Polemik Kepemilikan Greenland
Rusia 'Nikmati' Pertikaian Eropa-AS, Kremlin Ejek Trump: Dia Bakal Tercatat dalam Sejarah
Pertikaian antara Eropa dengan AS soal Greenland ternyata diamati dengan serius oleh Rusia. Kremlin dilaporkan menikmati pertikaian tersebut.
Ringkasan Berita:
- Rusia mengaku telah "menikmati" pertikaian antara Eropa dengan Amerika Serikat (AS) soal Greenland.
- Para pejabat Rusia, media pemerintah hingga blogger pro-pemerintah merespons keretakan itu dengan campuran rasa senang, ejekan, sekaligus kewaspadaan.
- Bagi Moskow, perpecahan di dalam tubuh NATO dan Uni Eropa merupakan peluang emas untuk memperlemah persatuan Barat.
TRIBUNNEWS.COM - Rusia ternyata secara diam-diam mengamati pertikaian antara Eropa dengan Amerika Serikat (AS) soal Greenland.
Rusia dilaporkan tampak "menikmati" pertikaian tersebut — bahkan cenderung mengejek — ketegangan AS dan Eropa ini.
Para pejabat Kremlin, media pemerintah Rusia, hingga blogger pro-pemerintah merespons keretakan hubungan transatlantik tersebut dengan campuran rasa senang, ejekan, sekaligus kewaspadaan.
Bagi Moskow, perpecahan di dalam tubuh NATO dan Uni Eropa merupakan peluang emas untuk memperlemah persatuan Barat.
Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, pada Rabu (21/1/2026), Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa ia ingin "mendapatkan Greenland".
Kremlin tidak mengkritik maupun mendukung Trump dalam masalah ini, tetapi menunjukkan dampak yang luas jika AS mengambil Greenland dari Denmark.
Pujian yang terukur tersebut tampaknya sejalan dengan retorika publik Moskow terhadap pemerintahan AS saat ini.
Karena Rusia mencoba untuk mendapatkan konsesi dalam upaya yang dipimpin Trump untuk mengakhiri perang hampir empat tahun di Ukraina dan menghidupkan kembali hubungan dengan Washington yang telah merosot ke titik terendah Perang Dingin.
"Terlepas dari apakah itu baik atau buruk dan apakah itu sesuai dengan hukum internasional atau tidak, ada para ahli internasional yang percaya bahwa jika Trump menguasai Greenland, ia akan tercatat dalam sejarah, dan bukan hanya sejarah AS tetapi juga sejarah dunia," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, mengutip ABC News.
"Tanpa membahas apakah itu baik atau buruk, sulit untuk tidak setuju dengan para ahli ini," tambahnya.
Sebuah pernyataan yang tampak mendukung Trump datang dari Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov.
Baca juga: Ancaman Tarif ke Eropa Resmi Dicabut Trump, tapi Tetap Bakal Akuisisi Greenland
Lavrov mengatakan pada konferensi pers Selasa bahwa kendali Denmark atas Greenland adalah peninggalan masa kolonial.
"Pada prinsipnya, Greenland bukanlah bagian alami dari Denmark," katanya.
Lavrov juga membandingkan upaya Trump untuk menguasai Greenland dengan aneksasi Semenanjung Krimea Ukraina oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.
Perebutan ilegal semenanjung tersebut pada tahun 2014 tidak diakui oleh sebagian besar dunia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/juru-bicara-Kremlin-Dmitry-Peskov-mengatakan-negosiator-AS-sedang-dalam-perjalanan-menuju-Rusia.jpg)