Krisis Iran
Prancis Dukung Usul Italia Agar Uni-Eropa Masukkan Garda Revolusi Iran ke Daftar Organisasi Teroris
Organisasi hak asasi manusia menuduh Garda Revolusi Iran sebagai dalang di balik penindakan keras terhadap demonstrasi
Prancis Dukung Usul Italia Agar Uni-Eropa Masukkan Garda Revolusi Iran Sebagai Organisasi Teroris
TRIBUNNEWS.COM - Istana Elysee, Kantor Kepresidenan Prancis, Rabu (25/1/2026) mengumumkan kalau Prancis "mendukung dimasukkannya Garda Revolusi Iran (IRGC) ke dalam "daftar organisasi teroris Uni Eropa", dilansir Agence France-Presse (AFP).
Awal bulan ini, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaya Kallas, mengatakan kalau Uni Eropa sedang mempersiapkan sanksi baru terhadap Iran sebagai tanggapan atas penggunaan kekerasan oleh Teheran terhadap para demonstran anti-rezim.
Baca juga: Mengenal IRGC atau Pasdaran, Pasukan Kuat Iran yang Mengobrak-abrik Israel
Organisasi hak asasi manusia menuduh Garda Revolusi Iran sebagai dalang di balik penindakan keras terhadap demonstrasi baru-baru ini di negara tersebut.
Pada Kamis, Italia bermaksud mengusulkan kepada negara-negara lain di Uni Eropa agar Garda Revolusi ditambahkan ke dalam daftar teroris ini.
Iran Protes Keras
Pada Selasa, Kementerian Luar Negeri Iran memanggil duta besar Italia untuk Teheran, Paola Amadei, terkait apa yang mereka sebut sebagai "pernyataan tidak bertanggung jawab" oleh Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani mengenai Garda Revolusi Iran.
Duta Besar Italia telah diberi tahumengenai protes resmi Teheran terhadap posisi Roma baru-baru ini, khususnya seruan untuk memasukkan Garda Revolusi ke dalam daftar organisasi teroris.
Pemanggilan itu datang beberapa jam setelah menteri luar negeri Italia mengumumkan dukungan negaranya untuk memasukkan Garda Revolusi Iran sebagai "organisasi teroris," dengan alasan peran Garda dalam apa yang disebutnya sebagai "penindasan protes yang keras dan meluas" di dalam Iran.
IRGC didirikan tak lama setelah Revolusi Islam 1979 untuk melindungi sistem pemerintahan ulama Syiah dan memberikan penyeimbang bagi angkatan bersenjata reguler.
Hingga saat ini, kelompok itu memiliki sekitar 125.000 militer yang kuat dengan unit angkatan darat, laut dan udara.
(oln/afp/khbrn/*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-irgc.jpg)