Trump Cap New START Cacat, Tolak Perpanjangan Pakta Nuklir Rusia-AS
Trump menolak perpanjangan pakta nuklir Rusia-AS, menilai New START cacat. Langkah ini memicu kekhawatiran global akan bangkitnya perlombaan nuklir.
Ringkasan Berita:
- Trump menolak perpanjangan New START dengan alasan perjanjian tersebut cacat, ketinggalan zaman, dan dinilai merugikan kepentingan strategis AS.
- Putin menawarkan perpanjangan satu tahun sebagai langkah sementara untuk menjaga stabilitas global, sekaligus menunjukkan komitmen Rusia terhadap pengendalian senjata nuklir internasional.
- Berakhirnya New START memicu kekhawatiran global karena hilangnya batasan hukum, mekanisme verifikasi, dan meningkatnya risiko perlombaan senjata nuklir.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak seruan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memperpanjang pembatasan penempatan senjata nuklir strategis setelah berakhirnya Perjanjian New START.
Trump menilai kesepakatan nuklir era sebelumnya itu sebagai perjanjian yang “cacat” dan tidak lagi relevan dengan dinamika keamanan global saat ini.
Melalui akun Truth Social miliknya, Trump menyebut New START sebagai perjanjian yang dinegosiasikan dengan buruk dan diklaim telah dilanggar secara terang-terangan.
Ia mendorong agar Amerika Serikat dan Rusia segera membuka perundingan baru guna merumuskan kesepakatan nuklir yang lebih modern dan lebih menguntungkan bagi kepentingan nasional AS.
Ia menyatakan bahwa para ahli nuklir dari kedua negara seharusnya duduk bersama untuk menyusun perjanjian baru yang mampu bertahan dalam jangka panjang dan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi persenjataan modern.
Putin Ajak Trump Perpanjang Pakta
Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengusulkan perpanjangan sukarela atas pembatasan penempatan senjata nuklir strategis yang diatur dalam New START.
Putin bahkan menyatakan kesediaannya untuk tetap mematuhi perjanjian tersebut selama satu tahun tambahan jika Washington memberikan komitmen serupa.
Dengan adanya pembatasan senjata, Moskow menilai ketegangan dapat diredam sekaligus memberi waktu bagi kedua negara untuk membuka kembali jalur dialog.
Langkah itu juga dimaksudkan sebagai sinyal politik bahwa Rusia masih mengedepankan diplomasi dan tidak ingin dianggap sebagai pihak yang meruntuhkan sistem pengendalian senjata nuklir dunia.
Baca juga: Rusia: Kami Punya Kebebasan Bertindak Setelah Berakhirnya Perjanjian Nuklir dengan Amerika
Melalui tawaran tersebut, Moskow ingin menunjukkan komitmen pada aturan internasional sambil mendorong Amerika Serikat ikut bertanggung jawab.
Di mana dalam Perjanjian itu ruang gerak Amerika Serikat untuk menambah kekuatan nuklirnya akan dibatasi, sehingga keseimbangan strategis tetap terjaga dan tidak sepenuhnya menguntungkan Washington.
Namun, tawaran itu diabaikan oleh pemerintahan Trump, karena New START dinilai sudah tidak relevan dan merugikan kepentingan AS.
Sekilas tentang Perjanjian New START
Mengutip dari Al Jazeera, perjanjian New START merupakan kesepakatan pengendalian senjata nuklir strategis antara Amerika Serikat dan Rusia yang bertujuan membatasi jumlah persenjataan nuklir paling mematikan milik kedua negara.
Perjanjian ini menjadi salah satu pilar utama stabilitas keamanan global sejak ditandatangani pada 2010.
New START hadir guna membatasi masing-masing negara hanya boleh memiliki maksimal 1.550 hulu ledak nuklir yang dikerahkan, serta tidak lebih dari 700 sistem peluncur strategis, termasuk rudal balistik antarbenua, rudal yang diluncurkan dari kapal selam, dan pesawat pembom berat.
Kesepakatan ini juga mengatur mekanisme verifikasi, seperti inspeksi timbal balik dan pertukaran data, untuk memastikan kepatuhan kedua pihak.
Perjanjian tersebut mulai berlaku pada 2011 dan awalnya dirancang untuk berjalan selama 10 tahun.
Pada 2021, Amerika Serikat dan Rusia sepakat memperpanjangnya selama lima tahun, menjadikannya satu-satunya perjanjian pengendalian senjata nuklir besar yang masih tersisa di antara dua kekuatan nuklir terbesar dunia.
Berakhirnya Perjanjian New START sontak memicu kekhawatiran serius di kalangan komunitas internasional karena hilangnya satu-satunya kerangka hukum yang selama ini membatasi persenjataan nuklir strategis Amerika Serikat dan Rusia.
Tanpa perjanjian tersebut, kedua negara tidak lagi terikat pada batas maksimum jumlah hulu ledak nuklir dan sistem peluncur yang boleh dikerahkan.
Situasi ini dikhawatirkan dapat memicu perlombaan senjata nuklir baru, serupa dengan era Perang Dingin.
Selain itu, berakhirnya New START juga menghapus mekanisme verifikasi dan inspeksi timbal balik. Selama perjanjian masih berlaku, kedua negara secara rutin bertukar data dan mengizinkan inspeksi untuk memastikan kepatuhan.
Tanpa mekanisme tersebut, tingkat transparansi menurun drastis dan risiko salah tafsir terhadap langkah militer masing-masing pihak meningkat.
Dampak lain yang mengemuka adalah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Negara-negara lain, terutama yang memiliki atau berambisi mengembangkan senjata nuklir, dapat menilai runtuhnya New START sebagai melemahnya komitmen negara besar terhadap pengendalian senjata.
Hal ini berpotensi mendorong negara lain untuk memperkuat kemampuan nuklirnya sendiri.
(Tribunnews.com / Namira)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.