Iran Vs Amerika Memanas
Dukungan Intelijen China ke Iran Mengalir di Tengah Ancaman Perang, Cegah Terbukanya 'Kotak Pandora'
Dukungan Beijing terhadap Iran mencakup kerja sama teknologi pertahanan dan diplomasi di forum internasional.
Ringkasan Berita:
- Menurut pakar Timur Tengah Nadia Helmy, dukungan China mencakup kerja sama teknologi pertahanan dan diplomasi internasional, sejalan dengan ambisi Beijing memperluas pengaruh global.
- Langkah ini juga bertujuan melindungi kepentingan China di kawasan Teluk dan jalur perdagangan utama.
- China memantau penetrasi intelijen Israel ke sistem keamanan Iran, terutama setelah serangan Israel sepanjang 2025 yang membuka celah besar dalam pertahanan Teheran.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menjadi salah satu isu geopolitik paling dramatis di awal tahun 2026.
Jika perang pecah, dipastikan konflik ini tidak hanya berdampak pada dinamika regional, tetapi juga mengguncang pasar energi global serta memicu seruan diplomasi dan negosiasi untuk mencegah konflik yang lebih besar.
Di tengah tekanan geopolitik yang meningkat itu, China secara politis dan strategis mengambil peran penting sebagai penyeimbang dalam persaingan kekuatan besar.
Beijing mengecam intervensi militer yang dianggap melanggar kedaulatan Iran dan mendorong de-eskalasi sambil memperkuat hubungan dengan Teheran melalui kerja sama ekonomi dan keamanan yang lebih dalam.
Apa bentuk dukungan Beijing kepada Teheran?
Dalam tulisannya, Pakar Timur Tengah asal Mesir, Doktor Nadia Helmy mengatakan, dukungan Beijing terhadap Iran mencakup kerja sama teknologi pertahanan dan diplomasi di forum internasional.
Hal ini juga mencerminkan ambisi China untuk memperluas pengaruhnya di kancah global sekaligus melindungi kepentingan strategisnya di kawasan Teluk dan jalur perdagangan utama.
"China juga memantau secara ketat sejauh mana penetrasi intelijen Israel (Mossad) ke dalam sistem keamanan Iran, terutama setelah rangkaian peristiwa sepanjang 2025 ketika Israel melancarkan serangan jauh ke wilayah Iran," katanya.
Serangan tersebut membuka celah besar dalam sistem pertahanan dan intelijen Teheran, sekaligus menjadi alarm bagi Beijing tentang kerentanan keamanan mitra strategisnya di Timur Tengah.
Dalam penilaian internalnya, kalangan pengamat militer dan intelijen China menyebut keberhasilan Mossad menembus lembaga intelijen serta fasilitas sensitif Iran sebagai pembuka “Kotak Pandora risiko keamanan global”.
Beijing menilai kemampuan Israel menanam agen, melumpuhkan sistem pertahanan udara, dan radar Iran dari dalam negeri menandai pola baru perang intelijen yang berbahaya dan berpotensi menyebar ke kawasan lain.
Sebagai respons, kerja sama teknis China–Iran meningkat signifikan. Laporan pada Juli 2025 menyebut Iran bekerja sama dengan China dan Rusia untuk menyelidiki bagaimana Israel mampu menembus basis data resmi pemerintah Iran, termasuk sistem kependudukan dan paspor. Kerja sama ini ditujukan untuk menutup celah teknologi yang dimanfaatkan Mossad dalam menyasar fasilitas militer dan nuklir Iran.
Nadia mengatakan, China juga memperkuat dukungan pada kemampuan pertahanan dan intelijen Iran melalui penyediaan satelit pengawasan. Teheran disebut mengajukan kerja sama dengan perusahaan teknologi China, seperti Chang Guang, untuk mengembangkan sistem pemantauan jarak jauh dan pengumpulan intelijen guna melacak pergerakan Israel secara lebih presisi.
Di bidang navigasi, Iran mengumumkan rencana beralih sepenuhnya ke sistem navigasi satelit China, BeiDou, sebagai pengganti GPS Amerika dan Barat.
"Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada teknologi Barat yang dianggap rentan terhadap peretasan atau sabotase. Sejumlah laporan bocor juga menyebut kesepakatan China membantu Iran membangun kembali arsenal rudal balistiknya pascaserangan Israel pada 2025," tulisnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bendera-Iran-Teheran.jpg)