Kopi Sumatera Andalan Starbucks Selama 50 Tahun Jadi Sorotan Jepang
Dari kebun Sumatra ke ribuan gerai Starbucks Jepang, kopi legendaris ini bertahan 50 tahun lewat alam, tradisi, dan dukungan petani.
Ringkasan Berita:
- Kopi Sumatra menjadi tulang punggung pasokan Starbucks di Jepang, dengan single origin dark roast yang dicintai lebih dari 50 tahun
- Popularitasnya terjaga berkat Origin Experience, program kunjungan langsung mitra Starbucks Jepang ke Sumatra untuk melihat proses kopi dari kebun hingga cangkir
- Dukungan berkelanjutan bagi petani, metode semi-washed khas, serta karakter rasa earthy dan kaya menjadikan kopi Sumatra sulit ditiru.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Hampir 2.000 gerai toko Starbucks di Jepang dan warganya punya perhatian besar pada kopi ini terutama ke Sumatera yang jadi andalan pasokan kopi Starbucks pula ke Jepang.
Salah satu yang paling legendaris adalah kopi single origin dark roast Sumatera (250 gram, 1.540 yen), yang telah dicintai sejak Starbucks didirikan di Seattle, Amerika Serikat.
Lalu, apa rahasia di balik popularitasnya yang bertahan lebih dari setengah abad?
Jawaban itu terungkap lewat Origin Experience, program kunjungan langsung ke daerah penghasil kopi yang diikuti para mitra (karyawan) Starbucks.
Melanjutkan program tahun sebelumnya, sekitar 50 peserta dari Jepang pada 2025 mengunjungi Pulau Sumatera, Indonesia, untuk melihat langsung proses kopi dari kebun hingga siap diseduh.
Berdasarkan pengalaman tersebut, Sugawara, Coffee Ambassador dari Roastery Tokyo, dan Hiraiwa, Store Manager Starbucks Coffee Yokohama Orihonten, membagikan kisah dan daya tarik kopi Sumatra kepada pers di Jepang baru-baru ini.
Pulau Sumatera, surga kopi dunia
"Kopi Sumatra merupakan single origin yang seluruh bijinya berasal dari Pulau Sumatra. Pulau ini terletak di ujung barat Indonesia, negara kepulauan dengan lebih dari 10.000 pulau, dan merupakan pulau terbesar keenam di dunia, bahkan luasnya sekitar 1,25 kali Jepang," ungkap Hiraiwa.
Letaknya yang dilintasi garis khatulistiwa membuat Sumatra hangat sepanjang tahun dan dipenuhi hutan hujan tropis.
Tanahnya subur, banyak wilayah berada di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut, dengan perbedaan suhu siang dan malam yang tajam—kondisi ideal untuk menghasilkan kopi beraroma kuat dan berkarakter.
“Begitu mendarat, saya langsung merasakan panas matahari yang menyengat dan udara yang benar-benar berbeda dari Jepang. Alamnya luar biasa, dengan satwa endemik seperti harimau dan badak Sumatra,” ujar Sugawara.
Awal pertemuan Starbucks dan kopi Sumatera
Hubungan Starbucks dengan kopi Sumatra bermula dari seorang pembeli kopi yang terpesona oleh kualitas kopi Sumatra, lalu menulis surat kepada berbagai perusahaan kopi dunia.
Di antara sedikit yang merespons, salah satunya adalah Starbucks.
“Menakjubkan bahwa kopi yang berawal dari sepucuk surat kini telah dicintai lebih dari 50 tahun,” kata Hiraiwa.
Bahkan, kopi pertama yang diminum Howard Schultz, tokoh kunci dalam sejarah Starbucks, adalah kopi Sumatra.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/starbuck1111111.jpg)