Konflik Palestina Vs Israel
Banyak Tentara IDF Tewas di Gaza, Netanyahu: Gara-gara Kebijakan Biden
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menyalahkan mantan Presiden AS Joe Biden atas kematian ratusan tentara IDF di Gaza.
Ringkasan Berita:
- Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu tampak menyalahkan mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden dalam kerugiannya saat perang melawan Hamas di Gaza.
- Netanyahu menyebut sejumlah tentara Israel kehilangan nyawa di Jalur Gaza akibat kebijakan "embargo senjata" yang diterapkan oleh Biden.
- Ia secara spesifik menunjuk kekurangan amunisi sebagai faktor utama yang menyebabkan gugurnya para prajurit di medan tempur.
TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan pernyataan keras tentang kerugian personel militer negaranya dalam perang melawan Hamas di Gaza.
Dalam pernyataannya pada Selasa (27/1/2026), Netanyahu menyebut sejumlah tentara Israel kehilangan nyawa di Jalur Gaza akibat kebijakan "embargo senjata" yang diterapkan oleh mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden.
Netanyahu menyatakan bahwa Israel harus membayar "harga yang sangat mahal" dalam perang ini.
Ia secara spesifik menunjuk kekurangan amunisi sebagai faktor utama yang menyebabkan gugurnya para prajurit di medan tempur.
"Para pahlawan kita gugur karena mereka tidak memiliki amunisi yang mereka butuhkan. Dan sebagian dari hilangnya amunisi tersebut disebabkan oleh embargo," tegas Netanyahu sebagaimana dikutip dari The Times of Israel.
Meskipun tak menyebut nama Biden secara langsung, Netanyahu memberikan indikasi kuat bahwa kebijakan tersebut berakhir seiring dengan dilantiknya Donald Trump sebagai Presiden AS yang baru.
Dia menyebut bahwa masalah pasokan senjata tersebut "berakhir segera setelah Presiden Trump menjabat".
Di sisi lain, Amos Hochstein, salah satu ajudan utama Biden, mengatakan bahwa Netanyahu berbohong.
"Netanyahu tidak mengatakan yang sebenarnya dan tidak berterima kasih kepada Presiden yang secara harfiah menyelamatkan Israel pada saat paling rentan," kata Hochstein kepada Axios.
Hochstein juga menyatakan melalui media sosial X bahwa AS di bawah kepemimpinan Biden telah memberikan dukungan militer kepada Israel lebih dari $20 miliar atau sekitar Rp333 triliun.
Dukungan militer itu, kata Hochstein, merupakan yang terbesar dalam sejarah.
Baca juga: AS Bersiap Serangan Kilat ke Teheran, Netanyahu: Awas Kalau Iran Balasnya ke Israel
Hochstein pun juga menyinggung pengerahan dua kapal induk AS yang bergegas ke Israel untuk mencegah perang regional besar-besaran.
"Dua kapal induk bergegas ke wilayah tersebut, mencegah perang regional besar-besaran, mengalahkan serangan rudal dan drone Iran dua kali, membela Israel pada saat-saat paling rentan, setelah MENYELAMATKAN nyawa banyak warga Israel – satu-satunya tanggapan yang dapat diterima kepada presiden AS Biden dan rakyat Amerika adalah TERIMA KASIH," tulis Hochstein.
Mantan duta besar AS untuk Israel, Tom Nides, yang menjabat di bawah pemerintahan Biden, juga menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pernyataan Netanyahu.
"Dia (Netanyahu) salah. Dukungan Biden untuk Israel sangat kuat, dan dia melakukannya dengan pengorbanan politik yang sangat besar," kata Nides kepada situs berita Ynet.
Menolak Berkompromi
Netanyahu, dalam pernyataan yang sama, menegaskan sikap kerasnya untuk tidak menyerah pada tuntutan Hamas.
Ia menyatakan selalu optimistis bahwa seluruh sandera akan kembali, meski sempat mendapat tekanan besar dari berbagai pihak untuk berkompromi.
Tentang masa depan pascaperang, Netanyahu kembali menegaskan ambisinya untuk melakukan demiliterisasi total di Gaza dan membubarkan kekuatan Hamas.
Ia secara tegas menolak rencana rekonstruksi Gaza sebelum proses pelucutan senjata selesai.
"Saya mendengar orang-orang berkata kita akan membangun kembali Gaza sebelum wilayah itu didemiliterisasi. Itu tidak akan terjadi," tegasnya, mengutip The Jerusalem Post.
Selain membahas situasi di Gaza, Netanyahu juga mengirimkan peringatan keras kepada Teheran.
Ia mewanti-wanti Iran agar tidak melakukan kesalahan dengan menyerang Israel secara langsung.
"Jika Iran membuat kesalahan besar dengan menyerang Israel, kami akan merespons dengan kekuatan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya," ujar Netanyahu.
Tentang peran AS, Netanyahu menyatakan bahwa meskipun sekutu dekat, Washington akan mengambil keputusannya sendiri dalam menangani ancaman Iran, begitu pula dengan Israel yang tetap memegang kedaulatan penuh atas tindakan militernya.
(Tribunnews.com/Whiesa)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/presiden-as-joe-biden-kiri-dan-perdana-menteri-israel-benjamin-netanyahu-234y.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.