Krisis Iran
Teka-teki Keberadaan Khamenei Saat Pasukan Tambahan AS Kepung Iran
Trump mengonfirmasi bahwa AS tengah menggerakkan kekuatan tempur laut menuju Iran. Sebagai tanggapan, Iran siaga penuh.
Ringkasan Berita:
- Nasib dan keberadaan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, menjadi pusat perhatian dunia
- Presiden AS Donald Trump menyebut AS tengah menggerakkan kekuatan tempur laut menuju Iran. Situasi itu memicu ketegangan. Iran siaga penuh
- Eskalasi ini merupakan kelanjutan dari memanasnya hubungan kedua negara setelah militer AS sempat melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025
TRIBUNNEWS.COM - Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mencapai titik nadir baru menyusul ancaman Presiden Donald Trump yang mengirimkan "armada" militer besar-besaran ke wilayah Timur Tengah.
Di tengah ancaman tersebut, nasib dan keberadaan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, menjadi pusat perhatian dunia.
Baca juga: AS-Iran di Pintu Perang, Maskapai Besar Eropa Batalkan Penerbangan ke Timur Tengah Termasuk Israel
Laporan dari Iran International menyebutkan bahwa Khamenei telah dipindahkan ke sebuah fasilitas bawah tanah yang dibentengi secara khusus di Teheran.
Langkah ini diambil setelah pejabat keamanan senior menilai adanya peningkatan risiko serangan langsung dari pihak AS.
Fasilitas tersebut dikabarkan memiliki jaringan terowongan yang saling terhubung untuk memastikan keamanan pemimpin tertinggi.
Selama masa transisi ini, putra ketiga Khamenei, Masoud Khamenei, dilaporkan mengambil alih manajemen harian kantor pemimpin dan menjadi saluran komunikasi utama dengan jajaran eksekutif pemerintah.
Namun, narasi mengenai Khamenei yang bersembunyi di bunker segera ditepis oleh Konsul Jenderal Iran di Mumbai, Saeid Reza Mosayeb Motlagh.
Dalam wawancara eksklusif dengan NDTV, Saeid menegaskan bahwa meskipun pengamanan ditingkatkan, pemimpin mereka tidak bersembunyi.
"Negara kami telah menunjukkan kekuatan untuk menangkis segala jenis agresi. Jika ada kekuatan yang ingin bertindak ofensif, kami sepenuhnya siap membela diri dengan kekuatan penuh," tegas Saeid.
Ia menuding isu krisis internal dan persembunyian pemimpin sengaja dipicu oleh intelijen asing.
Trump: Ada Armada, Tapi Semoga Tak Digunakan
Ketegangan ini dipicu oleh pernyataan Presiden Donald Trump pada Kamis (22/1/2026), yang mengonfirmasi bahwa AS tengah menggerakkan kekuatan tempur laut menuju Iran.
"AS memiliki 'armada' yang menuju ke sana, tetapi saya berharap tidak perlu menggunakannya," ujar Trump sembari memperingatkan Teheran terkait program nuklir dan penanganan demonstran.
Pentagon telah memerintahkan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta tiga kapal perusak pendamping untuk berlayar dari Laut China Selatan menuju Samudra Hindia.
Gugus tempur ini membawa sekitar 5.700 personel militer tambahan yang akan bergabung dengan kapal-kapal perang AS yang sudah bersiaga di Teluk Persia dan Bahrain.
Perang Habis-habisan
Menanggapi pengerahan kekuatan tersebut, Teheran mengeluarkan peringatan keras. Seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa pihaknya tidak akan membedakan jenis serangan yang masuk.
"Kami akan menganggap setiap serangan—baik itu terbatas, terarah, kinetik, atau apa pun namanya—sebagai perang habis-habisan (total war)," ujar pejabat yang enggan disebutkan namanya itu kepada The Independent.
Iran kini berada dalam status siaga tinggi. Teheran menegaskan bahwa setiap pelanggaran terhadap kedaulatan wilayahnya akan dijawab dengan respons sekeras mungkin.
Eskalasi ini merupakan kelanjutan dari memanasnya hubungan kedua negara setelah militer AS sempat melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu.
(Reuters/ Iran International/ NDTV/ The Independent)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ali-Khamenei-bersama-Presiden-Iran-Masoud-Pezeshkian1.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.