jangka panjang bila situasi memburuk. Ini adalah perubahan besar dibandingkan tahun 2022 saat “tiga dokumen strategis” terakhir kali direvisi.

Revisi tersebut mendesak, dan diperlukan pembaruan yang fundamental, bukan sekadar perpanjangan dari perdebatan lama.

Kami akan memperkuat daya gentar lebih jauh, merespons secara mantap wilayah baru seperti siber, antariksa, dan spektrum elektromagnetik, memperkuat basis teknologi industri pertahanan, serta memperbaiki kesejahteraan personel Pasukan Bela Diri.

Negara yang tidak memiliki tekad untuk melindungi negaranya sendiri, tidak akan ditolong oleh siapa pun.

Demi menjaga perdamaian dan kemerdekaan Jepang serta melindungi nyawa rakyat, kami akan melangkah menuju kebijakan keamanan nasional yang realistis dan tangguh.

Penguatan fungsi intelijen juga merupakan agenda besar yang tidak bisa terwujud tanpa dukungan rakyat. Kemampuan mengumpulkan informasi, menganalisisnya, dan mengambil keputusan yang tepat — jika “kekuatan informasi” tidak kuat, maka kekuatan diplomasi, pertahanan, ekonomi, dan teknologi juga tidak akan kuat.

Kami akan meningkatkan kemampuan analisis informasi negara, mencegah krisis sebelum terjadi, dan membangun sistem untuk melindungi kepentingan nasional secara strategis.

Secara konkret: pendirian Badan Intelijen Nasional untuk memperkuat kemampuan intelijen negara; pembentukan Komite Investasi Asing ke Jepang guna memperkuat pemeriksaan keamanan atas investasi asing; serta penetapan undang-undang terkait intelijen dan pencegahan spionase. Semua ini harus dipercepat.

Selain itu, “kredit pajak disertai tunjangan” (kyūfu-tsuki zeigaku kōjo) yang saya sampaikan pada pemilihan Ketua LDP merupakan kebijakan yang dapat meningkatkan pendapatan bersih kelompok menengah dan rendah yang terbebani sifat regresif iuran jaminan sosial.

Membangun sistem jaminan sosial yang berkelanjutan, termasuk desain sistem tersebut, adalah tugas mendesak yang harus dikerjakan dengan menghimpun kebijaksanaan bangsa lintas partai.

Selanjutnya, revisi Undang-Undang Rumah Tangga Kekaisaran serta amandemen Konstitusi Jepang. Kami akan menghadapi tantangan yang selama bertahun-tahun belum tersentuh ini secara langsung.

Kebijakan-kebijakan penting seperti ini tidak mungkin diwujudkan tanpa basis politik yang stabil dan mandat rakyat yang jelas.

Bukan politik yang samar, melainkan menunjukkan arah yang harus ditempuh dengan tegas, lalu meminta kepercayaan rakyat secara terbuka. Dengan tekad itu saya memutuskan pembubaran.

Partai Demokrat Liberal sendiri juga harus berubah.

Ada berbagai kritik terhadap “kebijakan fiskal ekspansif yang bertanggung jawab” dan penguatan drastis kebijakan keamanan nasional. 

Namun, semuanya demi rakyat, kami akan menjalankan kebijakan tanpa ragu dan tanpa goyah. Tanpa itu, kami tidak akan memperoleh kepercayaan rakyat.

Pemilihan Ketua LDP pada Oktober tahun lalu adalah pertarungan yang sengit. Setelah debat kebijakan yang aktif, saya terpilih. Namun itu hanyalah penilaian dari anggota LDP.

Hari ini saya memperkenalkan terutama beberapa kebijakan yang akan berubah besar, namun termasuk semuanya, LDP akan menjadikannya janji kampanye pemilu dan meminta penilaian rakyat.

Dan setelah pemilu berakhir, demi merealisasikan janji itu, partai akan maju sebagai satu kesatuan. Ini juga merupakan pertarungan agar LDP kembali pada akar sebagai partai nasional yang mengabdi pada rakyat.

Sejak menjabat Perdana Menteri, baik saat sidang parlemen berlangsung maupun saat reses, baik di Jepang maupun di luar negeri, saya telah “bekerja, bekerja, bekerja, bekerja, bekerja.”

Selama masa kampanye pun, Kabinet Takaiichi akan terus bekerja bersama para pegawai kementerian.

Ada kekhawatiran bahwa karena pembubaran dan pemilu, pengesahan Anggaran Reiwa 8 di dalam tahun fiskal akan menjadi sangat sulit. 

Untuk meminimalkan dampaknya, setelah membubarkan DPR pada 23 Januari, kami berencana menjalankan pemilu dengan jadwal 27 Januari pendaftaran kandidat, dan 8 Februari pemungutan serta penghitungan suara, agar pemilu dilaksanakan secepat mungkin.

Setelah itu, bersama partai-partai yang mendukung “kebijakan fiskal ekspansif yang bertanggung jawab”, saya ingin mewujudkan pengesahan Anggaran Reiwa 8 secepat mungkin.

Namun demikian, mungkin saja kita membutuhkan anggaran sementara. Dalam hal itu pun, untuk kebijakan yang telah diputuskan mulai April—yang dikenal sebagai “pendidikan SMA gratis” dan “makan siang sekolah gratis”—kami akan melakukan segala upaya, termasuk mengesahkan undang-undang terkait dalam tahun fiskal atau menganggarkannya dalam anggaran sementara, agar tetap terlaksana.

Justru, bila kami memperoleh mandat rakyat melalui pemilu, saya yakin kecepatan realisasi kebijakan setelah itu dapat dipercepat.

Selama 26 tahun, para pendukung Kōmeitō telah memberikan dukungan besar kepada LDP di setiap pemilu. 

Dalam pemilu musim panas yang panas maupun pemilu musim dingin yang berangin, di jalanan, di balai pertemuan, di pematang sawah, kami berkeringat bersama dan serak bersama dalam pertarungan pemilu.

Dalam pemilu kali ini, hasilnya adalah kita berpisah jalan. Namun sekali lagi, saya menyampaikan terima kasih yang tulus atas dukungan selama seperempat abad.

Di saat yang sama, LDP harus siap bahwa pemilu ini akan menjadi pertarungan yang berat. 

Rekan-rekan kami tidak dapat lagi menerima dukungan Kōmeitō. Bukan hanya itu: orang-orang yang sebelumnya berada di Partai Demokrat Konstitusional—yang merupakan lawan dalam pemilu DPR Tinggi setengah tahun lalu—kini didukung oleh pihak yang dulu adalah rekan politik.

Ada sedikit kesedihan, tetapi inilah kenyataannya.

Politik yang tidak berpihak pada rakyat, politik yang berorientasi pemilu, logika Nagatachō—kita harus mengakhirinya.

Kita melangkah menuju pembangunan negara yang baru.

Saya teringat kata-kata mantan Perdana Menteri Shinzo Abe sepuluh tahun lalu:

“Kesulitan sudah kami sadari sejak awal. Namun masa depan bukan sesuatu yang diberikan orang lain kepada kita. 

Masa depan adalah sesuatu yang kita buka sendiri dengan tangan kita.”

Inilah kata-kata yang dibutuhkan Jepang saat ini.

Negara yang tidak berani menantang, tidak memiliki masa depan. Politik yang hanya bertahan tidak melahirkan harapan.

Masa depan yang penuh harapan tidak akan datang hanya dengan menunggu. Itu bukan sesuatu yang akan dibuatkan oleh orang lain. 

Kita sendiri yang harus memutuskan, bertindak, dan membangunnya.

Karena itu, saya menamai pemilu kali ini sebagai “pemilu untuk membangun masa depan dengan tangan kita sendiri.”

Saya ingin membangun masyarakat di mana semua orang bisa mengatakan dengan percaya diri bahwa masa depan Jepang cerah dan Jepang punya peluang.

Menuju negara di mana orang yang berani mencoba dihargai, orang yang bekerja keras mendapatkan hasil, saat kesulitan kita saling menolong, kita dapat membangun keluarga dengan tenang, dan bekerja dengan mimpi.

Saya ingin berdiri di garis depan untuk itu.

Karena itu, saya tidak akan lari. Saya tidak akan goyah. Saya akan mengambil keputusan.

Saya akan menjalankan politik yang bertanggung jawab terhadap masa depan.

Bayi yang lahir hari ini pun, dan anak muda 18 tahun yang pertama kali memilih tahun ini pun, banyak di antara mereka kelak akan melihat Jepang di abad ke-22.

Agar pada saat itu, Jepang tetap aman dan makmur. Agar Jepang menjadi “mercusuar yang bersinar di Indo-Pasifik”, dihormati sebagai negara kebebasan dan demokrasi.

Saya percaya penuh pada kekuatan dasar Jepang dan rakyat Jepang.

Saya akan menekan tombol pertumbuhan Jepang berkali-kali dan melepaskan potensinya.

Saya akan mewujudkan “diplomasi Jepang yang mekar dan bersinar di pusat dunia.”

Saya, Sanae Takaiichi, sebagai Perdana Menteri, akan menjalankan berbagai reformasi dan mendorong perubahan kebijakan besar.

Apakah Anda akan melangkah maju bersama saya, atau berhenti di bawah politik yang tidak stabil—saya ingin menyerahkan pilihan itu kepada rakyat sebagai pemegang kedaulatan.

Saya ingin maju ke depan—bersama rakyat.

Jepang bisa menjadi lebih kuat.
Jepang bisa menjadi lebih makmur.
Jepang bisa menjadi negara yang lebih penuh harapan.

Mari kita bangun masa depan itu bersama!

Sekali lagi saya sampaikan: “Menjadikan Kepulauan Jepang kuat dan makmur.”

Mari bersama membuka era baru.

Sebagai penutup, izinkan saya menyampaikan:

Pemilu adalah fondasi demokrasi, namun ini adalah pertarungan pemilu di musim dingin.

Terutama kepada saudara-saudara di daerah bersalju, saya merasa sangat sungkan karena harus meminta Anda bersusah payah menuju TPS dalam kondisi jalan yang buruk.

Saya juga menyampaikan terima kasih dari hati kepada pemerintah daerah yang akan menjalankan tugas pemilu di tengah kesibukan menjelang akhir tahun fiskal.

Sekian dari saya. Terima kasih.

Diskusi  pemerintahan   di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved